Ngabubatik di LKP Soendari Batik, Alternatif Ngabuburit Produktif di Kota Malang
LKP Soendari Batik Kota Malang menggelar program Ngabubatik selama Ramadan, menghadirkan workshop membatik setiap sore lengkap dengan takjil gratis dan pilihan paket terjangkau.
MALANG Ngabuburit tak lagi sekadar menunggu waktu berbuka puasa. Di Kota Malang, LKP Soendari Batik menghadirkan program “Ngabubatik” atau ngabuburit sambil membatik sebagai alternatif kegiatan kreatif selama Ramadan.
Program yang digelar di LKP Soendari Batik, di PTP II Permata Jalan Soekarno Hatta, Kecamatan Lowokwaru ini baru pertama kali diselenggarakan dan dijadwalkan berlangsung hingga akhir Ramadan.
Workshop dilaksanakan setiap hari pukul 14.00 hingga 17.00 WIB dengan durasi sekitar tiga jam. Peserta memulai kegiatan dengan membuat sketsa menggunakan pensil di atas kain yang telah disediakan, berdasarkan motif yang dipersiapkan penyelenggara. Selanjutnya, peserta mendapatkan pengenalan teknik mencanting hingga proses pewarnaan yang didampingi instruktur.
Terdapat dua pilihan paket yang ditawarkan, yakni paket saputangan seharga Rp50.000 dan paket home decor seharga Rp80.000. Paket home decor berupa kain batik lengkap dengan bingkai kayu. Seluruh paket sudah termasuk takjil gratis bagi peserta.
“Kami menyediakan takjil gratis. Jika peserta belum selesai saat waktu berbuka tiba, mereka bisa membatalkan puasa dengan takjil yang sudah disediakan,” ujar Sofiya, salah satu pendamping, Kamis (19/02/2026).
Hasil karya peserta dapat diambil dua hari setelah workshop (H+2), karena proses finishing dilakukan oleh pihak LKP Soendari Batik. Selain praktik membatik, peserta juga diajak mengikuti tur singkat ke area toko yang menampilkan koleksi benda klasik, seperti wayang, gamelan, dan mesin ketik.
Program ini dapat diikuti secara berkelompok dengan kapasitas maksimal 20 orang dan minimal dua peserta dalam satu sesi. Bagi peserta yang ingin melanjutkan berbuka dengan menu berat, di sekitar lokasi tersedia sejumlah pilihan kuliner.
Melalui program Ngabubatik, kegiatan menunggu waktu berbuka diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga ruang belajar dan mengenal lebih dekat proses serta nilai seni batik sebagai bagian dari budaya Indonesia. (*)
Apa Reaksi Anda?