Mahasiswa KSM-T UNISMA Melaksanakan Program Digital Marketing

Desa Wringinsongo Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang hari itu tampak berbeda dari biasanya. Pagi hari yang cerah kala itu disambut oleh sejumlah mahasiswa Kandidat Sarjana Mengabdi Tematik KSM-T UNISM

Maret 11, 2026 - 16:30
Mahasiswa KSM-T UNISMA Melaksanakan Program Digital Marketing

MALANG Desa Wringinsongo Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang hari itu tampak berbeda dari biasanya. Pagi hari yang cerah kala itu disambut oleh sejumlah mahasiswa Kandidat Sarjana Mengabdi Tematik KSM-T UNISMA Kelompok 30 dengan Dosen Pembimbing Lapang (DPL) Dr. Ir. Priyagung Hartono, M.T. Sekumpulan mahasiswa mendatangi rumah produksi Jamu Kunyit Asam.

 Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kerja pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada penguatan strategi pemasaran digital UMKM. Melalui pembuatan video branding ini, diharapkan produk jamu lokal dapat memiliki identitas visual yang lebih menarik serta mampu menjangkau pasar yang lebih luas melalui berbagai platform media sosial. Desa Wringinsongo memiliki banyak potensi untuk mengembangkan produk UMKM Jamu, karena dalam Desa ini saja ada sebanyak 5 merk jamu.

Produk UMKM, Jamu Kunyit Asam ECHA

Jamu ECHA sendiri telah berdiri sejak tahun 2022, sehingga sudah terhitung 4 tahun berdiri dan dikembangkan. Pelaku usaha Jamu ECHA ini adalah Ibu Andriani atau biasa dikenal dengan nama Ibu Ani, Selasa (10/02/2026).

ECHA memiliki keistimewaan sendiri karena pembuatan sablon kemasan diproduksi sendiri oleh suami dari Ani. Selain itu, dapur produksi yang digunakan dalam proses produksi jamu ini ada 2. Dapur pertama adalah dapur untuk proses pemasakan jamu, dan yang kedua adalah untuk proses packing.

Pelaku Usaha Jamu Kunyit Asam “ECHA”, Andriani, menilai program ini sangat bermanfaat untuk peningkatan penjualan. Karena dengan adanya video branding tersebut maka yang akan mengenal jamu ini tidak hanya kalangan lokal saja, tapi bisa sampai ke seluruh penjuru.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI https://unisma.ac.id/

Produk UMKM, Jamu Kunyit Asam “SBM”

Jamu SBM (Sumber Barokah Mantap) merupakan salah satu usaha rumahan yang memproduksi minuman herbal dengan memanfaatkan bahan-bahan alami pilihan dan proses pembuatan yang memperhatikan kebersihan serta konsistensi rasa. Keberadaan usaha ini tidak hanya menyediakan produk minuman sehat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu sumber penghasilan bagi pemilik usaha dan pihak yang terlibat dalam proses produksinya.

Melalui pelaksanaan kegiatan pendampingan ini, diharapkan Jamu SBM dapat semakin berkembang, memiliki sistem pemasaran yang lebih terarah, serta mampu memperluas jangkauan distribusi produk ke pasar yang lebih luas. Selain itu, penguatan usaha ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di Desa Wringinsongo dan sekitarnya. Jamu ini sendiri juga terhitung telah 3 tahun berdiri dan terus dikembangkan. Sebelumnya jamu ini pernah berkolaborasi dengan produk jamu “Nisala” selama 2 tahun, barulah kemudian jamu SBM ini berdiri, Rabu (11/02/2026).

Produk UMKM, Jamu Kunyit Asam “Sumber Cahaya”

Jamu Kunyit Asam “Sumber Cahaya milik Ibu Erna ini berdiri sejak tahun 2017, sehingga telah terhitung 9 tahun lamanya. Sehingga menjadi rumah produksi jamu terlama yang ada di Desa Wringinsongo. Jamu Kunyit Asam “Sumber Cahaya” ini berdiri paling pertama di antara merk jamu lainnya. Bahan yang digunakan untuk membuat jamu ini adalah bahan-bahan alami, tidak menggunakan bahan pengawet atau bahan buatan apapun.

Jamu Kunyit Asam “Sumber Cahaya” merupakan salah satu produk unggulan desa yang diproduksi secara tradisional dengan mengedepankan kualitas bahan serta cita rasa khas. Dalam proses produksinya, usaha ini tidak hanya berfokus pada hasil akhir produk, tetapi juga menjaga kebersihan, kehigienisan, serta konsistensi rasa agar tetap diminati oleh konsumen, Kamis (12/02/2026).

Produk UMKM, Jamu Kunyit Asam “WR9”

WR9 berdiri sejak tahun 2020, sehingga telah terhitung 5 tahun lamanya. Produk ini dikenal oleh kalangan lokal karena pemiliknya adalah kepala desa dari Desa Wringinsongo sendiri. Rasa yang ditawarkan oleh merk jamu ini sangat unik dan rasa antara kunyit dan asamnya seimbang. Sebelum diproduksi kunyit yang akan digunakan dicuci kemudian dikeringkan terlebih dahulu, sehingga kotoran yang menempel dapat terangkat, oleh karena itu setelah meminumnya tidak menimbulkan rasa serik di tenggorokan. Jamu WR9 ini milik pasangan suami istri yakni Bapak dan Ibu Kepala Desa, Rabu (18/02/2026).

Produk UMKM, Jamu Kunyit Asam “Nisala”

Jamu Nisala merupakan salah satu usaha minuman herbal tradisional yang dikembangkan oleh Ibu Heni yang telah berdiri sejak tahun 2021 di Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang. Sejak awal berdirinya, Jamu Nisala berkomitmen menghadirkan minuman herbal yang dibuat dari bahan-bahan alami pilihan dengan proses produksi yang menjaga kebersihan serta kualitas rasa. Dengan mengusung konsep jamu tradisional yang dikemas secara praktis dan modern, Jamu Nisala hadir sebagai alternatif minuman sehat yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.

Selama perjalanannya, Jamu Nisala terus berupaya mempertahankan konsistensi rasa dan kualitas produk agar tetap dipercaya oleh konsumen. Berbekal pengalaman sejak tahun 2021, usaha ini perlahan berkembang dan mulai dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai salah satu produk jamu lokal yang memiliki cita rasa khas serta harga yang terjangkau.

Kendala Pembuatan Jamu

Dalam proses produksi jamu, pelaku UMKM ini masih menghadapi beberapa kendala, khususnya dalam ketersediaan bahan baku. Ani menjelaskan bahwa kendala tersebut meliputi keterlambatan datangnya bahan baku berupa kardus dan gelas. Karena kedua bahan baku tersebut memesan dari pabrik, sehingga terkadang ada keterlambatan dalam proses pengiriman.

Kondisi ini berdampak pada terbatasnya stok kemasan dan menghambat proses distribusi produk ke konsumen. Hal ini mempengaruhi efektivitas pengemasan dan pemasaran produk UMKM Jamu. Pelaku usaha jamu “SBM” juga menyebutkan bahwa kendala keterlambatan pengiriman bahan baku juga menjadi ancaman produksi.

Pelaku usaha kunyit asam “WR9” juga menjelaskan bahwa kendala yang sering dialami dalam masa produksi adalah kurangnya promosi sehingga potensi pasar masih kurang tersebar luas.

Ibu Heni, pelaku usaha kunyit asam “Nisala” menyebutkan jika kendala yang sering terjadi di rumah produksi jamu nisala adalah adanya kebocoran kecil pada kemasan gelas jamu. Meskipun terlihat sepele, kebocoran tersebut dapat menimbulkan dampak yang cukup besar. Cairan jamu yang merembes keluar dapat menyebabkan kardus menjadi basah, merusak tampilan kemasan, serta menurunkan kualitas produk saat sampai ke tangan konsumen.

Harga Yang Ditawarkan Untuk Satu Kardus Jamu

Dari sisi penjualan, produk jamu “ECHA” dan “WR9” dipasarkan dalam kemasan kardus yang telah berisi 24 gelas dengan harga Rp28.000 per kardus. Harga tersebut ditetapkan dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat sekitar agar tetap terjangkau dan mampu bersaing dengan produk sejenis di pasaran.

Sedangkan produk lainnya seperti “SBM”, “Nisala” dan “Sumber Cahaya” menawarkan harga yang berbeda untuk satu kemasan kardus produknya. Yakni dengan harga Rp30.000 isi 24 gelas.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI https://unisma.ac.id/

Kontribusi Usaha Jamu Terhadap Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat

Produksi jamu yang dijalankan oleh UMKM ini tidak hanya berfokus pada penjualan produk, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian warga sekitar. Dalam proses produksinya, pelaku usaha melibatkan para tetangga sebagai tenaga bantu, mulai dari proses pencucian dan pengolahan bahan, pengemasan, hingga distribusi. Keterlibatan warga sekitar ini membuka peluang kerja tambahan, sehingga mereka dapat memperoleh penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sangat membantu ekonomi warga karena pekerjanya dari tetangga,” ujar Ani selaku pelaku usaha Jamu ECHA.

Usaha ini sangat membantu ekonomi warga dan juga ekonomi keluarga,” ujar Anifah selaku pelaku usaha Minuman Jamu WR9.

Produksi jamu ini dikhususkan untuk skala keluarga, sehingga seluruh proses pembuatannya melibatkan anggota keluarga sebagai tenaga kerja utama,” kata pelaku usaha Minuman Jamu SBM.

Proses produksi Jamu Nisala juga melibatkan tenaga kerja dari masyarakat sekitar, sehingga membuka peluang kerja dan menambah sumber penghasilan bagi keluarga.

“Kegiatan pengemasan, distribusi, hingga pemasaran produk dapat dikelola bersama warga, baik melalui sistem kemitraan maupun penjualan langsung,” jelas Heni selaku pemilik usaha minuman jamu Nisala

Melalui sistem kerja yang bersifat kekeluargaan dan gotong royong, usaha jamu ini turut menciptakan perputaran ekonomi di lingkungan setempat. Dengan adanya kolaborasi bersama tetangga, UMKM tidak hanya berkembang sebagai unit usaha, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat yang mendorong kemandirian dan peningkatan kesejahteraan warga.

Harapan Untuk Masa Depan

Ke depannya, Ibu Ani mengharapkan agar usaha jamu ini dapat terus berkembang dan semakin dikenal luas oleh masyarakat. Semoga proses produksi dan pemasarannya berjalan semakin lancar sehingga mampu meningkatkan volume penjualan serta memperluas jangkauan pasar. Dengan perkembangan tersebut, diharapkan usaha ini tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh menjadi UMKM yang lebih besar dan mandiri.

Pelaku usaha Jamu Kunyit Asam “Sumber Cahaya” memiliki rencana untuk terus melakukan inovasi produk dengan memperluas variasi minuman yang ditawarkan. Tidak hanya berfokus pada varian kunyit asam, usaha ini berupaya menghadirkan pilihan rasa lain seperti lemon dan sari buah lainnya. Inovasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya tarik produk serta memperluas pasar.

Pelaku usaha Jamu Kunyit Asam “SBM” mengharapkan produk jamu ini dapat semakin dikenal oleh masyarakat luas dan menjangkau pasar yang lebih besar. Dengan kualitas yang terus dijaga serta cita rasa yang khas, usaha ini diharapkan mampu menarik lebih banyak pelanggan dan mendapatkan kepercayaan konsumen. Semoga penjualan semakin meningkat dan produk semakin laris manis di pasaran, sehingga usaha keluarga ini dapat berkembang lebih pesat, memberikan keuntungan yang lebih baik, serta membuka peluang untuk memperluas produksi di masa mendatang.

Selaku Kepala Desa dan pelaku usaha Jamu Kunyit Asam “WR9”, besar harapan agar usaha Jamu Kunyit Asam WR9 dapat terus berjalan dengan lancar dan semakin berkembang dari waktu ke waktu. Semoga setiap proses produksi, pemasaran, hingga distribusi diberikan kemudahan sehingga usaha ini mampu bertahan dan bersaing di tengah tantangan yang ada. Dengan pengelolaan yang baik dan semangat yang konsisten, diharapkan usaha ini dapat mengalami peningkatan baik dari segi kualitas maupun kuantitas produksi.

Selain itu, pemilik usaha juga berharap agar usaha yang dijalankan senantiasa membawa keberkahan (barokah), tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi warga sekitar yang turut terlibat. Semoga usaha ini menjadi sumber rezeki yang halal, memberikan manfaat yang luas, serta mampu terus tumbuh dan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat Desa Wringinsongo dan sekitarnya.\

Ibu Heni berharap untuk masa depan produk Jamu Kunyit Asam “Nisala” miliknya mengharapkan agar produk Jamu Nisala dapat terus berkembang menjadi usaha herbal yang tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga mampu menembus pasar yang lebih luas, baik tingkat regional maupun nasional. Dengan meningkatkan kualitas produk, serta kemasan yang lebih modern dan higienis, Jamu Nisala berpotensi menjadi produk unggulan yang memiliki daya saing tinggi. Selain itu, diharapkan usaha ini dapat memperluas jaringan distribusi dan memperkuat strategi pemasaran, termasuk memanfaatkan platform digital agar jangkauan pasar semakin luas. (*)

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI https://unisma.ac.id/

*)Pewarta: Mahasiswa KSM-T Kelompok 30 Universitas Islam Malang (UNISMA)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow