Nol Kasus Meninggal, Kondisi Kesehatan Jemaah Haji Banyuwangi Terkendali Pasca Armuzna

Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), memastikan kondisi jemaah haji asal Bumi Blambangan secara umum dalam keadaan sehat dan terkendali. Tidak ada kasus jemaah meninggal dunia pasca pel

Mei 29, 2026 - 17:31
Nol Kasus Meninggal, Kondisi Kesehatan Jemaah Haji Banyuwangi Terkendali Pasca Armuzna

BANYUWANGI - Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), memastikan kondisi jemaah haji asal Bumi Blambangan secara umum dalam keadaan sehat dan terkendali. Tidak ada kasus jemaah meninggal dunia pasca pelaksanaan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) hingga Kamis 28 Mei 2026.

“Alhamdulillah hingga saat ini kondisi kesehatan jemaah haji Banyuwangi secara umum terkendali,” jelas Kepala Dinkes Banyuwangi, Amir Hidayat, Jumat (29/5/2026).

Saat ini, masih kata Amir, tim kesehatan haji terus melakukan pemantauan intensif terhadap jemaah di Tanah Suci. Terutama perhatian khusus diberikan kepada jamaah lanjut usia dan kelompok risiko tinggi (risti).

Tujuanya jelas, penanganan medis ekstra ini dilakukan guna mengantisipasi kelelahan fisik akibat cuaca ekstrem dan padatnya prosesi ibadah, sekaligus mengontrol penyakit penyerta yang diidap jemaah.

“Tim kesehatan terus melakukan pemantauan dan pelayanan secara optimal, terutama kepada jemaah risiko tinggi yang membutuhkan pengawasan lebih intensif,” tegas Amir.

Berdasarkan data Dinkes Banyuwangi, total jemaah haji asal Bumi Blambangan yang tergabung dalam Kloter 82 hingga 85 tercatat sebanyak 1.317 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 30,4 persen atau sebanyak 401 jemaah masuk dalam kategori risiko tinggi. Meski mayoritas dalam kondisi baik dan terkendali, terdapat tiga jemaah yang harus mendapatkan penanganan medis lanjutan dan dirujuk ke rumah sakit di Arab Saudi.

Dalam rincianya, Kloter 82 membawa sebanyak 380 jamaah, dengan 243 jamaah masuk kategori risiko tinggi. Di kloter ini, satu jemaah terpaksa dirujuk ke RS Mina setelah mengalami kondisi cardiac arrest atau henti jantung.

Sementara itu, dari total 379 jamaah di Kloter 83. Tercatat 38 jamaah masuk kategori resiko tinggi, dan satu jemaah dirujuk ke RS Mina akibat penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Kloter ini juga mencatat satu jemaah yang gagal berangkat sejak awal akibat kondisi demensia.

Kondisi serupa terjadi di Kloter 84 yang terdapat sebanyak 380 jamaah. Sebanyak 56 jemaah di antaranya masuk kategori resiko tinggi dan satu jamaah harus dilarikan ke RS East Arafat akibat mengalami CVA Infark atau penyumbatan pembuluh darah otak. Selain itu, terdapat satu jamaah dari kloter ini yang tertunda keberangkatannya karena kendala administrasi paspor.

Terakhir, Kloter 85 yang menjadi kelompok dengan jumlah paling sedikit, yakni 178 jamaah. Tercatat ada 64 jamaah kategori resiko tinggi. Kabar baiknya, hingga saat ini tidak ada jamaah dari kloter 85 yang perlu dirujuk ke rumah sakit.

Amir juga menegaskan bahwa, hingga saat ini belum terdapat jamaah haji Banyuwangi yang dinyatakan meninggal dunia. Terkait beredarnya informasi mengenai satu jamaah yang disebut meninggal dunia, Dinkes Banyuwangi memberikan klarifikasi bahwa kondisi jamaah tersebut hingga saat ini masih dalam penanganan medis intensif di RS Mina Al Wadi.

Salah satu jamaah yang mendapatkan penanganan khusus adalah Hj. Fatonah. Mengingat kondisi fisiknya yang lemah saat berada di Arafah, warga Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar ini akhirnya mengikuti skema murur (melintas di Muzdalifah tanpa menginap). Tak hanya itu, demi menjaga keselamatan dan kesehatannya, pelaksanaan lempar jumrah Hj. Fatonah juga dibadalkan (diwakilkan) oleh rekan sejawatnya.

Namun pada malam hari kondisi Hj. Fatonah kembali memburuk secara progresif hingga memasuki fase kritis pada pagi hari. Dalam situasi lapangan tersebut, dokter kloter menilai jamaah telah meninggal berdasarkan kondisi klinis saat itu. 

Namun setelah diperiksa kembali oleh dokter dari Arab Saudi, jamaah diminta dirujuk menggunakan tandu ke Klinik Mina guna memastikan kondisi secara definitif.

Sesampainya di Klinik Mina, tim medis Saudi masih melakukan tindakan “code blue” atau resusitasi jantung paru karena dinilai masih terdapat kemungkinan tanda kehidupan atau peluang penyelamatan. Oleh karena itu, dilakukan upaya kegawatdaruratan lanjutan sesuai prosedur medis internasional.

“Hingga saat ini jamaah masih berada dalam penanganan medis di RS Mina Al Wadi. Tim kesehatan haji Indonesia dan otoritas kesehatan Saudi terus memantau perkembangan kondisi beliau. Mohon doa dari seluruh masyarakat Banyuwangi agar jamaah dapat kembali stabil dan sehat,” ungkap Amir.

Dinkes Banyuwangi juga mengimbau seluruh jamaah haji Banyuwangi untuk tetap menjaga kondisi kesehatan, menghindari aktivitas fisik berlebihan, cukup minum, rutin mengonsumsi obat bagi jamaah dengan penyakit kronis, serta segera melapor kepada petugas kesehatan apabila mengalami keluhan kesehatan sekecil apa pun.

Tim kesehatan haji Banyuwangi bersama tenaga kesehatan kloter dan sektor akan terus melakukan pelayanan kesehatan, pemantauan aktif, serta pendampingan kepada jamaah hingga seluruh rangkaian ibadah haji selesai. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow