Masjid Baitul Millah Pacitan Simpan Cerita Mistis, dari Wudu Tanpa Orang hingga Salam Misterius
Kisah misterius dari Masjid Baitul Millah Pacitan: suara wudu tanpa wujud hingga salam gaib. Di baliknya, tersimpan sejarah panjang dan pesan menjaga adab di tempat ibadah.
PACITAN - Cerita tak biasa datang dari Masjid Baitul Millah di Desa Semanten, Kecamatan/Kabupaten Pacitan. Takmir masjid, Nasyiin (52), mengaku kerap mendengar suara tanpa wujud, mulai dari gemericik air seperti orang berwudu hingga salam misterius di malam hari.
“Kadang terdengar suara seperti air gemericik orang wudlu, pas saya tengok tidak ada siapa-siapa,” ujar Nasyiin, Rabu (15/4/2026).
Bukan hanya itu. Pengalaman serupa juga terjadi di rumahnya yang tak jauh dari masjid. Ia beberapa kali mendengar orang mengucap salam, namun saat dicek, tak ada siapa pun.
“Ada yang salam di rumah saya, tapi juga nggak ada orangnya,” ungkapnya.
Nasyiin menunjukkan letak bangunan asrama santri yang hilang. (FOTO: (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Meski terdengar janggal, Nasyiin tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang luar biasa. Baginya, kejadian seperti itu sudah menjadi hal lumrah di lingkungan masjid.
“Suara orang menyeret sandal di sini juga sudah biasa,” tambahnya.
Ia bahkan menceritakan pengalaman lain yang sempat menjadi perbincangan warga. Pernah ada seseorang yang tidur di masjid, namun tiba-tiba berpindah ke bibir sumur.
Diduga, hal itu terjadi karena yang bersangkutan melanggar etika di dalam masjid.
“Dulu ada yang tidur di masjid, tiba-tiba dipindah ke dekat sumur karena kencing tidak cebok,” katanya.
Letak pengimaman lama Masjid Baitul Millah yang kini tinggal sisa bebatuan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Menurutnya, kejadian-kejadian tersebut menjadi semacam pengingat tak kasat mata bagi siapa saja yang tidak menjaga adab di tempat ibadah.
“Intinya yang melanggar etika dalam masjid pasti akan dikerjain,” tegasnya.
Di balik cerita-cerita itu, Masjid Baitul Millah sendiri menyimpan sejarah panjang. Kawasan tersebut dulunya dikenal dengan nama Purwosari, sebelum berubah menjadi Krajan II pada 1995.
"Itu kebijakan kepala desanya tempo dulu," katanya.
Wilayah ini juga pernah menjadi langganan banjir karena dikepung aliran anak Sungai Grindulu.
Kondisi sungai yang dangkal membuat air mudah meluap hingga ke area masjid. Namun, sejak sekitar 1996, banjir mulai tak lagi terjadi.
“Dulu padat penduduk, tapi karena sering banjir akhirnya banyak yang pindah,” tutur Nasyiin.
Di sisi selatan masjid, dahulu berdiri bangunan asrama pondok pesantren peninggalan KH Abdul Manan Dipomenggolo.
Terdapat tiga bangunan kayu berukuran besar yang digunakan untuk aktivitas santri. Namun, bangunan itu sudah hilang sejak era 1940-an.
Memasuki tahun 1970-1980-an, aktivitas mengaji masih berlangsung, meski tanpa asrama.
Para santri yang datang, banyak dari wilayah Punung, tinggal di rumah warga sekitar. Pagi hari mereka bersekolah formal, sementara sore hingga malam belajar agama di masjid.
Tradisi itu juga tak lepas dari peran ayah Nasyiin, Ahmad, yang dulu menjadi pengajar ngaji di sana. Kini, peran tersebut dilanjutkan oleh Nasyiin.
“Dulu ayah saya yang ngajar, sekarang saya yang menggantikan,” ujarnya.
Secara historis, masjid ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1800-an. Sempat berstatus surau karena keberadaan masjid desa di seberang jalan, krmudian Baitul Millah kembali direvitalisasi pada 1996.
Setelah direnovasi, masjid ini diresmikan oleh pengasuh Pondok Tremas, KH Chabib Dimyathi, sekitar tahun 1998.
Terlepas dari kisah mistisnya, sejak saat itu, Masjid Baitul Millah kembali menjadi pusat kegiatan keagamaan warga hingga sekarang. (*)
Apa Reaksi Anda?