Perkuat Benteng Moral, Pemkab Solok Sosialisasi Pekat dan Narkoba di MTsN 7 Solok
Langkah preventif terus digencarkan Pemkab Solok melalui berbagai pendekatan, salah satunya lewat sosialisasi yang menyasar langsung lingkungan pendidikan.
SOLOK - Ancaman penyakit masyarakat (pekat) dan penyalahgunaan narkoba yang kian mengintai generasi muda menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Solok (Pemkab Solok).
Tidak ingin persoalan ini semakin meluas, langkah preventif terus digencarkan melalui berbagai pendekatan, salah satunya lewat sosialisasi yang menyasar langsung lingkungan pendidikan.
Kegiatan sosialisasi tersebut digelar di MTsN 7 Solok, Tanjung Balik, Kecamatan X Koto Diatas, dengan melibatkan berbagai unsur penting mulai dari pemerintah daerah, Kementerian Agama, hingga tokoh masyarakat.
Hadir di kegiatan ini Wakil Bupati Solok H Candra, SHI, Kepala Kantor Kemenag Solok H Zulkifli, SAg., MM, Camat X Koto Diatas, Ketua Koordinator Wilayah TK dan SD, Kepala KUA, kepala madrasah dan sekolah, majelis guru, penyuluh agama, serta para penghulu se-Kecamatan X Koto Diatas.
Degradasi Moral yang Mengkhawatirkan
Dalam pemaparannya, Kakankemenag Kabupaten Solok H. Zulkifli tidak menutup mata terhadap realita yang terjadi.
Ia secara tegas mengungkap bahwa persoalan degradasi moral saat ini sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan, bahkan tidak lagi terbatas pada kalangan peserta didik.
Menurutnya, berbagai kasus pelanggaran etika telah terjadi di lingkungan pendidikan, mulai dari hubungan tidak pantas, penyalahgunaan wewenang, hingga perilaku menyimpang yang mencoreng marwah dunia pendidikan itu sendiri.
“Ini bukan lagi persoalan kecil. Ketika tenaga pendidik yang seharusnya menjadi teladan justru terlibat dalam pelanggaran moral, maka ini adalah alarm keras bagi kita semua,” tegasnya.
Ia menambahkan, fenomena tersebut membuktikan bahwa tingginya pendidikan formal tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas moral seseorang. Justru dalam banyak kasus, pelaku berasal dari kalangan yang memiliki latar belakang pendidikan yang baik.
“Masalah utamanya bukan sekadar pendidikan atau ekonomi, tetapi lemahnya mental dan rapuhnya iman. Karena itu, penguatan karakter dan spiritual harus menjadi fokus utama dalam dunia pendidikan,” ujarnya.
Zulkifli juga mengingatkan bahwa lembaga pendidikan tidak boleh hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan semata, tetapi harus menjadi ruang pembentukan karakter yang kuat dan berintegritas.
Pentingnya Sinergi Seluruh Elemen
Sementara Wakil Bupati Solok H Candra menegaskan bahwa penanganan penyakit masyarakat tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan seluruh elemen, mulai dari pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, hingga masyarakat itu sendiri.
Ia mengapresiasi kegiatan sosialisasi yang dinilai sebagai langkah konkret dalam membentengi generasi muda dari berbagai pengaruh negatif yang semakin kompleks.
Menurut Wabup, ancaman seperti narkoba, pergaulan bebas, minuman keras, hingga hiburan malam yang tidak terkendali telah menjadi pintu masuk utama rusaknya moral generasi muda jika tidak diantisipasi sejak dini.
Efektivitas Kearifan Lokal
Dalam arahannya, Wabup Candra juga membagikan pengalaman nyata dari salah satu nagari di Kabupaten Solok yang dinilai berhasil menekan angka penyakit masyarakat melalui penerapan peraturan nagari (perna) berbasis kearifan lokal.
Peraturan tersebut secara tegas melarang aktivitas hiburan malam seperti organ tunggal yang selama ini kerap menjadi pemicu berbagai persoalan sosial, mulai dari konsumsi minuman keras, penyalahgunaan narkoba, hingga konflik antarwarga.
Yang menarik, penegakan aturan tersebut tidak hanya mengandalkan sanksi formal, tetapi juga sanksi sosial yang justru terbukti lebih efektif.
“Pelanggar tidak akan dihadiri dalam kegiatan adat oleh niniak mamak. Sanksi ini ternyata jauh lebih ditakuti karena menyentuh langsung posisi sosial seseorang di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Menurutnya, pendekatan berbasis adat dan kearifan lokal ini menjadi bukti bahwa solusi atas persoalan sosial tidak selalu harus bergantung pada hukum formal, tetapi bisa diperkuat melalui nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Keberhasilan nagari tersebut bahkan mendapat pengakuan dan apresiasi dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sebagai model penanganan penyakit masyarakat berbasis komunitas.
Lebih jauh, Wabup menekankan pentingnya sinergi berkelanjutan antara sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat dalam menjaga generasi muda dari pengaruh negatif.
Ia menyebut bahwa sekolah memiliki peran strategis sebagai benteng pertama dalam membentuk pola pikir, sikap, dan karakter anak sejak dini.
“Jangan hanya fokus pada capaian akademik. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mencetak generasi yang berakhlak, berkarakter, dan mampu membentengi diri dari pengaruh buruk,” tegasnya.
Menutup arahannya, Wabup Candra menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Agama beserta seluruh pihak yang telah berkontribusi aktif dalam upaya pencegahan penyakit masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Solok, kami mengucapkan terima kasih. Ini adalah kerja bersama, tanggung jawab bersama, demi menyelamatkan masa depan generasi kita,” tutupnya.
Kegiatan sosialisasi ini diharapkan tidak hanya menjadi seremonial semata, tetapi mampu menjadi titik awal penguatan kolaborasi lintas sektor dalam membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga moral generasi muda merupakan tanggung jawab bersama. (*)
Apa Reaksi Anda?