Kisah Atikasahila, Menenun Pengabdian di Balik Bilik Mengaji dan Harapan untuk Kesejahteraan Guru Ngaji
Di tengah deru modernitas, sosok-sosok penjaga moral bangsa seringkali bergerak dalam senyap, jauh dari hiruk-pukuk apresiasi materi yang besar.
JEMBER
Di tengah deru modernitas, sosok-sosok penjaga moral bangsa seringkali bergerak dalam senyap, jauh dari hiruk-pukuk apresiasi materi yang besar.
Salah satunya adalah Atikasahila (26), seorang ibu rumah tangga yang telah mewakafkan empat tahun terakhir hidupnya untuk menjadi pelita bagi anak-anak di lingkungan Pondok Al-Azhar (Semaza) melalui jalur mengaji.
Lahir dari rahim pesantren, Atikasahila membawa semangat santri yang kental: bahwa ilmu adalah amanah yang harus disampaikan, bukan komoditas yang diperjualbelikan.
Meskipun profesi utamanya adalah mengurus rumah tangga, panggilan untuk mengajar di musala tetap ia jalankan dengan konsisten.
Dalam sebuah perbincangan hangat, Atika mengungkapkan realita yang dihadapi oleh banyak guru ngaji di akar rumput.
Dengan jadwal mengajar yang tidak setiap hari, ia menerima honorarium di kisaran Rp100.000 per bulan.
Angka yang bagi sebagian orang mungkin hanya cukup untuk sekali makan, namun bagi Atika, itu adalah bentuk keberkahan.
"Kalau buat guru ngaji, memang tidak bisa dijadikan acuan pekerjaan utama. Karena saya lulusan pesantren, intinya adalah mengabdi. Saya tidak mengharapkan (materi) itunya," ujar Atikasahila dengan nada rendah hati. Selasa (10/3/2026).
Bagi Atika, insentif yang ia terima bukan sekadar upah, melainkan bonus dari sebuah perjalanan spiritual mendidik generasi muda.
Ia memandang peran ini sebagai kontribusi nyata bagi masyarakat, meski harus membagi waktu dengan urusan domestik sebagai ibu rumah tangga.
Keberlangsungan pengabdian para guru ngaji ini tidak lepas dari perhatian pemerintah daerah.
Atikasahila secara khusus menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya kepada Bupati Jember Muhammad Fawait atas inisiatif pemberian bantuan honorarium bagi para guru ngaji.
Program ini dinilai sebagai bentuk pengakuan negara terhadap peran krusial guru agama di tingkat desa dan kelurahan.
"Terima kasih banyak untuk gus bupati, terutama untuk melanjutkan honorarium bantuan guru ngaji ini. Harapan saya, program ini bisa terus berkelanjutan ke depannya," tambahnya.
Kisah Atika adalah potret ribuan guru ngaji lainnya yang menjadi benteng pertahanan karakter anak bangsa.
Dukungan berkelanjutan dari pemerintah, seperti yang diharapkan Atika, menjadi krusial agar api semangat pengabdian ini tidak padam oleh beban ekonomi yang kian menghimpit. (*)
Apa Reaksi Anda?