Gandeng LSM, Balai Taman Nasional Kutai Optimalkan Perlindungan Satwa Terancam Punah

Balai Taman Nasional Kutai mengoptimalkan pengawasan 324 spesies fauna menggunakan teknologi kamera jebak dan drone thermal, serta menggandeng masyarakat lokal.

Juni 11, 2026 - 19:31
Gandeng LSM, Balai Taman Nasional Kutai Optimalkan Perlindungan Satwa Terancam Punah

SAMARINDA - Balai Taman Nasional Kutai (TNK) di Provinsi Kalimantan Timur terus mengoptimalkan fungsinya sebagai kawasan pelestarian alam. Langkah ini dilakukan guna menjaga kelangsungan hidup 324 spesies fauna, termasuk sejumlah satwa yang masuk dalam kategori terancam punah.

"Kami mencatat keanekaragaman fauna di Taman Nasional Kutai sebanyak 324 spesies, terdiri atas 90 jenis mamalia, 196 jenis kupu-kupu, dan 38 jenis fauna goa," kata Kepala Balai Taman Nasional Kutai Syaiful Bahri di Samarinda, Kamis (11/6/2026).

Syaiful menyampaikan bahwa kawasan perlindungan ini memberikan prioritas khusus bagi penyelamatan tiga satwa endemik yang berstatus terancam punah. Ketiganya adalah orangutan Kalimantan timur laut (Pongo pygmaeus morio), bekantan (Nasalis larvatus), serta banteng liar Kalimantan (Bos javanicus lowi).

Untuk memastikan pengawasan satwa berjalan maksimal di tengah potensi gangguan habitat, pihak pengelola kini beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi, seperti pesawat tanpa awak (drone thermal) dan kamera jebak (camera trap).

"Walaupun membutuhkan waktu hingga bulan ketiga agar hewan terbiasa dan mulai terekam, instrumen kamera jebak tersebut sangat membantu dalam menemukan kembali satwa langka, sebagai contoh kucing hutan jenis macan dahan yang sebelumnya disangka telah tiada," ucap Syaiful.

Lensa kamera pemantau tersebut juga menangkap pergerakan burung tokhtor Kalimantan. Selain itu, perangkat ini memastikan eksistensi burung kuau yang sempat ditemukan di wilayah Kecamatan Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur.

Mengingat besarnya tantangan pelestarian di lapangan, Balai TNK aktif menjalin sinergi dengan lembaga non-pemerintah. Salah satunya adalah Yayasan Jejak Pulang dari Samboja, guna memperkuat instrumen konservasi orangutan.

"Fokus utama kolaborasi tersebut saat ini adalah melakukan kajian terkait kelayakan habitat di kawasan hutan TNK sebagai titik pelepasliaran bagi orangutan yang telah siap dikembalikan ke alam bebas," paparnya.

Langkah lanjutan lainnya adalah kerja sama perlindungan fauna dengan Yayasan Orangutan Indonesia (Yayorin). Kemitraan ini berfokus pada pendampingan untuk melindungi sisa populasi banteng Kalimantan di area taman nasional.

Pengelola menyadari sepenuhnya bahwa upaya menjaga bentang alam yang mencakup wilayah Kota Bontang, Kabupaten Kutai Kartanegara, dan Kabupaten Kutai Timur ini mutlak membutuhkan dukungan dari warga lokal.

"Pelibatan masyarakat diwujudkan melalui pengembangan pariwisata minat khusus yang menggandeng Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk menjadikan warga sebagai garda terdepan pelindung hutan sekaligus penggerak ekonomi daerah lewat program Perhutanan Sosial," ungkap Syaiful.

Sebagai informasi, Taman Nasional Kutai merupakan kawasan pelestarian alam seluas 193.753,42 hektare. Wilayah ini terbagi atas tujuh tipe ekosistem dengan dominasi hutan dipterokarpa yang mencapai 145.745,46 hektare. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow