Politik Digital dan Suara Mahasiswa Jadi Sorotan dalam Seminar Legislatif DPM FISIP UNMER Malang
Perkembangan media sosial yang semakin masif dinilai membawa perubahan besar terhadap pola partisipasi politik generasi muda, khususnya mahasiswa.
MALANG - Perkembangan media sosial yang semakin masif dinilai membawa perubahan besar terhadap pola partisipasi politik generasi muda, khususnya mahasiswa. Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam Seminar Legislatif yang diselenggarakan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FISIP Universitas Merdeka Malang, Sabtu (9/5/2026).
Mengangkat tema “Transformasi Digital dalam Politik Mahasiswa: Media Sosial Membuka Partisipasi atau Justru Membentuk Polarisasi?”, kegiatan ini menghadirkan Anggota Komisi IV DPRD Kota Malang, Zulham Akhmad Mubarrok sebagai pemateri utama. Seminar dipandu oleh I Made Arie Widyasthana Wartana Putra, S.IP., M.KP dan turut dihadiri Wakil Dekan I FISIP UNMER Malang Rochmad, Ketua Pelaksana Niken Adelia, serta Ketua Umum DPM FISIP Ayu Nadira.
Dalam pemaparannya, Zulham menyoroti bagaimana media sosial telah mengubah cara mahasiswa menyampaikan aspirasi dan terlibat dalam isu politik. Menurutnya, ruang digital kini menjadi arena baru bagi demokrasi sekaligus medan yang rawan konflik opini.
“Mahasiswa saat ini bukan hanya menjadi target politik, tetapi juga pemain dalam ekosistem politik digital,” ujarnya di hadapan peserta seminar.
Ia menjelaskan bahwa media sosial memberikan ruang yang luas bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik maupun pendapat terhadap kebijakan publik. Namun, di balik kebebasan tersebut, muncul berbagai tantangan seperti polarisasi, penyebaran disinformasi, hingga fenomena echo chamber yang memengaruhi sudut pandang masyarakat melalui algoritma media sosial.
“Media sosial memang membuka akses partisipasi yang lebih luas, tetapi jika tidak disikapi dengan kritis justru bisa membentuk polarisasi di tengah masyarakat,” jelasnya.
Selain membahas politik digital, seminar juga menyoroti pentingnya literasi digital di kalangan mahasiswa. Zulham menekankan bahwa kemampuan memilah informasi menjadi hal yang sangat penting di era banjir informasi saat ini.
Ia mendorong mahasiswa untuk membiasakan diri melakukan verifikasi informasi melalui platform pemeriksa fakta serta meningkatkan keamanan akun digital menggunakan fitur Two-Factor Authentication (2FA), biometrik, dan penggantian kata sandi secara berkala.
“Setiap aktivitas di media sosial meninggalkan jejak digital. Apa yang kita unggah hari ini bisa memengaruhi kehidupan akademik maupun profesional di masa depan,” katanya.
Suasana seminar semakin interaktif ketika memasuki sesi diskusi. Sejumlah mahasiswa menyampaikan pertanyaan terkait kebebasan berpendapat di media sosial hingga reformasi pelayanan publik berbasis digital. Menanggapi hal tersebut, Zulham menegaskan bahwa mahasiswa harus tetap aktif mengawal kebijakan publik dan tidak hanya bergantung pada gerakan di ruang digital.
“Gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti hanya karena adanya pembatasan di ruang digital. Mahasiswa tetap harus membangun ruang diskusi dan advokasi secara langsung di tengah masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan sosial di tengah derasnya perkembangan teknologi informasi.
“Mahasiswa memiliki peran penting sebagai pengawas kebijakan publik sekaligus agen perubahan sosial di era transformasi digital,” pungkasnya.
Melalui seminar ini, DPM FISIP UNMER Malang berharap mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna media sosial secara pasif, tetapi juga mampu memanfaatkan ruang digital secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab dalam kehidupan demokrasi. (*)
Apa Reaksi Anda?