PUBMSDA Sidoarjo Beberkan Kendala Frontage Road Waru-Buduran
Dinas PUBMSDA Sidoarjo mengevaluasi mandeknya proyek frontage road Waru-Buduran tahun 2025 yang hanya terealisasi 10 meter akibat kendala pembebasan lahan.
SIDOARJO - Pembangunan frontage road Waru-Buduran pada tahun 2025 diakui belum maksimal. Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (PUBMSDA) Kabupaten Sidoarjo mengungkapkan bahwa kendala utama yang dihadapi di lapangan adalah proses pembebasan lahan yang belum tuntas.
"Sudah kami lakukan evaluasi, ternyata kendala di pembebasan lahan, sehingga pembangunannya tidak bisa dikerjakan," ujar Kepala Dinas PUBMSDA Sidoarjo, Makhmud, Kamis (21/5/2026).
Makhmud, yang baru menjabat pada Januari 2026 lalu, menambahkan bahwa pembangunan frontage road pada tahun ini akan difokuskan di bagian selatan, tepatnya dari kawasan Buduran hingga tembus ke Jenggolo dengan panjang sekitar 70 meter.
Selanjutnya, proyek akan dilanjutkan di sisi selatan, termasuk area rumah dinas PT KAI sepanjang sekitar 50 meter dan beberapa sektor lainnya. "Target kami tahun ini, itu yang terbangun," ucapnya.
Fokus Penuntasan Lahan dan Makam
Selain pembangunan fisik jalan, mantan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Sidoarjo tersebut menyatakan bahwa pihaknya juga akan menuntaskan lahan pengganti makam di Desa Waru dan Desa Kedungrejo, termasuk pembangunan jembatan.
"Insyaallah tahun ini tuntas semua. Kalau yang di makam Waru dan Kedungrejo, kemungkinan dibangun tahun depan," kata Makhmud.
Ia membeberkan alasan mengapa realisasi pembangunan frontage road pada tahun lalu hanya mencapai 10 meter dari target 700 meter. Menurutnya, lahan yang benar-benar klir dan siap untuk dibangun secara fisik memang hanya sepanjang 10 meter tersebut.
"Komitmen kami, yang belum dibangun kemarin, bisa dituntaskan tahun ini," tegasnya.
Sorotan DPRD Sidoarjo Atas Anjloknya Capaian
Berdasarkan dokumen Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Sidoarjo tahun anggaran 2025, total pembangunan frontage road sejak tahun 2021 hingga 2025 telah mencapai sekitar 7.778,9 meter.
Rinciannya, pada tahun 2021 terealisasi sepanjang 1.290 meter, kemudian meningkat drastis pada 2022 menjadi 3.003,9 meter. Pada tahun 2023, capaian turun menjadi 1.093 meter, dan kembali naik pada 2024 menjadi 2.391 meter.
Namun, memasuki tahun 2025, capaian sisa proyek tersebut menurun drastis. Dari target 700 meter, Dinas PUBMSDA Sidoarjo hanya mampu merealisasikan pembangunan fisik sepanjang 10 meter karena kendala lahan tersebut.
Menanggapi hal itu, Ketua Komisi C DPRD Sidoarjo, Choirul Hidayat, menilai capaian tahun 2025 sangat minim dan jauh dari ekspektasi. Ia menegaskan, kondisi ini harus diseriusi karena menyangkut kebutuhan infrastruktur dasar masyarakat.
"Kalau melihat tren sebelumnya, capaian bisa ribuan meter per tahun. Tapi di 2025 hanya 10 meter. Ini jelas ada yang tidak berjalan sebagaimana mestinya," ujar pria yang akrab disapa Dayat ini.
Dayat meminta Dinas PUBMSDA Sidoarjo segera melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari tahap perencanaan, penganggaran, hingga pelaksanaan di lapangan. Ia juga mendesak adanya transparansi terkait kendala yang dihadapi.
"Harus dibuka apa masalahnya. Apakah di pembebasan lahan, perencanaan yang tidak matang, atau faktor teknis lainnya. Jangan sampai target hanya jadi angka di atas kertas," pungkasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?