Gempa Kembar Venezuela, Apa Itu Doublet Earthquake dan Seberapa Langka?
Dua gempa besar yang mengguncang Venezuela merupakan fenomena "doublet earthquake". Simak penjelasan ilmiah mengenai penyebab, kelangkaan, hingga potensi gempa susulan.
MALANG - Dua gempa bumi besar yang mengguncang pantai utara Venezuela pada Rabu (24/6/2026) malam waktu setempat atau Kamis pagi WIB dan menewaskan lebih dari 188 orang ternyata merupakan fenomena langka yang dikenal sebagai doublet earthquake atau gempa kembar. Peristiwa ini terjadi ketika dua gempa dengan magnitudo yang hampir sama mengguncang wilayah yang berdekatan hanya dalam hitungan detik.
Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa pertama berkekuatan magnitudo 7,2 terjadi lebih dahulu, kemudian disusul gempa berkekuatan magnitudo 7,5 hanya 39 detik setelahnya.
Rangkaian gempa tersebut menyebabkan kerusakan luas di ibu kota Caracas dan sejumlah wilayah lainnya. Sedikitnya 1.500 orang mengalami luka-luka, ribuan warga dilaporkan hilang, sementara kawasan pesisir La Guaira menjadi salah satu daerah dengan kerusakan dan korban jiwa terbanyak.
Apa itu doublet earthquake?
Direktur Pusat Ilmu Gempa USGS di California, Christine Goulet, menjelaskan bahwa gempa kembar berbeda dengan pola gempa yang umum terjadi, yakni satu gempa utama yang diikuti gempa-gempa susulan dengan magnitudo jauh lebih kecil.
Pada fenomena doublet, dua gempa besar memiliki kekuatan yang hampir setara dan terjadi dalam lokasi serta waktu yang sangat berdekatan.
"Fenomena seperti ini memang tidak sesering gempa biasa, tetapi dapat terjadi di berbagai belahan dunia," jelas Goulet.
Kejadian tersebut biasanya menunjukkan adanya struktur sesar yang kompleks. Di Venezuela, aktivitas gempa dipengaruhi oleh Sesar Bocono, jalur patahan sepanjang sekitar 500 kilometer yang membentang di Pegunungan Andes Venezuela.
Menariknya, Venezuela juga pernah mengalami gempa kembar pada September 2025 dengan magnitudo 6,2 dan 6,3 di wilayah barat Caracas. Saat itu satu orang meninggal dunia dan lebih dari 100 lainnya mengalami luka-luka.
Mengapa dua gempa besar bisa terjadi?
Para ahli menjelaskan bahwa gempa bumi umumnya terjadi di batas pertemuan lempeng tektonik. Dalam kasus Venezuela, dua gempa tersebut dipicu oleh pergeseran pada batas antara Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan.
Lempeng Karibia bergerak ke arah timur relatif terhadap Lempeng Amerika Selatan dengan kecepatan sekitar 2 sentimeter per tahun.
"Itu merupakan pergeseran yang cukup besar, sebanding dengan aktivitas pada Sesar San Andreas," kata Goulet.
Gempa kali ini dipicu oleh mekanisme strike-slip fault, yakni ketika dua blok batuan bergeser secara horizontal saling melewati satu sama lain.
Namun, Goulet menegaskan bahwa jenis patahan tersebut tidak otomatis lebih berbahaya dibanding jenis patahan lainnya.
"Pergerakan yang lebih vertikal justru dapat menyebabkan kerusakan lebih besar. Tingkat kerusakan juga dipengaruhi panjang bidang patahan dan berbagai faktor lainnya," ujarnya.
Senada dengan itu, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Kelautan Universitas South Florida, David Naar, mengatakan bahwa batas lempeng antara Karibia dan Amerika Selatan relatif tidak seaktif beberapa zona subduksi lain di dunia.
Seberapa sering Venezuela mengalami gempa besar?
Data USGS menunjukkan bahwa selama satu abad terakhir hanya tujuh gempa berkekuatan magnitudo 6 atau lebih yang terjadi di sekitar lokasi gempa terbaru.
Gempa besar lainnya tercatat pada 1975, 1989, 2009, serta gempa kembar pada 2025.
Sementara itu, gempa paling mematikan dalam sejarah modern Venezuela terjadi pada Juli 1967 dengan magnitudo 6,6 yang menewaskan ratusan orang.
Bahkan jika ditarik lebih jauh ke belakang, gempa paling dahsyat pernah terjadi pada Maret 1812 di sepanjang sistem Sesar Bocono yang diperkirakan merenggut sekitar 30.000 korban jiwa.
Apakah masih ada potensi gempa susulan?
Para ilmuwan menegaskan bahwa gempa bumi hingga kini belum dapat diprediksi. Namun, setelah gempa besar, kemunculan gempa susulan merupakan hal yang sangat umum.
USGS memperkirakan terdapat 99 persen peluang Venezuela akan mengalami sedikitnya satu gempa susulan berkekuatan magnitudo 4 atau lebih dalam sepekan ke depan. Bahkan terdapat sekitar 24 persen peluang terjadinya gempa susulan berkekuatan magnitudo 6.
Christine Goulet juga menyoroti bahwa Venezuela belum memiliki sistem peringatan dini gempa seperti yang digunakan di sejumlah negara lain.
"Sangat menyedihkan karena praktis tidak ada waktu bagi masyarakat untuk melakukan evakuasi. Itu benar-benar situasi yang sangat tidak menguntungkan," katanya.
Dengan potensi gempa susulan yang masih tinggi, otoritas Venezuela terus mengimbau masyarakat di wilayah terdampak agar tetap waspada, menghindari bangunan yang mengalami kerusakan, dan mengikuti arahan petugas selama proses tanggap darurat berlangsung. (*)
Apa Reaksi Anda?