Perbedaan Tunarungu dan Tuli, Mana yang Lebih Sopan?

Pemahaman masyarakat mengenai perbedaan istilah Tuli dan Tunarungu dinilai masih rendah.

Mei 29, 2026 - 21:30
Perbedaan Tunarungu dan Tuli, Mana yang Lebih Sopan?

MALANG - Pemahaman masyarakat mengenai perbedaan istilah Tuli dan Tunarungu dinilai masih rendah. Padahal, kedua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda, baik dari sisi identitas, budaya, maupun cara pandang terhadap komunitas disabilitas pendengaran.

Hal tersebut disampaikan oleh Guru Tuli, Christabella Celline Priastian dalam kegiatan Kelas Bahasa Isyarat yang diselenggarakan oleh Eksekutif Mahasiswa (EM) Universitas Brawijaya (UB), Jumat (29/5/2026).  

Perempuan yang kerap disapa Sherly tersebut menjelaskan bahwa istilah Tunarungu berasal dari perspektif medis yang menitikberatkan pada kondisi gangguan pendengaran. Istilah tersebut, menurutnya, lebih berfokus pada kekurangan fungsi telinga.

“Tunarungu berasal dari kata ‘tuna’ yang berarti rusak dan ‘rungu’ yang berarti pendengaran. Jadi, istilah itu lebih melihat dari sisi medis atau kekurangan pendengarannya,” ujarnya menggunakan bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh juru bahasa isyarat.

Ia menambahkan bahwa istilah tersebut kerap menimbulkan kesan bahwa penyandang gangguan pendengaran harus “disembuhkan” agar dapat menjadi seperti masyarakat dengar pada umumnya.

Berbeda dengan Tunarungu, istilah Tuli disebut memiliki makna lebih dalam terkait identitas budaya dan komunitas. Komunitas Tuli memiliki bahasa, budaya, serta cara komunikasi tersendiri melalui bahasa isyarat.

“Tuli bukan kata kasar. Tuli punya identitas, budaya, dan bahasa sendiri,” tambahnya.

Sherly menjelaskan, komunitas Tuli di Indonesia menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Bahasa tersebut berkembang langsung dari komunitas Tuli dan digunakan sebagai alat komunikasi utama dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, penggunaan istilah Tuli juga menjadi bentuk penerimaan identitas dan kebanggaan komunitas terhadap budaya mereka sendiri.

“Teman-teman bisa panggil kami teman tuli ya,” ajaknya. 

Sementara itu, ia menambahkan bahwa terdapat sekitar 70 juta orang Tuli di dunia dengan lebih dari 300 bahasa isyarat yang berbeda. Di Indonesia sendiri, jumlah penyandang Tuli diperkirakan mencapai 2 hingga 3 juta orang.

Meski demikian, akses informasi dan komunikasi bagi komunitas Tuli dinilai masih belum inklusif. Sherly berharap masyarakat semakin memahami kebutuhan komunikasi teman-teman Tuli agar tercipta lingkungan yang lebih ramah disabilitas.

Dalam kebiasaan sehari-hari, Sherly melanjutkan komunikasi komunitas Tuli mengandalkan informasi visual. Mulai dari penggunaan video call, getaran telepon genggam, hingga komunikasi yang harus bertatap mata.

“Teman-teman biasanya mengandalkan suara, berbeda dengan kita, teman tuli harus mengandalkan visual untuk komunikasi,” jelasnya. 

Selain itu, Sherly ia turut menjelaskan perbedaan antara Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bisindo. Ia menyebut SIBI disusun oleh kalangan dengar dan mengikuti tata bahasa Indonesia, sedangkan Bisindo berkembang secara alami dari komunitas Tuli dengan sistem komunikasi yang lebih fleksibel.

“Bisindo berkembang dari komunitas Tuli sendiri dan menjadi bagian dari identitas budaya Tuli di Indonesia,” pungkasnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow