Pengawasan Publik Kunci Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis

Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah, Hariqo Wibawa Satria, menegaskan pentingnya pengawasan masyarakat dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk mencegah korupsi dan menjamin standar gi

Maret 5, 2026 - 22:00
Pengawasan Publik Kunci Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis

JAKARTA Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI, Hariqo Wibawa Satria, menyatakan bahwa kritik masyarakat merupakan elemen vital dalam pengawasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebagai salah satu program prioritas nasional, transparansi menjadi kunci agar pelaksanaannya berjalan optimal.

Hariqo memahami kekhawatiran publik terkait potensi penyimpangan, mulai dari risiko korupsi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga isu ketidaksesuaian menu dengan anggaran Rp10 ribu per porsi.

"Kekhawatiran masyarakat wajar karena sebelumnya kita pernah melihat korupsi di berbagai sektor, seperti haji, Al Quran, atau bantuan sosial. Namun, pengawasan MBG justru sangat ketat. Program ini unik karena masyarakat bisa langsung mengawasi," ungkap Hariqo dalam sebuah siniar di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Partisipasi Orang Tua dan Standar Gizi

Ia menegaskan bahwa masyarakat, terutama orang tua siswa, memiliki peran aktif untuk memantau kualitas makanan secara langsung. Mereka dapat mengecek menu, menghitung kalori, hingga membagikannya ke media sosial sebagai bentuk kontrol sosial.

Terkait standar gizi, Hariqo merincikan bahwa setiap porsi harus mencakup 30–35 persen kebutuhan kalori harian siswa.

"Misalnya, anak kelas 4–5 SD sekitar 2.000 kalori per hari, maka satu porsi MBG minimal sekitar 583–685 kalori. Harga bahan juga berbeda di setiap daerah, di Pulau Jawa rata-rata biaya menu Rp8.000–Rp10.000," jelasnya.

Mengenai anggaran Rp10 ribu, pemerintah optimis angka tersebut cukup untuk menyediakan bahan baku berkualitas. Hal ini dimungkinkan melalui skema pembelian skala besar langsung dari petani, peternak, dan UMKM, sehingga rantai distribusi lebih pendek dan harga tetap kompetitif.

Dampak Positif pada Sektor Pendidikan

Hariqo juga meluruskan persepsi bahwa anggaran MBG akan membebani sektor pendidikan. Sebaliknya, program ini justru memperkuat efektivitas anggaran pendidikan dengan memastikan siswa dalam kondisi fisik yang prima untuk belajar.

"Kalau siswa tidak sarapan, jam 10 atau jam 12 mereka mengantuk, ada yang pingsan saat upacara, sehingga fokus belajar berkurang," tambahnya.

Mengacu pada penelitian bersama Universitas Indonesia (UI), program MBG terbukti mampu menekan angka putus sekolah, meningkatkan fokus belajar, serta memperbaiki kesehatan fisik siswa. Selain aspek nutrisi, kebiasaan makan bersama juga membawa dampak positif bagi perilaku anak.

"Berdasarkan riset, makan bersama itu juga menyehatkan karena anak yang sebelumnya tidak suka sayur bisa ikut makan sayur," tutup Hariqo. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow