Eksotika Budaya Religi Ramadan, 60 Dadak Merak Getarkan Bantarangin Ponorogo

Bukan sekadar hiburan, perhelatan bertajuk 'Eksotika Budaya Religi Ramadan' ini menjadi bukti nyata bahwa napas spiritualitas dan kelestarian budaya mampu berjalan beriringan di Bumi Reog.

Maret 9, 2026 - 14:00
Eksotika Budaya Religi Ramadan, 60 Dadak Merak Getarkan Bantarangin Ponorogo

PONOROGO Gema shalawat yang berpadu dengan suara selompret reog menciptakan atmosfer unik di pelataran Monumen Bantarangin, Kauman, Kabupaten Ponorogo, akhir pekan lalu.

Bukan sekadar hiburan, perhelatan bertajuk 'Eksotika Budaya Religi Ramadan' ini menjadi bukti nyata bahwa napas spiritualitas dan kelestarian budaya mampu berjalan beriringan di Bumi Reog.

​Tak kurang dari 60 Dadak Merak dari berbagai penjuru wilayah berkumpul, menyuguhkan pemandangan kolosal yang memukau ribuan pasang mata.

Barisan topeng macan berhias bulu merak tersebut tampak gagah di bawah langit, dengan atraksi yang menggetarkan tanah legenda Bantarangin.

​Hadir di tengah-tengah antusiasme warga, Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini. Menurutnya, Ramadan adalah momentum yang tepat untuk mempererat silaturahmi melalui jalur kebudayaan.

Ia menegaskan bahwa Reog Ponorogo harus tetap menyatu. Ini bukan sekadar tarian, melainkan kesenian adiluhung milik rakyat Ponorogo yang kini telah diakui dunia.

Reog.jpg

"Di bulan yang penuh berkah ini, kita tunjukkan bahwa identitas kita sebagai masyarakat berbudaya tidak luntur oleh zaman," ujar Lisdyarita dalam sambutannya.

​Bunda Rita, sapaan akrabnya, juga menekankan bahwa status Reog sebagai warisan budaya tak benda dunia menuntut tanggung jawab moral bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus menghidupkannya dalam berbagai konteks, termasuk dalam bingkai kegiatan religi.

​Senada dengan hal tersebut, sesepuh Reog Ponorogo, Supriono Golan, memandang bahwa kehadiran Reog di bulan Ramadan memiliki filosofi mendalam.

Baginya, Reog adalah alat pemersatu yang mampu mengumpulkan massa untuk tujuan yang positif. Dan ia meyakini bahwa kesenian ini adalah sarana dakwah kultural para leluhur dulu.

"Hari ini, dengan 60 Dadak Merak yang tampil bersama, kita mengirim pesan bahwa persaudaraan orang Ponorogo itu kuat. Meskipun sedang menjalankan ibadah puasa, semangat untuk melestarikan warisan nenek moyang tidak boleh kendur," tutur  Supriono.

​Selain aspek budaya, gelaran ini juga menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan. Ratusan UMKM di sekitar area Monumen Bantarangin turut merasakan dampak positif dari membludaknya pengunjung.

​Kombinasi antara wisata religi dan pertunjukan seni berskala besar ini diharapkan menjadi agenda tahunan yang mampu menarik wisatawan mancanegara, sekaligus mengukuhkan posisi Ponorogo sebagai pusat kebudayaan di Jawa Timur yang tetap relevan di tengah modernitas. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow