Kredit Macet BPR Delta Artha Tembus 6,19 Persen, Lampaui Batas Aman OJK

Rasio kredit bermasalah BPR Delta Artha naik signifikan hingga 6,19 persen pada 2025, masih di atas batas sehat OJK. Faktor ekonomi dan ekspansi kredit jadi penyebab utama.

April 9, 2026 - 16:31
Kredit Macet BPR Delta Artha Tembus 6,19 Persen, Lampaui Batas Aman OJK

SIDOARJO - Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) di BPR Delta Artha meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir. Kondisi ini menjadi sinyal adanya tekanan pada risiko kredit.

Berdasarkan laporan keuangan, NPL BPR Delta Artha tercatat sebesar 3,92 persen pada 2022. Angka itu melonjak menjadi 6,80 persen pada 2024.

Memasuki 2025, NPL sedikit turun ke level 6,19 persen. Meski menurun, angka tersebut masih berada di atas ambang batas sehat.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan rasio NPL yang sehat berada di bawah 5 persen.

Data tersebut menunjukkan peningkatan kredit bermasalah yang cukup tajam dalam periode ekspansi. Kondisi ini berkaitan dengan pertumbuhan kredit yang tinggi.

Direktur Utama BPR Delta Artha, Sofia Nurkrisnajati Atmaja, mengatakan kenaikan NPL dipengaruhi faktor eksternal dinamika ekonomi. 

“Peningkatan NPL tersebut lebih dipengaruhi oleh kondisi eksternal, khususnya dinamika ekonomi yang berdampak pada kemampuan bayar sebagian debitur, terutama di sektor produktif,” ujarnya. Kamis (9/4/2026). 

Ia menambahkan, terdapat proses normalisasi kualitas kredit setelah ekspansi pembiayaan yang dilakukan sebelumnya.

“Selain itu, terdapat juga normalisasi kualitas kredit pasca ekspansi pembiayaan yang dilakukan sebelumnya. Kami melihat kondisi ini masih dalam batas yang dapat dikelola,” katanya.

Menurutnya, manajemen BPR Delta Artha telah menjadikan penanganan NPL sebagai prioritas utama.

“Hal ini telah menjadi fokus utama manajemen untuk segera ditangani secara terukur,” tambahnya.

Sofia juga menjelaskan bahwa peningkatan NPL lebih banyak terjadi pada segmen kredit produktif.

“Secara umum, peningkatan NPL memang lebih terlihat pada segmen kredit produktif terutama UMKM, mengingat segmen ini paling sensitif terhadap fluktuasi ekonomi,” jelasnya.

Meski demikian, ia memastikan portofolio kredit tetap terdiversifikasi.

“Kami sampaikan bahwa portofolio kami tetap terdiversifikasi dengan baik, sehingga risiko tetap terjaga dan tidak terkonsentrasi secara berlebihan pada satu sektor tertentu,” ucapnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow