Puluhan Seniman Adu Kritik dan Aspirasi di Lomba Mural Polresta Malang Kota

Sudut-sudut di Gedung Malang Creative Center (MCC) Kota Malang berubah menjadi ruang kritik, aspirasi, sekaligus pesan sosial dalam ajang Lomba Mural yang digelar Polresta Malang Kota.

Mei 25, 2026 - 14:31
Puluhan Seniman Adu Kritik dan Aspirasi di Lomba Mural Polresta Malang Kota

MALANG - Sudut-sudut di Gedung Malang Creative Center (MCC) Kota Malang berubah menjadi ruang kritik, aspirasi, sekaligus pesan sosial dalam ajang Lomba Mural yang digelar Polresta Malang Kota, Senin (25/5/2026). Sebanyak 47 peserta dari berbagai daerah berlomba menuntaskan karya penuh makna hanya dalam waktu empat jam.

Mengusung tema “Suara Kita”, kompetisi ini menjadi panggung bagi para seniman untuk menyuarakan keresahan masyarakat lewat visual. Beragam isu diangkat dalam mural, mulai dari kemacetan Kota Malang jika tanpa kehadiran polisi, gerakan penghijauan untuk menekan polusi udara, pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup hingga soal penegakan keadilan.

Salah satu karya yang paling mencuri perhatian datang dari kolaborasi Sobkhi, seniman asal Pemalang, bersama Robi Wijaya dari Sukun, Kota Malang. Keduanya menghadirkan mural bertema penegakan hukum yang digambarkan melalui sosok “Ratu Keadilan”.

Dalam mural tersebut, mereka menampilkan simbol timbangan dengan dua jenis bulu berbeda, yakni bulu merak dan bulu bebek, sebagai pesan agar hukum ditegakkan tanpa memandang status sosial.

Polresta Malang Kota 2

“Jangan pandang bulu dalam menimbang. Ini ada bulu merak sama bulu bebek, jadi kita tidak boleh pandang bulu dalam menimbang. Hukum itu jangan melihat siapa yang melakukan kesalahan, tapi melihat kesalahannya. Harus adil,” ujar Sobkhi, Senin (25/5/2026).

Pesan itu semakin diperkuat dengan visual pion catur di bagian bawah mural yang melambangkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari penyandang difabel, petani, aktivis lingkungan, hingga pelaku kejahatan seperti koruptor dan perampok. Pada bagian bawah karya tersebut tertulis kalimat tegas, “Belenggu yang salah, merdekakan yang benar.”

Disisi lain, Robi Wijaya mengungkapkan, konsep mural itu telah dipersiapkan matang sejak satu minggu sebelum perlombaan dimulai. Menurutnya, tantangan terbesar bukan menyatukan ide, melainkan berpacu dengan waktu.

“Sebelumnya kita menyiapkan konsepnya, desainnya apa, supaya sesuai dengan tema yang dilombakan,” ungkap Robi.

Ia menyebut, mural dengan detail kompleks biasanya membutuhkan waktu pengerjaan lima hingga enam jam. Namun dalam lomba tersebut, seluruh peserta diwajibkan menyelesaikan karya hanya dalam empat jam.

“Ini harus ngebut, karena waktunya hanya 4 jam,” ucapnya.

Polresta Malang Kota 3

Sementara, Kapolresta Malang Kota, Putu Kholis Aryana menyebutkan, lomba mural digelar sebagai ruang berekspresi bagi masyarakat dan komunitas seni.

“Tujuannya ingin memberi ruang kepada masyarakat, kepada komunitas di Kota Malang termasuk di tempat lain untuk berekspresi dalam seni mural,” tegas Putu.

Menurutnya, berbagai kritik dan pesan yang dituangkan para seniman melalui mural justru akan menjadi bahan evaluasi bagi jajaran Polresta Malang Kota untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

“Nanti hasil-hasilnya akan juga jadi inspirasi bagi Polresta Malang Kota untuk bekerja lebih baik lagi ke depan,” pungkasnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow