Kasus Leptospirosis di Bantul Tembus 123 Pasien, Enam Meninggal

Secara keseluruhan, hingga akhir Mei 2026, kasus leptospirosis telah tersebar di 17 kapanewon di Kabupaten Bantul.

Juni 3, 2026 - 22:01
Kasus Leptospirosis di Bantul Tembus 123 Pasien, Enam Meninggal

BANTUL - Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul (Dinkes Bantul) mencatat sebanyak 123 kasus leptospirosis hingga 30 Mei 2026. Dari jumlah tersebut, enam pasien dilaporkan meninggal dunia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) Dinkes Bantul, Samsu Aryanto, mengatakan kasus leptospirosis masih ditemukan di hampir seluruh kapanewon di Kabupaten Bantul.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Bantul, Kapanewon Bantul menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 16 kasus. Posisi berikutnya ditempati Kapanewon Kasihan dengan 15 kasus dan Kapanewon Pandak sebanyak 14 kasus.

Sementara itu, Kapanewon Sewon mencatat 10 kasus, Pajangan 9 kasus, Jetis 8 kasus, serta Bambanglipuro dan Kretek masing-masing 7 kasus. Adapun Banguntapan, Dlingo, dan Pleret masing-masing melaporkan 6 kasus.

Selanjutnya, Kapanewon Srandakan mencatat 5 kasus, Imogiri dan Pundong masing-masing 4 kasus, sedangkan Piyungan, Sanden, dan Sedayu masing-masing 2 kasus.

Secara keseluruhan, hingga akhir Mei 2026, kasus leptospirosis telah tersebar di 17 kapanewon di Kabupaten Bantul dengan total 123 kasus dan enam kematian.

Tingginya angka kasus tersebut menjadikan leptospirosis sebagai salah satu penyakit yang perlu mendapat perhatian serius, terutama di wilayah dengan jumlah kasus tertinggi seperti Bantul, Kasihan, dan Pandak.

Samsu mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, serta menggunakan alat pelindung saat beraktivitas di area yang berpotensi tercemar.

"Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kebersihan lingkungan guna menekan risiko penularan penyakit tersebut," ujar Samsu. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow