Korban Jiwa KM Nurul Salsa Bertambah, 16 Penumpang Masih Hilang Sepekan Pascatenggelam

Korban tewas KM Nurul Salsa bertambah menjadi tiga orang. Hingga sepekan pascakecelakaan, 16 penumpang masih dalam pencarian, sementara polisi menyelidiki dugaan kelebihan muatan dan kelalaian.

Juli 22, 2026 - 12:30
Korban Jiwa KM Nurul Salsa Bertambah, 16 Penumpang Masih Hilang Sepekan Pascatenggelam

MAKASSAR - Sepekan setelah KM Nurul Salsa tenggelam di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Tim SAR Gabungan masih melanjutkan operasi pencarian korban. Hingga Rabu (22/7/2026), sebanyak 16 penumpang dilaporkan masih belum ditemukan.

Pada Selasa (21/7/2026) petang, Tim SAR Gabungan menemukan satu jenazah mengapung di sekitar Pulau Sanana Besar, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Jenazah tersebut diduga merupakan salah satu penumpang KM Nurul Salsa.

Sebelumnya, pada hari yang sama sekitar pukul 08.45 WITA, nelayan juga menemukan satu jenazah terapung di perairan sekitar Pulau Pamulikang. Kedua jenazah telah dievakuasi untuk proses identifikasi.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengatakan identitas korban belum dapat dipastikan hingga proses identifikasi selesai.

"Tim KN SAR Pacitan dan KN SAR Kamajaya langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan evakuasi. Selanjutnya akan dilakukan proses identifikasi sesuai prosedur di RS Bhayangkara Makassar. Kami belum dapat memastikan identitas korban sebelum proses tersebut selesai," ujar Arif, dikutip dari akun resmi Basarnas Makassar, Rabu (22/7/2026).

Dengan penemuan tersebut, dari total 78 orang yang berada di atas kapal, sebanyak 59 orang dinyatakan selamat, tiga orang meninggal dunia, dan 16 orang masih dalam pencarian.

Basarnas memperpanjang operasi pencarian selama tiga hari ke depan. Pencarian melibatkan Basarnas, TNI, Polri, nelayan, serta masyarakat setempat.

Kronologi Tenggelamnya KM Nurul Salsa

KM Nurul Salsa tenggelam pada Rabu (15/7/2026) saat berlayar dari Pulau Jampea menuju Benteng, Kepulauan Selayar. Kapal berangkat sekitar pukul 05.00 WITA dengan membawa puluhan penumpang.

Pelayaran awalnya berlangsung normal. Namun, saat berada di perairan sebelah barat Pulau Polassi, sekitar 43 mil laut atau sekitar 80 kilometer dari Pelabuhan Benteng, kapal mengalami mati mesin.

Kapal kemudian terombang-ambing akibat gelombang tinggi hingga akhirnya tenggelam di perairan Laut Flores.

Kementerian Perhubungan menyatakan setelah menerima laporan gangguan mesin, Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Jampea segera berkoordinasi dengan Basarnas Selayar, Stasiun Radio Pantai (SROP) Selayar, Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan, UPTD Pelabuhan Pengumpan Selayar, serta instansi terkait untuk melakukan evakuasi dan penanganan darurat.

Kemenhub juga membuka Posko Pengaduan guna memudahkan koordinasi dan penyampaian informasi kepada keluarga korban selama proses penanganan berlangsung.

Polisi Selidiki Dugaan Kelalaian

Polda Sulawesi Selatan masih menyelidiki dugaan kelalaian dalam insiden tenggelamnya KM Nurul Salsa. Sebanyak 21 saksi telah diperiksa, terdiri atas nakhoda, anak buah kapal (ABK), agen pelayaran, hingga pihak syahbandar.

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto mengatakan penyidik belum menetapkan tersangka karena proses penyelidikan masih berlangsung.

"Pemeriksaan 21 orang saksi, mulai dari nakhoda, ABK, pihak agen pelayaran, dan pihak syahbandar. Ini masih dalam proses penyelidikan, jadi belum ditentukan siapa tersangkanya," ujarnya.

Polisi menyatakan pasal yang berpotensi diterapkan apabila ditemukan unsur pidana meliputi Pasal 474 ayat (2) KUHP tentang kealpaan yang menyebabkan kematian, Pasal 551 huruf a KUHP terkait dugaan pemalsuan dokumen, serta Pasal 20 KUHP mengenai penyertaan tindak pidana.

Dugaan Kelebihan Muatan

Penyelidikan juga mengungkap adanya dugaan kelebihan muatan. Berdasarkan manifes, kapal tercatat mengangkut 45 penumpang. Namun, hasil pendataan korban menunjukkan jumlah penumpang mencapai 76 orang.

"Dari situ ada kelebihan muatan, karena di manifes 45 orang, ternyata 76 orang berada di atas KM Nurul Salsa. Salah satunya diduga terkait manipulasi data manifes," kata Didik.

Selain dugaan kelebihan muatan, penyidik juga mendalami kondisi teknis kapal, termasuk informasi mengenai mesin yang mengalami kerusakan sebelum kapal tenggelam.

Proses Identifikasi Korban

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulsel Kombes Muhammad Haris mengatakan tim Disaster Victim Identification (DVI) telah mengumpulkan data antemortem dari keluarga korban di Selayar.

Identifikasi dilakukan melalui sidik jari apabila kondisi jenazah masih memungkinkan. Sementara untuk jenazah dengan kondisi rusak berat, identifikasi akan menggunakan data gigi maupun pemeriksaan DNA.

Proses tersebut melibatkan ahli forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas). Tim forensik dari Pusdokkes Polri juga dijadwalkan bergabung untuk mempercepat proses identifikasi korban. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow