Mudik sebagai Perjalanan Rindu: Ketika Perantau Pulang Kembali ke Majalengka

Bagi mereka yang merantau di kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau bahkan luar Jawa, mudik ke Majalengka adalah momen yang selalu dinanti.

Maret 12, 2026 - 16:30
Mudik sebagai Perjalanan Rindu: Ketika Perantau Pulang Kembali ke Majalengka

MAJALENGKA Jelang Hari Raya Idul Fitri, satu tradisi kembali menggerakkan jutaan orang di Indonesia: mudik. Bagi perantau asal Kabupaten Majalengka, perjalanan pulang ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi perjalanan rindu yang selalu berakhir di rumah.

Di sepanjang jalur menuju Majalengka, arus kendaraan mulai meningkat. Mobil keluarga, sepeda motor, hingga bus antarkota datang silih berganti membawa para pemudik yang tak sabar kembali ke tanah kelahiran.

Bagi mereka yang merantau di kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau bahkan luar Jawa, mudik ke Majalengka adalah momen yang selalu dinanti. Perjalanan panjang yang melelahkan seolah terbayar ketika akhirnya bisa bertemu keluarga di kampung halaman.

Andi Setiawan (35), seorang perantau asal Majalengka yang bekerja di Jakarta, mengaku selalu menunggu momen mudik setiap Lebaran.

"Setiap tahun saya pasti pulang ke Majalengka. Capek di jalan itu biasa, tapi begitu sampai rumah dan ketemu ibu, rasanya semua lelah hilang," ujarnya.

Mudik bagi para perantau bukan hanya soal perjalanan fisik. Lebih dari itu, ada kerinduan yang selama berbulan-bulan tertahan oleh kesibukan hidup di kota.

Hal serupa dirasakan Rina Kartika (28), pekerja asal Majalengka yang kini tinggal di Bekasi. Ia mengatakan Lebaran terasa berbeda jika tidak pulang kampung.

"Lebaran di Majalengka itu suasananya hangat. Bisa kumpul keluarga, makan bersama, dan saling memaafkan. Itu yang selalu dirindukan," katanya.

Setiap Lebaran, desa-desa di Majalengka kembali hidup oleh kedatangan para pemudik. Rumah yang biasanya sepi mendadak ramai oleh tawa keluarga yang berkumpul setelah lama terpisah.

Anak-anak bermain di halaman rumah, para orang tua menyambut dengan pelukan hangat, sementara dapur-dapur warga mulai dipenuhi aroma hidangan khas Lebaran seperti ketupat dan opor ayam.

Kedatangan pemudik juga membawa dampak positif bagi kehidupan sosial dan ekonomi di Majalengka. Pasar tradisional ramai pengunjung, pedagang makanan kebanjiran pembeli, dan suasana kampung terasa lebih hidup.

Namun bagi para perantau, makna mudik jauh lebih dalam dari sekadar perjalanan pulang. Mudik adalah cara untuk kembali pada akar, mengenang masa kecil, dan merasakan hangatnya kebersamaan keluarga.

Ketika malam takbiran mulai menggema di langit Majalengka, para pemudik tahu bahwa perjalanan panjang mereka telah sampai pada tujuan yang sesungguhnya, yakni rumah.

Karena bagi para perantau, Majalengka akan selalu menjadi tempat di mana rindu menemukan jalannya untuk pulang. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow