Produksi Garam Tunnel Sumberoto Kabupaten Malang Tembus 8 Ton per Bulan
Inovasi produksi garam menggunakan metode tunnel di pesisir selatan Kabupaten Malang mulai menunjukkan hasil signifikan. Di Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo produktivitas garam tunnel kini meningk
MALANG - Inovasi produksi garam menggunakan metode tunnel di pesisir selatan Kabupaten Malang mulai menunjukkan hasil signifikan. Di Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo produktivitas garam tunnel kini meningkat tajam hingga mencapai 8 ton per bulan.
Proses produksi garam yang dikelola kelompok Sumberoto Makmur Sejahtera menggunakan metode Greenhouse Salt Tunnel (GST) dan Continuously Dynamic Mixing (CDM). Berbeda dengan metode tradisional, sistem tunnel menggunakan rangka tertutup plastik UV yang memungkinkan proses pengkristalan air laut berlangsung lebih cepat dan stabil meski kondisi cuaca berubah.
Perkembangan tersebut mendapat perhatian langsung dari Bupati Malang HM Sanusi. Menurut Sanusi, perkembangan produksi garam di Desa Sumberoto menunjukkan peningkatan signifikan dibanding awal pengembangan program.
“Produksi garam tunnelnya sudah berkembang, mulai dari 1 hingga 2 ton. Saat ini, per bulan sudah mencapai 8 ton dengan harga Rp3 ribu per kilogram, dari awalnya Rp1.500 per kilogram,” ujar Sanusi.
Dengan peningkatan produksi dan harga jual tersebut, omzet garam tunnel di Sumberoto kini mencapai sekitar Rp24 juta per bulan. Sementara biaya produksi diperkirakan hanya sekitar Rp4 juta.
“Sehingga per bulan dapat omset produksi Rp24 juta, dengan biaya produksi sekitar Rp4 juta. Dengan demikian, dapat berpenghasilan Rp20 juta per bulan,” katanya.
Melihat perkembangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Malang berencana memperluas kapasitas produksi garam tunnel di wilayah pesisir selatan.
“Tahun depan Pemkab Malang akan membantu untuk meningkatkan pengembangan produksi hingga dua kali lipat,” tegasnya.
Saat ini, dukungan pemerintah terhadap pengembangan garam tunnel di Sumberoto terus dilakukan melalui bantuan sarana produksi. Pemerintah Kabupaten Malang telah memberikan hibah sebanyak 32 unit green house tunnel, sedangkan pemerintah pusat melalui APBN menambah dukungan sebanyak 10 unit tunnel.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring sebelumnya menjelaskan bahwa metode Greenhouse Salt Tunnel (GST) menjadi solusi pengembangan produksi garam di wilayah selatan Malang yang memiliki curah hujan cukup tinggi.
Melalui sistem tunnel tertutup plastik UV, proses produksi garam tidak lagi terlalu bergantung pada panas matahari secara langsung seperti metode tradisional.
Selain itu, teknologi Continuously Dynamic Mixing (CDM) juga membantu meningkatkan kualitas kristal garam karena proses sirkulasi air laut berlangsung lebih stabil.
Dinas Perikanan Kabupaten Malang menyebut garam tunnel produksi Sumberoto memiliki kualitas cukup tinggi dengan kadar NaCl di atas 95 persen. Warna garam yang lebih putih juga menjadi nilai tambah sehingga diminati pasar.
Potensi pasar garam tunnel disebut masih sangat terbuka. Bahkan seluruh hasil produksi petani saat ini masih mampu diserap pasar dengan harga berkisar Rp2.500 hingga Rp3 ribu per kilogram.
Permintaan pasar yang terus meningkat membuat kelompok petani berharap jumlah tunnel produksi dapat terus ditambah agar kapasitas produksi semakin besar.
Pengembangan garam tunnel di Desa Sumberoto juga dinilai menjadi salah satu contoh inovasi ekonomi pesisir di Kabupaten Malang. Selain meningkatkan nilai jual hasil produksi garam, metode tersebut membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.
Dengan dukungan teknologi dan pasar yang terus berkembang, garam tunnel Sumberoto kini tidak hanya menjadi produk unggulan lokal, tetapi juga mulai diproyeksikan sebagai salah satu potensi ekonomi pesisir baru di Kabupaten Malang. (*)
Apa Reaksi Anda?