Menyusuri Jejak Peradaban di Tajursela, Saksi Bisu Kejayaan Agraris Garut Timur

Sejak dulu, Tajursela menjadi andalan bagi warga untuk bercocok tanam karena airnya yang melimpah dan tanahnya yang gembur.

Maret 10, 2026 - 17:00
Menyusuri Jejak Peradaban di Tajursela, Saksi Bisu Kejayaan Agraris Garut Timur

GARUT Di tengah sejuknya udara Kecamatan Wanaraja Kabupaten Garut, terdapat sebuah pemukiman yang menyimpan cerita unik di balik namanya yang khas: Kampung Tajursela.

Bagi warga setempat, nama ini bukan sekadar identitas geografis, melainkan sebuah rekaman peristiwa masa lalu yang memadukan potensi alam dengan sebuah insiden yang melegenda.

Perpaduan 'Tajur' dan Peristiwa 'Sela'

Narasi sejarah kampung ini berakar dari dua kata yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat agraris di wilayah tersebut:

Tajur (Menanam): Kata ini merujuk pada kesuburan tanahnya. Secara historis, wilayah ini dikenal sebagai area yang sangat baik untuk ditanami (ditajur dalam bahasa Sunda).

Sejak dulu, Tajursela menjadi andalan bagi warga untuk bercocok tanam karena airnya yang melimpah dan tanahnya yang gembur.

Sela (Sela Kuda): Bagian paling menarik dari sejarahnya adalah legenda mengenai sela kuda (pelana). Konon, dahulu kala ada seorang bangsawan atau penunggang kuda yang melintasi wilayah perbukitan di sana.

Di titik tersebut, pelana atau sela kudanya terlepas dan jatuh. Peristiwa jatuhnya sela kuda inilah yang kemudian diabadikan oleh masyarakat menjadi bagian dari nama kampung mereka.

Fakta Mendalam, Saksi Bisu Peradaban Wanaraja

✓ Bagian dari Sukamenak:

Secara administratif, Tajursela merupakan bagian dari Desa Sukamenak, yang kini dimekarkan menjadi Desa Sukarahayu, sebuah wilayah di Wanaraja yang memiliki sejarah panjang sejak masa pemerintahan Kabupaten Limbangan.

✓ Kearifan Lokal:

Nama Tajursela menjadi pengingat bagi warga akan pentingnya menjaga kesuburan tanah (Tajur) sekaligus menghormati jejak sejarah para pendahulu yang pernah melintasi wilayah mereka.

✓ Karakter Masyarakat:

Hingga kini, semangat 'Tajur' masih terasa dari kentalnya budaya bertani warga, sementara cerita 'Sela Kuda' tetap dirawat melalui tutur lisan dari generasi ke generasi sebagai identitas unik yang membedakan mereka dengan kampung lainnya di Garut.

Kini, Tajursela tetap berdiri sebagai kampung yang harmonis, di mana narasi tentang sela kuda yang jatuh berpadu indah dengan hijaunya tanaman yang terus tumbuh subur di setiap jengkal tanahnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow