Kembangkan Emotion Focus Coping, Dosen Psikologi FISIP UB Ciptakan Modul PRIMA

Tim dosen dari Departemen Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya berhasil mengembangkan modul Pelatihan Manajemen Stress dan Regulasi Emosi.

Februari 24, 2026 - 22:00
Kembangkan Emotion Focus Coping, Dosen Psikologi FISIP UB Ciptakan Modul PRIMA

MALANG Tim dosen dari Departemen Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya berhasil mengembangkan modul Pelatihan Manajemen Stress dan Regulasi Emosi (PRIMA) sebagai panduan cara mengelola stress melalui pendekatan praktik. Tim ini terdiri dari Yuli Rahmawati S.Psi., M.Psi., Fatiya Halum S.Psi., M.Psi., Elmy Bonafita S.Psi., M.Psi., dan Ziadatul Hikmiah, S.Pd, S.Psi., M.Sc, yang merupakan dosen Psikologi FISIP UB, serta satu mahasiswa aktif bernama Dea Nurul.

Modul ini diciptakan karena maraknya fenomena stress yang terjadi di lingkungan masyarakat. Entah stress karena pekerjaan, akademik, atau masalah hidup lainnya. 

“Makanya kami menciptakan modul ini sebagai panduan untuk melatih emosi supaya diolah menjadi lebih adaptif lagi,” ujar Yuli Rahmawati, Selasa (24/2/2026). 

Cover-modul-PRIMA.jpgIlustrasi - Cover modul PRIMA. (FOTO: Istimewa)

Menurutnya, modul ini berfokus pada emotion focus coping, dimana seseorang dapat mengelola emosi negatif dalam dirinya menjadi lebih adaptif. Yuli juga menjelaskan bahwa emosi ada yang positif dan negatif. Emosi positif dapat berubah menjadi motivasi, sedangkan emosi negatif dapat membuat seseorang merasa down. 

“Jadi dalam modul ini kita memperkenalkan dua macam stress, kemudian kita mengajarkan awareness dan mekanisme stress bekerja,” ujarnya.

Modul ini telah diujicobakan kepada 30 Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan melalui kolaborasi bersama Indonesia Economic and Trade Office (IETO) di Taipei. Menurut Yuli, Taipei menjadi tiga besar daerah yang memiliki PMI terbanyak setelah Malaysia dan Jepang. Banyak PMI disana yang mengeluhkan terkait stress dalam bekerja. Terutama mereka yang bekerja dalam sektor domestik seperti menjadi ART atau caregiver yang memiliki waktu bekerja hampir 24 jam. Bahkan Yuli menemukan kasus hingga percobaan bunuh diri akibat stress bekerja. 

“Banyak dari mereka stress, apalagi mereka tinggal di rumah majikan dan libur cuma sehari,” pungkasnya.

Karena kasus dapat membahayakan nyawa, maka harus ada langkah preventif yang nyata. Yuli dan tim membekali mereka dengan Training modul PRIMA dan meninggalkan flyer informasi disana. Flyer tersebut berisi barcode yang jika di scan akan memunculkan video panduan cara melakukan teknik relaksasi pernapasan, cara grounding, hingga cara bersyukur. 

Setelah diterapkan, ditemukan hasil bahwa cara dalam modul ini cukup berhasil. Tim memberikan pre-test sebelum training dan post-test sesudahnya. Hasilnya regulasi emosi para peserta cukup baik. Mereka yang awalnya tidak tau cara mengatasi emosi menjadi paham bagaimana mengelola perasaan sedih, marah, kecewa, dan emosi lainnya. 

Cara penyampaian dalam modul ini tidak pada praktik ceramah yang membosankan, tetapi menggunakan pendekatan experience learning. 

“Peserta harus melakukan refleksi individu, fungsinya supaya mereka memahami kalau melakukan ini rasanya bagaimana dan bisa memahami proses belajarnya,” imbuh Yuli.

Modul ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi praktisi psikologi, serta dapat diterapkan secara umum kepada seluruh lapisan masyarakat. 

“Kami berharap bisa jadi panduan praktisi psikolog untuk dapat mengadakan training dalam mengatasi stress menggunakan metode emotion focus coping,” tutupnya. 

Buku ini telah mendapatkan hak cipta dari Kementerian Hukum bernomor  001146503 yang akan berlaku selama 50 tahun sejak ciptaan pertama kali diumumkan. (*)

 

Pewarta: Miranda Lailatul Fitria

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow