Dosen Unipma Latih Guru Bikin Animasi Pembelajaran berbasis AI, 92 Persen Peserta Langsung Paham
Transformasi digital di dunia pendidikan tidak lagi sekadar jargon bagi guru di SD Gugus Oro-Oro Ombo, Kota Madiun. Puluhan guru kini mulai beradaptasi dengan teknologi kecerdasan buatan (AI)
MADIUN - Transformasi digital di dunia pendidikan tidak lagi sekadar jargon bagi guru di SD Gugus Oro-Oro Ombo, Kota Madiun. Puluhan guru kini mulai beradaptasi dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membuat media pembelajaran berbasis animasi yang lebih interaktif dan menarik bagi siswa sekolah dasar. Kegiatan ini diinisiasi oleh dosen Unipma Madiun (Universitas PGRI Madiun) dalam program pengabdian masyarakat ini mengusung tema “Peningkatan Digitalisasi Sekolah Melalui Media Pembelajaran Animasi Berbasis AI”.
Kegiatan berlangsung mulai tanggal 8 Mei 2026. Namun layanan konsultasinya masih dibuka sampai saat ini, melalui pelatihan intensif dan praktik langsung pembuatan konten pembelajaran digital.
Kegiatan ini menjadi jawaban atas tantangan klasik di sekolah dasar: metode pembelajaran yang masih didominasi ceramah dan penggunaan media konvensional, yang membuat siswa kurang aktif di kelas.“Anak-anak sekarang sudah sangat visual, kalau pembelajaran tidak menarik secara visual, mereka cepat kehilangan fokus” ungkap Sumarsih, S.Pd.SD Perwakilan Gugus Oro-Oro Ombo.
Pelatihan ini dilakukan oleh dosen Unipma Madiun Dr. W. Linda Yuhanna, M.Si dan Dr. Ivayuni Listiani, M.Pd. Dalam pelatihan ini, guru tidak hanya diberi pemahaman teori tentang digitalisasi pendidikan dan AI, tetapi juga langsung mempraktikkan pembuatan animasi edukatif menggunakan platform Flow AI berbasis kecerdasan buat. Pendekatan ini dirancang agar guru tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi kreator media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Metode pelatihan mencakup empat tahap utama: sosialisasi kebutuhan sekolah, pengenalan konsep AI dalam pendidikan, praktik pembuatan animasi, serta evaluasi dan refleksi hasil karya peserta. Hasil evaluasi menunjukkan capaian yang cukup tinggi. Sebanyak 92 persen peserta memahami materi dengan baik, terutama terkait konsep AI dan penerapannya dalam media pembelajaran.
Selain itu, 88 persen guru berhasil membuat animasi edukatif secara langsung selama sesi praktik. Ini menunjukkan bahwa pendekatan hands-on training efektif dalam meningkatkan keterampilan teknis guru. Tidak hanya itu, 90 persen guru menyatakan siap menerapkan media berbasis AI di kelas masing-masing, sementara tingkat kepuasan terhadap pelatihan mencapai 92 persen.
Pemanfaatan animasi berbasis AI bukan hanya soal teknologi, tetapi juga menyentuh aspek pedagogis. Dengan media visual interaktif, konsep-konsep abstrak dalam pelajaran dapat divisualisasikan dengan lebih mudah dipahami siswa. Selain meningkatkan motivasi belajar, pendekatan ini juga mendorong literasi digital sejak usia dini, termasuk kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Di sisi lain, guru juga mengalami peningkatan kapasitas profesional dalam merancang pembelajaran yang lebih kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman. Program ini juga menjadi contoh nyata kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dasar dalam mempercepat transformasi digital pendidikan.
“Melalui pendampingan berkelanjutan, pengembangan konten animasi, serta integrasi ke kurikulum, inovasi ini diharapkan tidak berhenti sebagai program pelatihan sesaat, tetapi menjadi bagian dari sistem pembelajaran sekolah," ungkap Dr. Linda.
Digitalisasi pendidikan kini tidak lagi berada di masa depan—ia sudah masuk ke ruang kelas hari ini. Gugus SD Oro-Oro Ombo, Kota Madiun, menunjukkan bahwa langkah kecil ini menunjukkan bahwa guru-guru sekolah dasar pun mampu beradaptasi dengan teknologi AI jika diberikan pendampingan yang tepat.
Hasil positif program ini membuka peluang replikasi di sekolah lain sebagai model pengembangan pembelajaran berbasis teknologi yang lebih modern, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan generasi digital. (*)
Apa Reaksi Anda?