KemenPPPA dan UI Gelar Peringatan Hari Anak Nasional 2026, Tekankan Pembentukan Karakter Lewat Seni

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Universitas Indonesia melibatkan 500 anak melalui pentas seni dan edukasi budaya untuk membentuk karakter bangsa.

Juli 24, 2026 - 22:01
KemenPPPA dan UI Gelar Peringatan Hari Anak Nasional 2026, Tekankan Pembentukan Karakter Lewat Seni
JAKARTA -

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bekerja sama dengan Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia (UI) menggelar kegiatan seni, budaya, dan edukasi dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Depok, Jawa Barat.

Agenda peringatan HAN ke-42 tersebut melibatkan sebanyak 500 peserta didik dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga anak-anak penyandang disabilitas.

Rangkaian acara diisi beragam pertunjukan dan aktivitas edukatif, mulai dari penampilan grup kolintang anak, dolanan anak nusantara, live rappelling anak, tari tradisional, program Kita Cinta Lagu Anak Indonesia (Kila), hingga Pagelaran Wayang Kulit Anak. Antusiasme para peserta tampak tinggi sepanjang perhelatan berlangsung.

Direktur Kebudayaan UI, Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, mengutarakan bahwa momentum peringatan Hari Anak Nasional seyogianya tidak sekadar menjadi acara seremonial tahunan.

“Peringatan Hari Anak bukan hanya seremonial. Tetapi menjadi momentum refleksi untuk memberikan ruang untuk anak-anak bereskpresi, berkreasi dan tumbuh secara optimal,” ujar Ngatawi, Jumat (24/7/2026).

Hadir dalam agenda tersebut Wakil Menteri PPPA Veronica Tan, Wali Kota Depok Dr. Supian Suri, serta perwakilan dari BPIP, Kementerian Kelautan dan Perikanan, KPK, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Kebudayaan, KPAI, hingga Persatuan Insan Kolintang Indonesia (PINKAN) yang menghadirkan grup kolintang dari jenjang sekolah dasar hingga orang tua.

Dalam pengarahannya, Wakil Menteri PPPA Veronica Tan menggarisbawahi pentingnya menggunakan teknologi secara bijak serta pemenuhan ruang aman dan lingkungan yang positif bagi anak.

“Anak-anak harus berani mengatakan tidak terhadap segala bentuk tindakan maupun percakapan yang melanggar batas privasi mereka. Dukungan pemerintah daerah sangat penting dalam menghadirkan ruang aman, karena lingkungan yang positif sangat menentukan proses tumbuh kembang mental serta kebahagiaan anak,” kata Veronica Tan.

Sementara itu, Dr. Ngatawi Al-Zastrouw kembali menegaskan konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara, di mana proses belajar paling efektif dibangun melalui seni dan budaya.

“Pendidikan sejatinya adalah proses pembudayaan. Seni dan budaya menjadi cara paling efektif untuk membentuk karakter manusia. Anak-anak harus berkebudayaan dan mereka mempunyai hak untuk bermain, karena melalui bermain mereka belajar, mengembangkan kreativitas, memahami cara hidup yang sehat dan mempertajam kepekaan rasa,” tuturnya.

Selain pentas seni, peringatan HAN 2026 turut diisi sarasehan budaya bertajuk peran seni budaya sebagai sarana pembentukan karakter kebangsaan. Diskusi ini menghadirkan akademisi serta budayawan, di antaranya Jose Rizal Manua, Adolf Malantang, Dr. Eko Handayani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dan Dra. Eko Novi Ariyanti Rahayu Damayanti, M.Si.

Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan pementasan wayang kulit anak lakon Sang Gatotkaca sebagai perlambang keberanian, keteladanan, serta semangat generasi muda Indonesia. Melalui kolaborasi ini, KemenPPPA dan Direktorat Kebudayaan UI berharap seni dan budaya dapat terus menjadi bagian tak terpisahkan dari tumbuh kembang anak di tanah air. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow