Ketika Dapur MBG di Kota Malang Jadi Wisata Edukasi, Siswa pun Belajar Gizi dari Asap Makanan
Mereka tak sekadar memasak makanan bergizi gratis untuk ribuan siswa, tetapi juga mengubah dapur menjadi ruang belajar kehidupan.
MALANG - Pagi itu, Senin (25/5/2026) aroma nasi hangat dan sayur yang baru matang perlahan memenuhi ruang dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukoharjo 1 Klojen, Kota Malang, Jatim. Di balik denting peralatan masak dan uap yang mengepul dari steam rice, sebuah gagasan baru sedang disiapkan.
Mereka tak sekadar memasak makanan bergizi gratis untuk ribuan siswa, tetapi juga mengubah dapur menjadi ruang belajar kehidupan.
Program itu diberi nama sederhana: visiting program atau wisata dapur.
Namun maknanya jauh lebih besar dari sekadar kunjungan biasa.
Melalui arahan langsung Badan Gizi Nasional, dapur MBG di Kota Malang akan dibuka untuk para siswa penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Anak-anak akan diajak melihat sendiri bagaimana makanan sehat diproses, bagaimana kebersihan dijaga, hingga bagaimana sisa makanan diolah agar tidak mencemari lingkungan.
Di sana, pelajaran tentang gizi tidak lagi berhenti di buku atau poster dinding sekolah. Anak-anak akan menyaksikan sendiri perjalanan sepiring makanan sebelum sampai ke meja makan mereka.
Kepala SPPG Sukoharjo 1 Klojen, Muhammad Wisam Anugrah, mengatakan program tersebut dirancang agar siswa memahami bahwa makanan sehat bukan hadir secara instan.
“Ada proses panjang di balik makanan yang mereka makan setiap hari. Kami ingin anak-anak memahami pentingnya gizi, kebersihan, dan menghargai makanan,” ujarnya.
Kelak, para siswa akan berjalan memasuki area dapur modern MBG. Mereka akan melihat langsung alat-alat besar yang selama ini mungkin hanya mereka bayangkan dari televisi atau video internet. Ada mesin steam rice raksasa, sistem ducting penghisap udara, hingga Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memastikan limbah dapur tetap ramah lingkungan.
Bagi sebagian anak, itu mungkin menjadi pengalaman pertama melihat dapur industri modern dari dekat.
Namun bukan hanya teknologi yang ingin diperkenalkan.
Anak-anak juga akan dikenalkan pada cerita di balik bahan makanan mereka. Dari mana beras berasal. Siapa petani yang menanam sayuran. Bagaimana telur, lauk, dan buah-buahan diproduksi sebelum tiba di piring mereka.
Ada pelajaran tentang rantai pangan. Tentang kerja keras petani. Tentang menghargai setiap butir nasi.
“Supaya anak-anak tahu bahwa makanan itu tidak datang begitu saja. Ada proses panjang dan banyak orang yang bekerja di baliknya,” kata Wisam.
Di Kota Malang, salah satu mitra Badan Gizi Nasional yang akan menjalankan program tersebut adalah Yayasan Batik Tulis Celaket Malang. Yayasan itu menaungi operasional SPPG Sukoharjo 1 Klojen.
Ketua yayasan, Hanan Djalil, menyebut dapur MBG sejatinya tidak hanya berfungsi sebagai tempat memasak.
Menurutnya, dapur juga bisa menjadi ruang pendidikan sosial dan kesehatan bagi anak-anak.
“Pada dasarnya kami mendukung penuh. Karena tugas dapur bukan hanya memberi makan, tetapi juga memberi edukasi tentang pentingnya gizi seimbang,” katanya.
Bagi Hanan, selama ini banyak anak memahami makan hanya sebatas kenyang. Padahal, makanan memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang, konsentrasi belajar, hingga perkembangan intelektual mereka.
Karena itu, wisata dapur ingin menghadirkan pemahaman yang lebih sederhana namun membekas.
Anak-anak akan diperlihatkan bagaimana standar kebersihan diterapkan secara ketat. Mulai penggunaan sarung tangan, kebersihan alat masak, proses distribusi makanan, hingga pengelolaan sampah makanan.
Mereka juga akan diajak memahami mengapa makanan bergizi penting bagi tubuh mereka.
“Semua standar yang diterapkan BGN itu demi kesehatan anak-anak. Jadi mereka bukan hanya makan, tetapi juga belajar hidup sehat,” ujarnya.
Yang menarik, program tersebut tidak dibuat kaku layaknya kunjungan formal sekolah.
Untuk membuat suasana lebih menyenangkan, yayasan juga menyiapkan berbagai permainan edukatif. Anak-anak dari tingkat TK hingga SMA akan diajak mengikuti kuis sederhana tentang kesehatan, gizi, dan kebersihan lingkungan.
Bagi yang berhasil menjawab pertanyaan, hadiah kecil sudah disiapkan. Suasana dapur yang biasanya identik dengan kesibukan para pekerja, nantinya akan berubah menjadi ruang interaktif penuh tawa anak-anak.
Program wisata dapur ini rencananya mulai berjalan setelah Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
Di tengah berbagai perdebatan publik tentang program MBG secara nasional, langkah kecil di Kota Malang itu menghadirkan sisi lain yang jarang terlihat. Bahwa dapur bukan hanya tempat produksi makanan massal, tetapi juga ruang membangun budaya hidup sehat sejak dini.
Pelan-pelan, program itu mencoba mengubah cara pandang anak-anak terhadap makanan.
Bahwa sepiring nasi bukan sekadar menu makan siang.
Di dalamnya ada kerja petani, ada standar kesehatan, ada disiplin kebersihan, ada kepedulian lingkungan, dan ada harapan tentang masa depan generasi yang lebih sehat.
Kota Malang mungkin sedang menyiapkan sesuatu yang sederhana. Sebuah wisata dapur.
Namun dari ruang penuh aroma masakan itu, pendidikan tentang kehidupan sedang dimulai. (*)
Apa Reaksi Anda?