Mengenal Lawang Sakepeng: Seni Bela Diri Tradisional Dayak Kalteng yang Sarat Filosofi
Riuh suara tabuhan garantung (alat musik khas Dayak) langsung menyita perhatian warga di halaman luar GOR Serbaguna Tjilik Riwut, Km 5, Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), Selasa (19/5/2026).
PALANGKA RAYA - Riuh suara tabuhan garantung (alat musik khas Dayak) langsung menyita perhatian warga di halaman luar GOR Serbaguna Tjilik Riwut, Km 5, Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), Selasa (19/5/2026).
Di sana, sejumlah pemuda bergantian memperagakan gerakan seni silat kuntau dengan lincah di depan sebuah gerbang buatan, dengan mencoba memutuskan seutas tali yang melintang.
Atraksi Lawang Sakepeng ini menjadi salah satu materi yang paling memikat dalam Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026, yang digelar bertepatan dengan HUT ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah.
Bagi masyarakat awam atau pengunjung dari luar daerah, Lawang Sakepeng mungkin terlihat seperti simulasi pertarungan fisik atau sekadar bagian dari pencak silat biasa.
Namun, ada filosofi mendalam di balik setiap gerakan tersebut.
Budayawan putra daerah Kalteng, Wilbertus Wilson, menjelaskan bahwa esensi utama dari Lawang Sakepeng sebenarnya adalah ekspresi kebahagiaan dan keramahtamahan masyarakat Dayak dalam menyambut tamu.
"Olahraga tradisional Lawang Sakepeng ini pada intinya adalah ekspresi kebahagiaan dan keceriaan dalam menyambut tamu. Jadi yang ditonjolkan sebenarnya adalah unsur seninya," kata Wilbertus di sela-sela acara.
Menurutnya, seni ini mulai gencar diangkat ke permukaan sejak tahun 2008 sebagai simbol penghormatan.
Gerakan yang ditampilkan mengadopsi jurus bunga-bunga buntau, sejenis silat tradisional. Meski penampilannya menyerupai bela diri, fokus utamanya bukan untuk menjatuhkan lawan.
"Ini adalah ekspresi kegembiraan, bukan adu fisik seperti pencak silat pada umumnya. Makna yang dibawa adalah bahwa orang Dayak memiliki kepribadian yang ramah dan mudah tersenyum," jelasnya.
Dalam tradisi masyarakat Dayak, Lawang Sakepeng paling sering dijumpai pada upacara perkawinan adat, tepatnya saat menyambut rombongan keluarga pengantin laki-laki yang dianggap sebagai tamu kehormatan.
Selain sebagai bentuk penghormatan, prosesi memotong tali dalam Lawang Sakepeng juga membawa nilai filosofis spiritual yang kuat.
Gerakan memotong itu dimaknai sebagai simbol meretas atau menyingkirkan hal-hal buruk yang berpotensi mengganggu jalannya acara, seperti gangguan roh halus atau ancaman lainnya.
Melihat pentingnya nilai-nilai tersebut, Wilbertus menilai pelestarian tradisi ini lewat agenda seperti FBIM sangat krusial untuk membentuk karakter dan jati diri masyarakat, khususnya generasi muda Dayak.
Ada nilai kedisiplinan, sportivitas, dan kekuatan fisik yang ikut terlatih di dalamnya.
Di sisi lain, ajang ini juga menjadi bagian penting dari program pemerintah dalam pembinaan sumber daya manusia (SDM) di Kalimantan Tengah.
"Sangat penting mengingat sumber daya manusia di Kalimantan Tengah dibanding provinsi lain masih belum terlalu terangkat ke permukaan," katanya.
"Maka melalui Lawang Sakepeng dan kegiatan lainnya, diharapkan masyarakat Kalimantan Tengah merasa mendapat tempat dalam pembinaan yang dilakukan pemerintah," pungkas Wilbertus. (*)
Apa Reaksi Anda?