Iran Siapkan Peluncur Rudal untuk Tenggelamkan Semua Kapal AS

Angkatan Bersenjata Iran tengah menyiapkan peluncur rudal yang diproyeksikan untuk menghantam dan menenggelamkan semua kapal perang Amerika Serikat di Selat Hormuz.

April 16, 2026 - 21:03
Iran Siapkan Peluncur Rudal untuk Tenggelamkan Semua Kapal AS

JAKARTA - Angkatan Bersenjata Iran tengah menyiapkan peluncur rudal yang diproyeksikan untuk menghantam dan menenggelamkan semua kapal perang Amerika Serikat di Selat Hormuz.

Anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran, Mohsen Rezaei dalam sebuah wawancara televisi, Rabu malam mengatakan, perlunya memberikan tekanan lebih besar kepada musuh.

"Tekanan harus ditingkatkan. Peluncur rudal kita sekarang telah diarahkan ke kapal perang, dan kita akan menenggelamkan semuanya,” kata Mohsen Rezaei yang juga mantan Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) itu.

Soal upaya AS yang memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran, ia menambahkan bahwa rencana tersebut pasti akan gagal.

"Sama seperti Amerika Serikat yang mengalami kekalahan bersejarah dalam upaya membuka Selat Hormuz, mereka juga ditakdirkan untuk gagal dalam blokade angkatan laut," tegas Rezaei.

Dia mengatakan bahwa Angkatan Bersenjata Iran tidak akan pernah membiarkan Amerika Serikat mencapai keberhasilan apa pun dalam melanjutkan blokade lautnya dan memiliki "pengaruh besar yang belum dimanfaatkan" untuk melawannya.

Ia menegaskan kembali, bahwa Amerika Serikat tidak memiliki rencana untuk mengakhiri perang yang mereka lancarkan bersama rezim Israel melawan Republik Islam Iran.

"Bahkan rencana terbaru mereka, mereka bermaksud mengerahkan pasukan terjun payung di kota Isfahan, Iran untuk merebut uranium kami untuk merekayasa sebuah pencapaian bagi diri mereka sendiri," katanya.

Iran memberlakukan pembatasan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz tersebut setelah secara tiba-tiba diserang Amerika Serikat bersama Israel pada 28 Februari 2026 lalu.

Saat ini Donald Trump telah memerintahkan angkatan lautnya memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran di Teluk Persia dan Laut Oman. Militer AS menyatakan blokade tersebut mulai berlaku hari Senin kemarin.

Dalam unggahan di Truth Social miliknya pada hari Minggu, Trump mengatakan Angkatan Laut AS "akan memulai proses memblokade semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz."

IRGC memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan melanggar gencatan senjata rapuh selama dua minggu yang telah disepakati antara Iran dan AS untuk menghentikan pertempuran sengit selama 40 hari yang mulai berlaku pekan lalu.

Komando militer pusat Iran juga memperingatkan akan adanya respons regional yang lebih luas jika pelabuhan-pelabuhan Iran diganggu.

"Jika Amerika Serikat yang agresif dan teroris itu terus melakukan tindakan ilegal memblokade maritim di kawasan tersebut dan menciptakan ketidakamanan bagi kapal-kapal komersial dan tanker minyak Iran, maka tindakan AS itu akan menjadi pendahulu pelanggaran gencatan senjata, dan Angkatan Bersenjata Iran yang kuat tidak akan mengizinkan ekspor atau impor apa pun di wilayah Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah untuk terus berlanjut," kata Komandan Markas Besar Khatam al-Anbia Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Rabu.

"Iran akan mengambil tindakan tegas untuk mempertahankan kedaulatan dan kepentingan nasionalnya," tegas komandan tersebut.

Pada hari Rabu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga memperingatkan tentang "konsekuensi berbahaya" dari posisi dan tindakan provokatif AS yang menargetkan Teluk Persia dan Selat Hormuz yang strategis.

Disisi lain wawancaranya, Rezaei mengatakan, bahwa ia percaya memperpanjang gencatan senjata bukanlah kepentingan Iran.

"Gencatan senjata itu akan bermakna jika semua kesepakatan dan hak-hak kita dipenuhi dan resolusi diajukan ke Dewan Keamanan PBB," tambahnya.

Pejabat tersebut menyebutkan pertimbangan "moral dan kemanusiaan" terhadap negara lain sebagai salah satu alasan Iran menyetujui gencatan senjata sementara.

Sembari menyinggung kemungkinan diadakannya putaran pembicaraan berikutnya abdengan AS, ia menekankan perlunya "kewaspadaan" dan detail setiap negosiasi dimasa mendatang.
"Kami harus peka dan jeli terhadap setiap kata," tambah Rezaei.

Ia menyimpulkan dengan dua prediksi, yaitu bahwa AS akan berhenti dan menerima sepuluh syarat Iran, yang menurutnya tidak mungkin terjadi, atau AS akan terus melanjutkan upaya putus asa untuk memenangkan perang.

Meskipun kurang lebih 21 jam negosiasi dan upaya diplomatik oleh para negosiator tingkat tinggi Iran dan Amerika di ibu kota Pakistan, Islamabad, selama akhir pekan, justru tuntutan berlebihan AS yang menjadi penyebab gagalnya tercapainya kesepakatan.

Delegasi Iran, yang dipimpin Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyampaikan berbagai inisiatif selama pembicaraan, tetapi Amerika Serikat menghambat kemajuan dalam pembicaraan tersebut. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow