Donald Trump Tunda Serangan Besar ke Iran Setelah Dilobi Arab Saudi, Qatar, dan UEA
Donald Trump membatalkan rencana serangan besar terhadap Iran usai dilobi sekutu Timur Tengah. Ketegangan geopolitik tetap tinggi di tengah negosiasi damai dan ancaman perang nuklir.
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengurungkan niatnya untuk menyerang Iran dalam skala penuh yang ia jadwalkan Selasa (19/5/2026) hari ini, setelah ada permintaan dari sekutunya di Timur Tengah.
Trump setuju untuk mengurungkannya setelah dilobi Putra Mahkota Saudiz Mohammed bin Salman, serta para penguasa Qatar dan Uni Emirat Arab.
Trump mengumumkan pembatalannya itu di Truth Socialnya, bahwa dia 'tidak akan melanjutkan' serangan yang dijadwalkan pada hari Selasa hari ini, seraya bersumpah bahwa Iran tidak akan diizinkan memiliki bom nuklir dalam perjanjian perdamaian apa pun.
Sembilan negara yang diketahui memiliki senjata nuklir adalah Amerika Serikat, Rusia, Inggris Raya, Prancis, Tiongkok, India, Pakistan, Israel, dan Korea Utara.
Israel menerapkan kebijakan ambiguitas yang disengaja dan tidak pernah secara resmi mengkonfirmasi atau membantah kepemilikan senjata nuklir.
Negara-negara itu diperkirakan memiliki total persediaan lebih dari 12.200 hulu ledak nuklir.
Rinciannya:
Rusia : 5.459 hulu ledak
Amerika Serikat : 5.177 hulu ledak
China : 600 hulu ledak
Prancisb: 290 hulu ledak
Inggris : 225 hulu ledak
Indiab: 180 hulu ledak
Pakistan : 170 hulu
Israel : 90 hulu ledak
Korea Utara : 50 hulu ledak
Iran sejauh ini terbukti tidak memilikinya. Namun Iran memiliki program nuklir untuk kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan dan untuk perdamaian.
Namun Amerika Serikat yang terus menerus dibisiki Benjamin Netanyahu berambisi "menghabisi" Iran tentang program-program nuklirnya itu, meskipun Iran tidak memiliki senjata nuklir.
"Saya telah diminta untuk menunda serangan militer yang direncanakan terhadap Republik Islam Iran, yang dijadwalkan besok," tulis Trump, kemarin.
Dia mengatakan bahwa negosiasi serius sedang berlangsung dan bahwa sekutu Amerika di Teluk percaya bahwa kesepakatan dapat dicapai yang akan sangat biss diterima oleh Amerika Serikat.
"Kesepakatan ini, yang terpenting, tidak akan mencakup senjata nuklir untuk Iran. Berdasarkan rasa hormat saya kepada para Pemimpin yang disebutkan di atas," tambah Trump.
Trump telah menginstruksikan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan militer AS untuk membatalkan serangan hari Selasa, tetapi tetap bersiap siaga melakukan 'serangan skala besar dan penuh' terhadap Iran jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.
Hegseth, yang sangat berbeda dari norma Pentagon, saat ini berada di Kentucky untuk berkampanye bagi Ed Gallrein melawan musuh bebuyutan Trump, Anggota Kongres Thomas Massie.
Harga minyak tetap tinggi meskipun Trump mengisyaratkan bahwa kesepakatan damai mungkin akan segera tercapai. Minyak mentah Brent, patokan global, turun dari $112 per barel menjadi $109 per barel setelah berita tersebut.
Pada hari ke-80 AS-Israel yang memerangi Iran, sebuah sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters, bahwa Amerika Serikat telah menunjukkan fleksibilitas dengan mengizinkan Iran untuk melanjutkan aktivitas nuklir damai terbatas di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional.
Sebuah sumber AS mengatakan kepada Al Jazeera, bahwa Donald Trump cenderung mengambil tindakan militer, kecuali dia mendapatkan sesuatu dari Iran dalam beberapa hari ke depan.
Sebuah sumber Pakistan mengatakan kepada Reuters bahwa Islamabad telah memberi pengarahan kepada Amerika Serikat mengenai proposal revisi yang diajukan oleh Iran untuk mengakhiri perang.
TIDAK AKAN TUNDUK
Sementara itu Presiden Iran, Masoud Pezeshkian telah bersumpah untuk tidak pernah tunduk pada kekuatan mana pun atau mengorbankan martabat bangsa demi kenyamanan.
Pezehshkian mencatat bahwa musuh, setelah gagal membuat Iran bertekuk lutut dalam tiga hari, kini berupaya menciptakan perpecahan antara rakyat Iran dan para pejabatnya.
"Kita tidak akan tunduk. Saya tidak akan pernah tunduk di hadapan kekuatan mana pun. Kita tidak akan mengorbankan martabat negara demi mencari kenyamanan dan keinginan duniawi kita sendiri, tetapi kita harus mengelola negara dengan bijaksana dan hati-hati," tambahnya.
Ia lebih lanjut mencatat bahwa musuh-musuhnya itu, Amerika Serikat dan Israel secara tidak adil telah membunuh Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei tanpa logika ilmiah, hukum, atau hak asasi manusia apa pun.
Dia menyatakan bahwa mereka jugap membunuh para komandan, menteri, dan ilmuwan Iran, serta menjadikan para mahasiswa yang tidak bersalah sebagai martir.
Dia menambahkan bahwa mereka yang mengaku menjunjung tinggi hak asasi manusia dan hukum internasional melihat kejahatan-kejahatan itu. "Tetapi hanya berdiam diri dan menonton," tegasnya.
"Mereka melakukan hal yang sama kepada semua orang. Lihatlah Gaza dan Palestina, kekejaman-kekejaman apa saja mereka lakukan," kenangnya.
“Dan media Amerika justru membenarkannya, mengklaim bahwa mereka membela diri," katanya, seraya menambahkan bahwa mereka menyebut genosida sebagai pembelaan diri.
"Mereka memiliki kekuasaan dan kekuatan, dan mereka melakukan hal-hal ini," tegasnya lagi.
Pada tanggal 28 Februari 2026 lalu Amerika Serikat dan Israel tiba-tiba memerangi Iran tanpa provokasi dengan pembunuhan Ayatollah Khamenei dan beberapa komandan militer berpangkat tinggi.
Sebagai tanggapan, Angkatan Bersenjata Iran melakukan 100 gelombang serangan balasan selama 40 hari, menargetkan aset militer AS dan Israel, yang mengakibatkan kerusakan signifikan.
Gencatan senjata selama dua minggu yang dimediasi Pakistan disepakati pada tanggal 8 April, dimana delegasi Iran kembali ke Iran tanpa kesepakatan, dengan alasan ketidakpercayaan yang mendalam mengenai kesediaan Washington untuk menghormati komitmennya.
Iran telah menegaskan bahwa setiap upaya untuk kembali ke negosiasi gencatan senjata bergantung pada pencabutan blokade angkatan laut AS. Para pejabat mengatakan bahwa blokade yang berkelanjutan merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata.
Donald Trump mengatakan pada hari Minggu, bahwa 'waktu terus berjalan' bagi Iran untuk mencapai kesepakatan damai, sementara laporan muncul bahwa Presiden hampir melanjutkan serangan militer.
Namun Senin kemarin Trump mengurungkan niatnya itu melalui Social Truthnya untuk menyerang Iran dalam skala besar yang dijadwalkan Selasa (19/5/2026) hari ini, setelah dilobi sekutunya di Timur Tengah seperti Putra Mahkota Saudiz Mohammed bin Salman, serta para penguasa Qatar dan Uni Emirat Arab.
Apa Reaksi Anda?