Mengajar dengan Hati, Cara Guru di Pacitan Bikin Siswa Cepat Paham
Jika siswa sudah senang, maka dia akan mudah menyerap pelajaran. Itu prinsip yang dipegang guru agar muridnya cepat memahami yang diajarkan.
PACITAN Mengajar dengan hati dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan menjadi kunci Vika Agustin Mardika (37) agar siswanya di SDN 1 Ketro Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan lebih cepat memahami materi.
Bagi Vika, pelajaran akan lebih mudah masuk jika anak merasa nyaman dengan gurunya. Karena itu, ia selalu berusaha menghadirkan kelas yang hangat, tidak tegang, dan memberi ruang bagi siswa untuk bertanya maupun berpendapat.
“Kalau anak sudah senang dulu, materi biasanya lebih mudah diterima,” ujarnya, Kamis (19/2/2026).
Guru yang telah mengajar sejak 2011 itu mengaku memilih profesi pendidik bukan semata pekerjaan. Ia ingin menjadikannya sebagai ladang amal jariyah.
Menurutnya, ilmu yang diajarkan dan kemudian diamalkan murid akan menjadi pahala yang terus mengalir. Selain itu, ia memang menyukai dunia anak-anak.
Lulusan Universitas Negeri Yogyakarta itu memulai kariernya dengan mengabdi selama 10 tahun di SMPN 2 Pacitan. Setelah itu, ia mendapat penempatan di SD Negeri 1 Ketro hingga sekarang.
Dalam praktiknya, Vika menyiapkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) secara mandiri. Ia juga memanfaatkan perangkat Interactive Flat Panel (IFP) dan laptop bantuan pemerintah untuk membuat pembelajaran lebih interaktif. Menurutnya, media digital membantu anak lebih fokus dan tidak cepat bosan.
Namun, teknologi bukan segalanya. Ia rutin membuka ruang kritik dan saran dari siswa untuk mengevaluasi cara mengajarnya. “Kadang anak-anak justru jujur. Dari situ saya bisa tahu mana yang perlu diperbaiki,” katanya.
Tantangan terbesar, menurut Vika, ada pada pengendalian diri. Guru dituntut sabar, tidak mudah terpancing emosi, dan tetap menunjukkan raut wajah yang ramah di depan kelas.
“Kita harus tetap senang, sabar, dan tidak boleh emosi,” ujarnya.
Ia berharap kebijakan pendidikan lebih konsisten dan fokus pada peningkatan kualitas pembelajaran, tanpa terlalu sering mengubah kurikulum. Menurutnya, stabilitas kebijakan akan membantu guru lebih maksimal dalam mengajar.
Vika juga menekankan pentingnya peran orang tua. Pendidikan karakter, katanya, tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah. Nilai-nilai baik harus dibiasakan di rumah agar sejalan dengan pembelajaran di kelas.
Langkah sederhana di ruang kelas di Pacitan itu mungkin terlihat kecil. Namun bagi Vika, dari sanalah fondasi karakter dan pemahaman anak-anak mulai dibangun. (*)
Apa Reaksi Anda?