PG Kebon Agung Gelar Selamatan Giling 2026, Perkuat Semangat Swasembada Gula
PG Kebon Agung menggelar Selamatan Giling 2026 dengan karawitan Madu Laras sebagai upaya melestarikan budaya sekaligus mendukung target swasembada gula 2028.
MALANG - Pabrik Gula (PG) Kebon Agung menggelar acara Selamatan Giling 2026 yang dimeriahkan penampilan karawitan Madu Laras dari PERWAKA (Persatuan Wanita Kebon Agung), Jumat (15/5/2026). Kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus ungkapan rasa syukur menjelang proses giling tahun ini.
Pimpinan PG Kebon Agung, Ivo Verginanto, mengatakan tradisi selamatan giling telah menjadi bagian dari budaya yang secara turun-temurun terus dijaga dan dilestarikan perusahaan.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan upaya mempertahankan warisan budaya bangsa yang selama ini melekat dalam tradisi industri gula, khususnya di lingkungan PG Kebon Agung.
"Istilahnya nguri-uri budaya Jawa sebagai warisan nenek moyang kita sebagai bangsa Indonesia," ujarnya.
Pada kegiatan tersebut, seluruh pengrawit berasal dari ibu-ibu PERWAKA yang merupakan istri para karyawan PG Kebon Agung dan tergabung dalam kelompok karawitan Madu Laras.
Selain itu, seluruh panitia dan pengisi acara juga berasal dari internal PG Kebon Agung yang memiliki visi bersama dalam memperkuat hubungan antara perusahaan dan petani.
Kegiatan selamatan giling tersebut juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan melalui doa bersama yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari karyawan, petani, kontraktor, perbankan, hingga masyarakat sekitar pabrik.
Melalui kegiatan itu, PG Kebon Agung berharap proses giling tahun 2026 berjalan lancar serta memberikan manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan.
Pada musim giling tahun ini, PG Kebon Agung mengusung tema "Satu Jiwa Bersama Meraih Swasembada".
Ivo menjelaskan, tema tersebut sejalan dengan program pemerintah yang menargetkan swasembada gula konsumsi pada tahun 2028. Menurutnya, keberhasilan mencapai target tersebut sangat bergantung pada sinergi yang kuat antara perusahaan, petani, dan regulator.
"Untuk mencapai target pemerintah menuju swasembada gula konsumsi tahun 2028 dibutuhkan persamaan visi dan persepsi antara perusahaan, petani, dan regulator melalui semangat Satu Jiwa," katanya. (*)
Apa Reaksi Anda?