Eksperimentasi Agronomi di Laboratorium Alam MTsN 9 Jombang: Analisis Komparatif Nutrisi Organik vs Anorganik Tanaman Solanaceae
Laboratorium Alam MTsN 9 Jombang kembali menjadi pusat perhatian melalui program integrasi kurikulum sains dengan praktik agrikultur berbasis penelitian.
JOMBANG Laboratorium Alam MTsN 9 Jombang kembali menjadi pusat perhatian melalui program integrasi kurikulum sains dengan praktik agrikultur berbasis penelitian. Tahun ini, kegiatan tidak hanya berfokus pada budidaya tanaman tomat (Solanum lycopersicum) dan terong (Solanum melongena), tetapi juga mencakup penelitian komparatif mengenai efektivitas pupuk organik dan pupuk anorganik terhadap pertumbuhan tanaman.
Program ini melibatkan ratusan siswa dalam proses pengambilan data empiris guna memahami hubungan antara ketersediaan unsur hara dan laju pertumbuhan tanaman secara ilmiah.
Metodologi Penelitian: Dua Blok Eksperimen
Penelitian diawali dengan pembagian lahan menjadi dua blok eksperimen. Blok A menggunakan pupuk organik berupa kompos dan pupuk kandang hasil dekomposisi limbah ternak. Sementara itu, Blok B diaplikasikan pupuk anorganik sintetis dengan komposisi NPK seimbang.
Siswa melakukan pengolahan tanah secara manual menggunakan cangkul untuk menciptakan struktur tanah yang remah dan mendukung penetrasi akar. Penanaman dilakukan dengan teknik transplanting, di mana bibit ditempatkan pada kedalaman seragam untuk menjaga stabilitas mekanis tanaman.
Sebagai bagian dari proses ilmiah, siswa melakukan pengukuran awal (baseline data) yang meliputi tinggi tanaman dan diameter batang menggunakan penggaris serta jangka sorong.
Observasi Pertumbuhan dan Analisis Vegetatif
Selama fase vegetatif, perawatan dilakukan secara tradisional tanpa sistem irigasi otomatis. Penyiraman dilakukan rutin untuk menjaga kelembapan tanah, sementara penyiangan dilakukan manual tanpa herbisida.
Pendekatan ini memungkinkan siswa mengamati langsung keanekaragaman hayati di sekitar tanaman. Mereka menemukan bahwa organisme tanah seperti cacing lebih banyak ditemukan pada blok pupuk organik, menandakan kondisi tanah yang lebih sehat.
Dalam aspek penelitian, siswa mencatat parameter pertumbuhan secara berkala, termasuk jumlah helaian daun dan intensitas warna daun sebagai indikator kandungan klorofil.
Hasil sementara menunjukkan bahwa tanaman pada blok anorganik mengalami pertumbuhan tinggi yang lebih cepat pada fase awal. Namun, tanaman pada blok organik memiliki struktur batang yang lebih kokoh dan lebih tahan terhadap fluktuasi suhu lingkungan.
Perbedaan Kualitas Buah dan Daya Simpan
Memasuki fase generatif, perbedaan kualitas buah mulai terlihat signifikan. Pemanenan dilakukan secara selektif dengan pengambilan buah satu per satu.
Siswa membandingkan massa jenis, tekstur, dan daya simpan hasil panen dari kedua perlakuan pupuk. Data menunjukkan bahwa tomat dan terong yang menggunakan pupuk organik memiliki tekstur daging buah lebih padat serta daya simpan lebih lama dibandingkan dengan hasil pupuk anorganik.
Temuan ini memberikan pemahaman mendalam tentang konsep pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture), di mana pupuk organik tidak hanya menyediakan nutrisi, tetapi juga memperbaiki sifat fisik dan biologis tanah dalam jangka panjang.
Dampak Pedagogis dan Literasi Sains
Keberhasilan program Laboratorium Alam ini menunjukkan bahwa metode tradisional justru memperkuat kemampuan observasi saintifik siswa. Dengan interaksi langsung tanpa ketergantungan pada teknologi otomatis, siswa mampu mengidentifikasi perubahan dan anomali tanaman secara lebih peka.
Melalui penelitian komparatif ini, siswa MTsN 9 Jombang tidak hanya belajar teori, tetapi juga bertransformasi menjadi peneliti muda yang mampu mengolah data dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta lapangan.
Program ini menegaskan bahwa kemajuan sains tidak harus memutus hubungan manusia dengan tradisi. Sebaliknya, pendekatan ilmiah dapat memperkaya praktik agrikultur tradisional melalui analisis yang akurat dan berbasis bukti. (*)
Apa Reaksi Anda?