Ingin Serang Iran Lagi, Trump Minta Sekutu Mendukungnya Buka Selat Hormuz

Presiden AS Donald Trump mendesak sekutu-sekutunya untuk mengerahkan kapal ke Selat Hormuz.

Maret 16, 2026 - 09:30
Ingin Serang Iran Lagi, Trump Minta Sekutu Mendukungnya Buka Selat Hormuz

JAKARTA Belum puas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan menyerang lagi pusat ekspor minyak Pulau Kharg Iran, dan ia mendesak sekutu-sekutunya untuk mengerahkan kapal ke Selat Hormuz jalur utama pasokan minyak dunia, namun tak satupun sekutunya merespon.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi mengatakan Iran akan menanggapi setiap serangan terhadap fasilitas energinya.

Sementara itu Garda Revolusi Iran , hati Minggu (15/3/2026) bersumpah akan membunuh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. "Jika penjahat pembunuh anak-anak ini masih hidup, kami akan terus mengejar dan membunuhnya dengan kekuatan penuh," kata mereka di situs web mereka, Sepah News.

Perang AS-Israel di Iran memasuki minggu ketiga. Trump juga mengatakan serangan AS telah "benar-benar menghancurkan" pulau Kharg, dan ia bertekad akan menyerang lagi. "Kita mungkin akan menyerangnya beberapa kali lagi untuk bersenang-senang," katanya kepada NBC News, Sabtu (14/3/2026).

Perang tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Trump mengatakan Iran tampaknya siap untuk membuat kesepakatan untuk mengakhiri konflik tetapi "syaratnya belum cukup baik."

Kemampuan Iran untuk menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz, yang dilalui seperlima minyak dunia, menimbulkan masalah sulit bagi Amerika Serikat dan sekutunya. Harga energi melonjak karena perang menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar yang pernah ada, dan krisis energi tampaknya akan berlanjut.

"Negara-negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur tersebut, dan kami akan membantu — SANGAT!" tulis Trump dalam unggahan media sosial pada hari Sabtu. "AS juga akan berkoordinasi dengan negara-negara tersebut agar semuanya berjalan cepat, lancar, dan baik," tulisnya kemudian.

Perang yang dilancarkan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu pada 28 Februari lalu telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, sebagian besar korban di pihak Iran. Setidaknya 15 orang juga tewas ketika serangan udara menghantam pabrik lemari es dan pemanas di kota Isfahan, Iran tengah, kata kantor berita semi-resmi Fars pada hari Sabtu.

Garda Revolusi Iran juga mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka telah melakukan serangan rudal dan drone terhadap target di Israel dan tiga pangkalan AS di wilayah tersebut, menyebut serangan itu sebagai putaran pertama pembalasan atas pekerja yang tewas di daerah industri Iran. Militer Israel mengatakan mereka mencegat peluncuran yang datang.

Arab Saudi mencegat dan menghancurkan 10 drone di Riyadh dan wilayah timur, kata kementerian pertahanan. Namun kantor berita semi-resmi Fars. Melaporkan, Garda Revolusi Iran mengatakan mereka tidak memiliki hubungan dengan serangan itu.

Sebuah serangan drone mengganggu pusat energi utama Uni Emirat Arab pada hari Sabtu, dan AS memperingatkan warga AS pada hari Sabtu untuk meninggalkan Irak.

Tidak Digubris

Sementara itu hingga kini belum satupun negara sekutu Trump yang menanggapi  permintaannya untuk mengawal Selat Hormuz agar tetap bisa dibuka.

Dalam sebuah unggahan di platform Truth Social miliknya, Trump mendesak China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz. Tetapi tak satu pun dari negara-negara tersebut memberikan indikasi langsung bahwa mereka akan melakukannya.

Takayuki Kobayashi, kepala kebijakan partai yang berkuasa di Jepang, menolak untuk mengesampingkan kemungkinan tersebut, tetapi mengatakan kepada penyiar publik NHK bahwa "ambang batas hukum sangat tinggi."

Jepang menafsirkan konstitusi pasifis pascaperangnya sebagai hak untuk mengerahkan militernya jika kelangsungan hidup negara terancam, tetapi pemerintah harus menggunakan undang-undang keamanan tahun 2015 yang belum pernah digunakan.

Prancis sendiri berupaya untuk membentuk koalisi untuk mengamankan Selat Hormuz tetapi setelah situasi keamanan stabil. Sementara Inggris sedang membahas berbagai opsi dengan sekutu untuk memastikan keamanan pelayaran, kata para pejabat.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang menggantikan ayahnya yang terbunuh, mengatakan Selat Hormuz harus tetap tertutup. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow