Gubernur Khofifah Tekankan Penguatan Ekosistem dan Filosofi Reog Ponorogo

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menekankan penguatan filosofi dan ekosistem Reyog Ponorogo pasca pengakuan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda.

April 14, 2026 - 20:30
Gubernur Khofifah Tekankan Penguatan Ekosistem dan Filosofi Reog Ponorogo

SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya penguatan ekosistem kesenian Reog sebagai warisan budaya dunia yang berkelanjutan. Hal ini menyusul ditetapkannya Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO pada kategori In Need of Urgent Safeguarding.

Penegasan tersebut disampaikan Khofifah saat menerima seniman Tim Reog Kiai Lodra di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (14/4/2026). Dalam pertemuan itu, Khofifah menyerahkan bantuan dana pembinaan sebesar Rp25 juta untuk mendukung persiapan tim menuju Festival Reog Nasional Ponorogo (FRNP) 2026 yang akan digelar Juni mendatang.

Gubernur Khofifah menekankan bahwa Reog bukan sekadar atraksi seni pertunjukan, melainkan representasi nilai, filosofi, dan identitas bangsa.

“Reog bukan sekadar atraksi. Di dalamnya ada filosofi yang sangat kuat tentang keberanian, kebenaran, dan bagaimana keberagaman dirajut dalam harmoni budaya,” ujar Khofifah.

Menurutnya, pengakuan internasional harus dijawab dengan langkah konkret dalam memperkuat pelestarian, regenerasi, hingga keberlanjutan pertunjukan. Salah satu poin krusial yang menjadi perhatian UNESCO adalah aspek animal welfare.

“Kita harus memastikan bahwa dalam pertunjukan Reog tidak lagi menggunakan material dari satwa dilindungi. Ini bagian dari komitmen kita terhadap standar global,” jelasnya.

KIP

Dorong Regenerasi dan Event Rutin

Khofifah mengingatkan bahwa kunci pelestarian adalah konsistensi regenerasi pelaku seni. Ia mendorong penyelenggaraan event budaya secara rutin sebagai ruang bagi para seniman untuk mengasah dedikasi.

“Harus sering ada pentas agar regenerasi berjalan maksimal. Ketika tumbuh rasa bangga, maka akan muncul dedikasi untuk melestarikan,” imbuhnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim, Evy Afianasari, menyatakan pihaknya terus berkolaborasi dengan institusi pendidikan seperti STKW, SMK 12 Surabaya, dan Unesa untuk memperkuat pelatihan serta kreativitas sanggar seni.

Terkait kendala material, Disbudpar Jatim tengah menjajaki kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

“Kami mengupayakan solusi keberlanjutan melalui pengembangbiakan burung merak Jawa untuk mengatasi keterbatasan material yang selama ini digunakan,” kata Evy.

Perwakilan Tim Reog Kiai Lodra, Joko Winarko, mengapresiasi dukungan Pemprov Jatim. Ia menyatakan keikutsertaan dalam FRNP 2026 merupakan bentuk komitmen generasi muda dalam menjaga eksistensi Reog di kancah global. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow