Ketegangan Selat Hormuz Memanas, Iran dan Oman Perkuat Solidaritas Hadapi Tekanan AS

Iran dan Oman memperkuat koordinasi terkait Selat Hormuz di tengah ancaman Amerika Serikat. Negosiasi damai Washington-Teheran masih menghadapi sejumlah hambatan krusial.

Mei 30, 2026 - 13:01
Ketegangan Selat Hormuz Memanas, Iran dan Oman Perkuat Solidaritas Hadapi Tekanan AS

JAKARTA - Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian geopolitik dunia. Jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi global itu kini tidak hanya menjadi simbol ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, tetapi juga menguji stabilitas kawasan Teluk Persia pascagencatan senjata yang rapuh.

Di tengah meningkatnya tekanan dari Washington, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan solidaritas penuh kepada Badr al-Busaidi terkait ancaman Amerika Serikat yang menyoroti peran Oman dalam isu pengelolaan Selat Hormuz.

Dalam pernyataannya melalui platform X pada Jumat, Araghchi mengungkapkan bahwa pembicaraan dengan Oman berlangsung produktif dan mencakup pembahasan mengenai masa depan pengelolaan Selat Hormuz sesuai prinsip kedaulatan negara dan hukum internasional.

“Dalam percakapan yang sangat produktif dengan Menlu Badr al-Busaidi, saya menyatakan solidaritas Iran dengan Oman dalam menghadapi ancaman apa pun,” tulis Araghchi.

Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Panas Geopolitik

Ketegangan terbaru dipicu peringatan keras dari Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, yang menyatakan Washington akan mengambil tindakan terhadap pihak mana pun yang membantu Iran menerapkan biaya transit di Selat Hormuz.

Situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan kontroversial yang mengancam Oman apabila negara tersebut berupaya mengambil kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut.

Ancaman tersebut menunjukkan bahwa Selat Hormuz kini bukan sekadar isu ekonomi, melainkan bagian dari pertarungan pengaruh dan keamanan kawasan yang melibatkan banyak kepentingan global.

Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melintasi Selat Hormuz. Karena itu, setiap ketegangan yang muncul di kawasan tersebut berpotensi memicu gejolak harga energi internasional sekaligus mengganggu rantai pasok global.

Kesepakatan Damai Masih Jauh dari Final

Di tengah situasi tersebut, Iran menegaskan bahwa peluang tercapainya kesepakatan permanen dengan Amerika Serikat masih terbuka, namun bergantung pada perubahan sikap Washington.

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa keberhasilan perundingan yang dimediasi Pakistan sangat ditentukan oleh kesediaan Amerika Serikat menghentikan tuntutan yang dianggap berlebihan dan mengakhiri posisi kebijakan yang dinilai kontradiktif.

Menurut Araghchi, sejumlah isu fundamental masih menjadi penghambat tercapainya kesepakatan akhir antara kedua negara.

Sebelumnya, Trump mengakui masih terdapat persoalan penting yang belum terselesaikan, terutama terkait program nuklir Iran dan pembukaan kembali akses normal di Selat Hormuz. Meski demikian, Washington mengklaim telah mencapai kesepahaman pada beberapa isu lain yang dianggap kurang strategis.

Bayang-Bayang Konflik Masih Menghantui

Ketegangan Iran-AS berakar dari konflik yang meletus pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Serangan tersebut menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban sipil, yang kemudian memicu serangan balasan dari Teheran terhadap kepentingan Amerika Serikat dan Israel di kawasan.

Meski kedua negara mengumumkan gencatan senjata pada 7 April, kondisi di lapangan masih jauh dari normal. Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran, sementara negosiasi lanjutan belum menghasilkan terobosan berarti.

Dalam konteks ini, dukungan Oman menjadi penting bagi Iran. Negara Teluk tersebut selama bertahun-tahun dikenal sebagai mediator yang relatif netral dalam berbagai konflik regional, termasuk dalam hubungan antara Washington dan Teheran.

Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting?

Posisi Selat Hormuz menjadikannya salah satu titik strategis paling vital di dunia. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini menjadi rute utama ekspor minyak dari negara-negara produsen energi seperti Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak.

Karena itu, setiap ancaman terhadap stabilitas Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi memengaruhi ekonomi global, harga energi, inflasi, hingga stabilitas pasar keuangan internasional.

Dengan negosiasi damai yang masih berjalan dan ketegangan diplomatik yang belum mereda, masa depan Selat Hormuz akan menjadi salah satu faktor penentu arah stabilitas geopolitik dan ekonomi dunia dalam beberapa bulan mendatang. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow