Masjid Agung Bandung Bersiap Menatap Masa Depan, Warisan Sejarah Tak Sekadar Bangunan
Masjid Agung Bandung bukan hanya simbol religi, melainkan bagian penting perjalanan sejarah Kota Bandung dan bangsa Indonesia.
BANDUNG - Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi, Masjid Agung Bandung tidak ingin hanya dikenang sebagai bangunan bersejarah.
Masjid yang telah berdiri sejak 1812 tersebut kini diproyeksikan menjadi ruang inspirasi generasi masa depan yang mampu mengimbangi perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar nilai spiritual dan sejarahnya.
Ketua Nazhir Masjid Agung Bandung, Roedy Wiranatakusumah SH, MH, MBA, mengatakan, keberadaan Masjid Agung Bandung bukan hanya simbol religi, melainkan bagian penting perjalanan sejarah Kota Bandung dan bangsa Indonesia.
Menurut Roedy, sejak awal berdirinya, Masjid Agung Bandung telah menjadi titik temu berbagai generasi dan peradaban. Karena itu, ia ingin masjid tersebut terus relevan di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis.
“Zaman terus bergerak maju. Islam sendiri hadir sebagai rahmatan lil alamin yang mampu mengikuti perkembangan manusia dengan fondasi ajaran yang tidak berubah sejak 1400 tahun lalu,” ujar Roedy, Kamis (07/05/2026)
Ia menilai, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, hingga kecerdasan buatan (AI) harus dipandang sebagai peluang untuk memperkuat kualitas kehidupan masyarakat, termasuk dalam konteks keberagamaan.
Karena itu, Masjid Agung Bandung kini tengah menyiapkan berbagai program yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat modern.
Tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga pemberdayaan, edukasi, hingga penguatan karakter generasi muda.
“Masjid ini harus menjadi rumah yang memberi inspirasi, memberikan kekuatan, dan membangun keyakinan bahwa masa depan bisa diraih,” katanya.
Roedy menjelaskan, pendekatan yang dilakukan bukan sekadar mengikuti tren modernitas, melainkan bagaimana nilai-nilai masjid dapat diadaptasi oleh masyarakat masa kini.
Menurut dia, keberadaan Masjid Agung Bandung harus mampu menjadi ruang yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
“Past, present, and future. Kita punya sejarah besar, lalu apa yang bisa dilakukan sekarang, dan bagaimana menjadikan tempat ini sebagai rumah untuk masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menyebut, salah satu tantangan bangsa saat ini bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga moral, lingkungan sosial, hingga rasa percaya diri generasi muda dalam menghadapi masa depan.
Karena itu, konsep pemakmuran masjid dinilai harus berkembang. Masjid tidak lagi hanya dipahami sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga ruang interaksi sosial, motivasi, edukasi, dan pengembangan kualitas hidup masyarakat.
“Orang datang ke masjid harus bisa mendapatkan inspirasi. Dari sana muncul motivasi untuk membangun dirinya, keluarganya, komunitasnya, bahkan bangsanya,” kata Roedy.
Di sisi lain, nilai sejarah Masjid Agung Bandung juga menjadi perhatian utama. Roedy menegaskan, masjid tersebut merupakan salah satu situs penting dalam perjalanan Kota Bandung sejak awal berdiri lebih dari dua abad lalu.
Masjid Agung Bandung dibangun pada 1812 bersamaan dengan perpindahan pusat Kabupaten Bandung ke lokasi yang kini menjadi pusat Kota Bandung. Karena itu, keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari sejarah lahirnya Bandung modern.
“Masjid Agung ini didirikan oleh pendiri Kota Bandung. Ini historical site yang memiliki perjalanan sangat panjang,” ujarnya.
Roedy menilai, masjid tersebut memiliki peran penting dalam perkembangan Islam Sunda dan budaya Sunda Islam yang tumbuh di Jawa Barat.
Sejak masa kolonial hingga era kemerdekaan, Masjid Agung Bandung disebut menjadi pusat edukasi, budaya, geopolitik, sekaligus ruang perenungan berbagai tokoh bangsa.
Salah satu momentum penting yang paling dikenang adalah ketika Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, menjadikan Masjid Agung Bandung sebagai tempat berhikmat menjelang Konferensi Asia Afrika 1955.
Menurut Roedy, saat itu Bandung baru sekitar 10 tahun merdeka, namun berhasil mengumpulkan kepala negara dari 29 negara Asia dan Afrika untuk membangun semangat solidaritas bangsa-bangsa berkembang.
“Setelah Konferensi Asia Afrika selesai, para kepala negara yang beragama Islam datang ke Masjid Agung Bandung. Yang non-muslim pun mengetahui sejarah tempat ini,” katanya.
Ia menyebut, semangat Dasasila Bandung dan Gerakan Non-Blok yang lahir dari momentum tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah dunia modern.
Karena itu, Masjid Agung Bandung dinilai bukan sekadar bangunan ibadah, tetapi juga ruang historis yang menyimpan memori perjuangan bangsa.
Kini, menjelang 75 tahun Konferensi Asia Afrika pada 2030 mendatang, Roedy berharap keberadaan Masjid Agung Bandung semakin dikenal generasi muda sebagai bagian penting dari identitas sejarah nasional.
Ia juga membuka peluang agar masjid tersebut nantinya mendapat pengakuan lebih luas sebagai kawasan heritage atau cagar budaya.
Namun bagi Roedy, yang paling penting bukan sekadar label, melainkan bagaimana masyarakat mampu menjaga dan memaknai keberadaan Masjid Agung Bandung sebagai warisan yang hidup.
“Yang terpenting adalah bagaimana tempat ini tetap memberikan manfaat dan inspirasi bagi generasi mendatang,” tuturnya. (*)
Apa Reaksi Anda?