Kru Bus Lecehkan Penumpang Saat Perjalanan Malang - Denpasar
Dugaan pelecahan terhadap perempuan di moda transportasi bus menggegerkan jagad maya. Peristiwa memilukan tersebut dialami oleh perempuan berinisial R (24) saat bepergian menggunakan bus MTrans tujuan
MALANG - Dugaan pelecahan terhadap perempuan di moda transportasi bus menggegerkan jagad maya. Peristiwa memilukan tersebut dialami oleh perempuan berinisial R (24) saat bepergian menggunakan bus MTrans tujuan Malang - Denpasar.
R menceritakan secara rinci kronologi pelecehan yang ia alami melalui akun Threads @r.linzhao beberapa waktu lalu. Saat dikonfirmasi oleh TIMES Indonesia, R membenarkan pengakuannya dan mengizinkan kronologi yang dituangkan dalam media sosial tersebut dikutip.
R menceritakan, ia berperguan menuju Denpasar dari Malang menggunakan bus MTrans pada 12 Juli 2026 lalu. Saat itu, R sengaja memilih kursi 7C karena sebelumnya ia sempat bertanya kepada petugas loket, kursi mana yang duduk bersebelahan sesaman perempuan.
Bus berangkat dari Malang ke Denpasar sekitar pukul 19.20 WIB. Saat itu, R yang berharap bakal duduk bersebelahan dengan sesama perempuan, ternyata kursi tersebut kosong dan hanya diisi oleh dirinya di barisan nomor 7.
Ketakutan R pun terjadi, seorang kru bus tiba-tiba mengirimkan pesan WhatsApp (WA) kepada R untuk menawarkan bantuan menarik sandaran agar lebih nyaman saat tidur.
R yang saat itu mengira hal tersebut adalah pelayanan dari armada bus, mengiyakan tawaran kru itu. R pun setelag melihat pesan WA tersebut, seketika terlelap dengan tubuh ditutupi selimut, karena kondisi malam dan udara dingin.
R mendadak terbangun saat ada seseorang menepuk tubuhnya. Orang yang menepuk tersebut adalah kru bus, R pun bergeser karena mengira bahwa kru bus tersebut mencoba membenarkan posisi kursi agar bisa lebih nyaman.
Tapi, bukan itu yang terjadi. Kru bus tersebut tiba-tiba duduk di kursi kosong sebelah R. Kru tersebut juga langsung mengambil selimut yang digunakan R dan mulai melakukan tindakan diluar batas privasi.
R dalam ceritanya mengaku bahwa rambutnya dibelai oleh kru tersebut dan bilang kepada R bahwa rambutnya berantakan.
Mendapat perlakuan tersebut, R pun langsung menepis tangan kru bus itu. Namun, kru bus tersebut bukannya pergi, malah semakin mendekat dan memegang R agar dirinya mau tidur bersandar di bahu kru bus tersebut.
Yang membuat R semakin takut, kru bus tersebut tidur tepat di sebelah R sambil beberapa kali menempelkan kakinya kepada R.
“Kenapa aku tidak teriak, jawabannya sederhana, kejadian itu tengah malam sampai terang, aku sendiri dan bus lagi jalan, aku capek banget dan aku gak tahu dia bakal bereaksi apa kalau aku melawan. Jadi yang aku lakukan cuma bertahan sampai tujuan, kemudian lapor,” ujar R seperti yang dilihat TIMES Indonesia, Selasa (14/7/2026).
Begitu bus tiba di terminal tujuan yakni Denpasar, Bali pada Minggu (12/7/2027). R bergegas mendatangi kantor MTrans Bali untuk membuat laporan resmi.
Pihak manajemen merespons dengan memfasilitasi pembuatan video permintaan maaf dari kru serta menonaktifkannya sementara waktu sembari menunggu keputusan dari kantor pusat.
R juga sempat ditawari untuk melakukan mediasi dan bertemu langsung dengan pelaku, namun ia menolak keras karena merasa sangat muak dan terguncang secara psikologis.
"Aku juga sempat ditawari ketemu langsung sama dia (kru), tapi aku nolak karena jujur aku udah muak lihat mukanya dan cuma pengen cepat pulang. Manajemen M Trans bilang menonaktifkan sementara sambil menunggu keputusan dari pusat," tegasnya.
Awalnya, R mengira kasusnya telah selesai secara internal. Namun, rasa mengganjal di hatinya mendorongnya untuk membagikan pengalaman pahit tersebut di media sosial Instagram miliknya.
Keputusan berani ini ternyata membuka kotak pandora yang mengejutkan. Tak lama setelah unggahannya viral, kotak masuk pesan singkat dan WhatsApp miliknya dibanjiri oleh pesan dari perempuan-perempuan lain yang mengalami modus serupa dari kru bus yang sama di rute tersebut.
Salah satu korban menceritakan pengalamannya saat bepergian sehari sebelum keberangkatan R, tepatnya pada 23 Juni 2026.
Penumpang tersebut, yang bepergian bersama adik perempuan dan anaknya yang masih balita, tiba-tiba dipanggil turun dari bus dengan dalih khawatir bagasinya tertukar.
"Pas turun ternyata cuma ditanya nomor HP. Aku gak kasih. Tapi setelah itu kok malah ada WhatsApp masuk. Aku jadi kepikiran nomor itu didapat dari mana. Jujur aku ngerasa diteror," tulis salah satu korban lain dalam pesannya kepada R
Banyaknya kesaksian serupa yang masuk memperkuat dugaan bahwa tindakan kru tersebut bukanlah sebuah kekhilafan satu kali, melainkan pola perilaku yang kerap berulang dan menyasar para penumpang perempuan yang bepergian sendiri atau tanpa pelindung laki-laki.
"Saya mau pelaku dipidana, karena korbannya banyak ternyata," harapnya.
Setelah peristiwa ini, R pun mengaku sangat trauma. R yang berasal dari Malang dan bekerja di Bali, jika harus melakukan perjalanan kembali, memilih untuk menggunakan moda transportasi lain atau bus dari perusahaan lainnya.
“Saya trauma naik MTrans, padahal saya langganan banget. Saya bakal pindah ke yang lain,” ucap R kepada TIMES Indonesia.
Saat berita ini ditulis, TIMES Indonesia juga masih mencoba untuk meminta konfirmasi kepada pihak Mtrans. (*)
Apa Reaksi Anda?