Negara Teluk Fasilitasi dan Izinkan Serangan AS, Iran Protes Keras di PBB
Negara-negara Arab di Teluk Persia itu memfasilitasi dan mengizinkan rezim agresor itu dengan penggunaan wilayah darat dan udara mereka untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
JAKARTA - Iran protes keras kepada PBB atas penyalahgunaan wilayah udara dan teritorial negara-negara Arab Teluk Persia oleh Amerika Serikat untuk menyerang Iran.
Duta Besar dan Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani telah menyampaikan protes kerasnya itu dalam surat yang ditujukan kepada kepala PBB dan presiden Dewan Keamanan pada Rabu kemarin.
Iravani menekankan bahwa negara-negara itu memikul tanggung jawab internasional untuk tidak mengizinkan negara lain menggunakan wilayah mereka untuk melakukan tindakan agresi dan serangan bersenjata terhadap negara ketiga.
Iran, tambahnya, menyerukan kepada pemerintah Qatar, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi untuk menghormati prinsip-prinsip bertetangga yang baik dan mencegah eksploitasi berkelanjutan wilayah mereka untuk serangan terhadap Republik Islam Iran.
Iravani mengatakan bahwa pesawat tak berawak Amerika MQ-9 dan MQ-4C, serta pesawat P-8A dan AWACS, dan pesawat patroli maritim, pesawat pembom B-1 dan jet tempur F-22, F-15, F-16, F-35, menggunakan wilayah negara Arab Teluk Persia tersebut untuk menargetkan Iran.
Serangan bersama Amerika Serikat dan Israel tanpa alasan yang jelas terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026 lalu dengan serangan udara yang menyebabkan para pejabat dan komandan senior Iran serta Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Negara-negara Arab di Teluk Persia itu memfasilitasi dan mengizinkan rezim agresor itu dengan penggunaan wilayah darat dan udara mereka untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Angkatan bersenjata Iran kemudian melancarkan 100 gelombang serangan pembalasan yang terhadap target-target sensitif dan strategis Amerika dan Israel di seluruh wilayah tersebut.
Pada tanggal 8 April, empat puluh hari setelah perang dimulai, gencatan senjata selama dua minggu yang dimediasi oleh Pakistan mulai berlaku, tetapi putaran pertama negosiasi Iran dan Amerika Serikat itu gagal mencapai kesepakatan.
Presiden AS, Donald Trump secara sepihak kemudian memperpanjang gencatan senjata, dengan mengatakan bahwa pemerintahannya akan menunggu proposal Iran untuk putaran kedua pembicaraan di Islamabad.
Namun, Iran bertahan untuk tidak berkomitmen pada putaran negosiasi kedua, karena tuntutan Amerika Serikat yang berlebihan serta "blokade angkatan laut" terhadap Iran sebagai dua hambatan utama untuk mengakhiri perang.
Pelanggaran Komitmen
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengatakan, Republik Islam Iran selalu menyambut baik adanya dialog dan kesepakatan.
Tetapi pelanggaran komitmen yang terus-menerus dilakukan Amerika Serikat serta blokade angkatan laut, ditambah ancaman militer tetap menjadi hambatan utama bagi negosiasi yang tulus.
Dalam sebuah unggahan di X, presiden Iran menegaskan kembali keterbukaan Iran terhadap diplomasi sambil mengecam perilaku Amerika Serikat yang kontradiktif.
"Republik Islam Iran menyambut baik dialog dan kesepakatan dan terus melakukannya," tulisnya.
"Pelanggaran komitmen, blokade, dan ancaman adalah hambatan utama bagi negosiasi yang tulus. Dunia melihat retorika munafik Anda yang tak berkesudahan dan kontradiksi antara klaim dan tindakan," tegas Presiden Iran.
Dalam hal ini, Iran juga menyampaikan protes keras kepada PBB karena adanya penyalahgunaan wilayah udara dan teritorial negara-negara Arab Teluk Persia oleh Amerika Serikat untuk menyerang Iran. (*)
Apa Reaksi Anda?