Mahasiswa KSM Tematik Kelompok 59 Fakultas Kedokteran UNISMA Gelar Study Visit di Kebun Kakao Thailand

Pada Senin (9/2/2026), sebuah momentum penting dalam perjalanan akademik dicapai oleh kelompok mahasiswa Kandidat Sarjana Mengabdi (KSM) Tematik  Kelompok 59 dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam

Juni 29, 2026 - 15:30
Mahasiswa KSM Tematik Kelompok 59 Fakultas Kedokteran UNISMA Gelar Study Visit di Kebun Kakao Thailand

MALANG - Pada Senin (9/2/2026), sebuah momentum penting dalam perjalanan akademik dicapai oleh kelompok mahasiswa Kandidat Sarjana Mengabdi (KSM) Tematik  Kelompok 59 dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (UNISMA).

Mereka melaksanakan kunjungan studi (study  visit) yang mendalam ke perkebunan kakao Suan Lung Kung, yang secara akrab dikenal sebagai perkebunan Paman Kung. Secara geografis, perkebunan ini terletak di kawasan hijau Khao Phra, Provinsi Songkhla, Thailand Selatan.

Kawasan Hat Yai dan sekitarnya bertindak sebagai episentrum aktivitas ekonomi regional yang menghubungkan berbagai kluster agrokultural di wilayah tersebut.

Kunjungan ilmiah ini dirancang secara struktural agar tidak sekedar menjadi perjalanan wisata atau pelesiran lintas negara semata.

Bagi para mahasiswa kedokteran  UNISMA, kegiatan  ini merupakan sebuah misi ilmiah yang krusial untuk mendalami konsep ketahanan pangan (food security) dan pemberdayaan ekonomi lokal (local economic empowerment).

Kedua sektor ini merupakan pilar esensial yang secara tidak langsung membentuk derajat kesehatan masyarakat global.

Melalui observasi langsung terhadap budidaya tanaman kakao yang presisi, para calon praktisi kesehatan ini diajak untuk melihat bagaimana pengelolaan sektor agrikultur yang terstruktur mampu mempengaruhi kesejahteraan, nutrisi, dan ketahanan sosial-ekonomi.

Saat melangkah memasuki area perkebunan Suan Lung Kung, rombongan mahasiswa FK Unisma langsung disuguhi oleh pemandangan tata lahan yang sangat efisien  dan terencana. Perkebunan ini mengadopsi sistem tumpang sari (intercropping) terpadu.

Konsep manajemen lahan agroforestri modern ini diterapkan dengan matang oleh Paman Kung, yang secara sadar menolak membiarkan lahan suburnya dikuasai secara monokultur oleh satu  jenis  komoditas saja.

Di area ini, pohon kakao (Theobroma cacao) tumbuh dengan subur dan rimbun di bawah naungan serta sela-sela pohon karet dan pohon kelapa sawit yang menjulang tinggi secara geometris.

Sistem ini menciptakan kanopi berlapis yang tidak hanya mengoptimalkan penyerapan sinar matahari oleh masing-masing tanaman, tetapi juga menjaga kelembapan tanah, mencegah erosi mikro, serta meminimalkan risiko gagal panen total.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Salah satu aspek psikologis dan ilmiah yang paling menarik selama observasi lapangan adalah munculnya atmosfer yang terasa sangat akrab bagi para mahasiswa Indonesia.

Karakteristik keanekaragaman hayati yang dijumpai di kawasan Khao Phra memiliki kemiripan vegetasi yang sangat tinggi dengan kondisi tanah air (Indonesia). Fenomena biogeografis ini mempermudah mahasiswa dalam melakukan analisis komparatif.

Selain keberadaan komoditas utama berupa kakao, karet, dan sawit, mata para pengunjung juga dimanjakan oleh keberadaan tanaman buah matoa yang rimbun, pohon murbei, hingga semak-semak rasberi yang tumbuh di pembatas lahan.

Lebih jauh ke dalam ekosistem kebun, tanaman herbal dan bumbu tradisional turut mengisi celah-celah lahan yang kosong secara fungsional. Mahasiswa mengidentifikasi keberadaan tanaman kratom yang tumbuh subur serta pohon asam kandis yang kokoh.

Integrasi flora berkhasiat obat dan bumbu masak ini menciptakan sebuah ekosistem perkebunan yang mandiri, multifungsi, dan memiliki ketahanan biologis yang tinggi terhadap hama tanaman.

Keanekaragaman hayati ini menjadi bukti nyata bahwa diversifikasi vertikal pada lahan perkebunan mampu menghasilkan produk sampingan bernilai ekonomi tinggi sekaligus menjaga keseimbangan alam.

Memasuki sesi teknis perkuliahan lapangan, para mahasiswa dipandu langsung menuju pusat pengolahan pasca-panen yang menjadi kunci penentu kualitas rasa coklat komersial.

Paman Kung memaparkan sebuah prinsip dasar bahwa karakter rasa akhir dari produk coklat—apakah akan bertransformasi menjadi dark chocolate yang intens dengan cita rasa pahit-asam yang seimbang, atau menjadi white chocolate yang lembut dan manis—sebenarnya ditentukan  sejak tahap awal pengklasifikasian kualitas biji sesaat setelah dipetik dari pohonnya.

Ketelitian pada fase sortasi ini memisahkan biji berdasarkantingkat kematangan, ukuran, dan kesehatan fisik buah kakao.

Proses pengolahan pasca-panen yang diterapkan di Suan Lung Kung merupakan sebuah perpaduan harmonis antara kearifan tradisional yang dipertahankan secara turun-temurun dan implementasi mekanisasi modern yang presisi. Tahapan-tahapankrusial tersebut dijabarkan sebagai berikut:

1. Proses Fermentasi:

Biji kakao mentah yang baru dikeluarkan dari polongnya tidak boleh langsung dijemur di bawah terik matahari. Biji-biji tersebut harus melalui fase 'istirahat' dan biokimia di dalam sebuah peti kayu khusus.

Untuk mempertahankan kelembapan dan merangsang aktivitas mikroba alami, tumpukan biji kakao diselimuti secara rapat menggunakan daun pisang segar. Proses fermentasi ini berlangsung selama satu minggu penuh (7 hari).

Selama periode ini, biji kakao wajib dibolak-balik secara berkala dan rutin guna memastikan distribusi panas dan sirkulasi oksigen merata. Tahap fermentasi ini merupakan fase paling krusial karena memicu pembentukan senyawa prekursor aroma dan rasa khas coklat dunia.

2. Proses Penjemuran (Drying):

Setelah aroma hasil fermentasi mencapai titik kesempurnaan biokimia yang diinginkan, biji kakao kemudian dipindahkan ke rak-rak penjemuran terbuka.

Biji dijemur di bawah paparan sinar matahari langsung untuk menurunkan kadar air di dalam biji hingga menyusut ke titik persentase ideal (biasanya di kisaran 6-7%).

Penurunan kadar air yang presisi ini bertujuan untuk mencegah pertumbuhan jamur selama masa penyimpanan jangka panjang tanpa merusak integritas minyak kakao (cocoa butter).

3. Mekanisasi Modern (Roasting dan Milling):

Ketika biji kakao telah kering sempurna, proses beralih dari metode tradisional ke arah mekanisasi modern. Biji kering dimasukkan ke dalam mesin roaster (sangrai) mekanis dengan kontrol suhu yang ketat untuk membangkitkan aroma volatil yang khas.

Setelah disangrai, biji melalui proses pemisahan kulit ari sebelum akhirnya digiling menggunakan mesin penggiling khusus berkecepatan tinggi.

Proses penggilingan ini menghasilkan pasta kakao (liquor) cair yang kental atau bubuk dengan tingkat kehalusan mikro yang sempurna, siap untuk diolah menjadi berbagai produk turunannya.

Di samping aspek botani dan keahlian teknis pengolahan biji, poin yang paling meninggalkan kesan mendalam bagi rombongan mahasiswa Unisma adalah sistem tata kelola manajemen waktu (time management) yang diperlihatkan oleh para petani lokal di Khao Phra.

Sektor budidaya kakao di wilayah ini sejatinya merupakan sebuah pekerjaan sampingan (side hustle).

Aktivitas ini dikelola dengan sangat rapi di sela-sela kesibukan utama para petani yang sehari-harinya bekerja menyadap karet atau memanen tandan buah segar kelapa sawit.

Meskipun secara formal berstatus sebagai usaha sampingan, kualitas eksekusi operasional yang ditunjukkan sama sekali tidak menampakkan kesan amatir.

Kedisiplinan yang tinggi dalam mematuhi  jadwal  pemeliharaan, ketepatan waktu dalam proses fermentasi, serta pemanfaatan teknologi mekanisasi yang tepat guna terbukti mampu  mendongkrak nilai jual biji kakao dari Khao Phra ke tingkat premium.

Fenomena ini memberikan pelajaran berharga mengenai efisiensi kerja. Sinergi antara komitmen individu, manajemen waktu yang ketat, dan adopsi alat mekanis modern mampu mengubah usaha skala rumah tangga menjadi sektor yang sangat produktif serta kompetitif secara ekonomi.

"Keberhasilan pengelolaan di perkebunan ini bukan sekadar diukur dari seberapa luas hamparan lahan yang dimiliki oleh seorang petani, melainkan dari bagaimana kedisiplinan waktu yang kaku dan penerapan teknologi agrikultur yang tepat dapat saling melengkapi untuk menciptakan efisiensi yang maksimal," ungkap salah satu perwakilan mahasiswa UNISMA di sela-sela diskusi interaktif di lokasi perkebunan.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kunjungan studi lapangan yang dilakukan KSM Tematik Kelompok 59 Fakultas Kedokteran UNISMA ke Suan Lung Kung ini pada akhirnya berhasil memberikan bekal perspektif baru yang sangat berharga bagi para calon dokter masa depan tersebut.

Kegiatan ini membuka mata bahwa parameter kesehatan sebuah komunitas masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan obat-obatan di fasilitas kesehatan atau kecanggihan infrastruktur rumah sakit semata.

Jauh dari itu, kesehatan yang holistik berakar kuat dari bagaimana masyarakat tersebut mengelola sumber daya alamnya secara cerdas, menjaga harmoni dan diversifikasi ekosistem lingkungan  hidupnya, serta membangun fondasi ketahanan ekonomi yang tangguh secara mandiri melalui pemanfaatan hasil bumi lokal.

Dari sudut pandang medis preventif, ketahanan pangan yang terwujud lewat sistem tumpang sari menjamin ketersediaan nutrisi yang beragam bagi masyarakat, yang secara langsung berkontribusi  pada  penurunan angka malnutrisi serta peningkatan imunitas tubuh.

Sementara itu, stabilitas ekonomi yang dihasilkan dari budidaya komoditas bernilai tinggi seperti kakao bertindak sebagai jaring pengaman sosial yang meminimalkan tingkat stres psikologis dan meningkatkan aksesibilitas terhadap gaya hidup sehat.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Pembelajaran multidisiplin dari Khao Phra, Songkhla ini diharapkan mampu membentuk karakter mahasiswa kedokteran Unisma agar menjadi tenaga kesehatan yang peka terhadap determinan sosial kesehatan (social determinants of health) demi pengabdian masyarakat yang lebih komprehensif di Indonesia. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow