Dolar Meroket, Laba Developer Perumahan Subsidi di Banyuwangi Makin Mepet

Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah mulai memberi tekanan pada sektor properti, termasuk industri perumahan di Banyuwangi.

Mei 26, 2026 - 14:31
Dolar Meroket, Laba Developer Perumahan Subsidi di Banyuwangi Makin Mepet

BANYUWANGI -  Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah mulai memberi tekanan pada sektor properti, termasuk industri perumahan di Banyuwangi.

Kondisi ini dirasakan para pengembang, terutama pada proyek rumah subsidi yang harga jualnya masih dibatasi pemerintah di tengah biaya pembangunan yang terus meningkat.

Ketua Real Estate Indonesia (REI) Komisariat Banyuwangi, H. Rindar Suhardiansyah, S.E., mengatakan bahwa kenaikan dolar memang berdampak pada harga sejumlah material bangunan, meski tidak semuanya mengalami efek yang sama.

Menurut Rindar, material lokal seperti pasir dan batu masih relatif stabil karena biaya produksinya berbasis domestik. Namun berbeda dengan material yang memiliki komponen impor atau mengikuti harga global.

“Material seperti besi, baja, aluminium, sanitary, keramik tertentu, cat, bahan kimia konstruksi, hingga sparepart alat berat pasti lebih sensitif terhadap pergerakan dolar. Efeknya juga terasa pada biaya rantai pasok,” kata Rindar, Selasa (26/5/2026).

Kondisi tersebut, dinilai berpotensi memengaruhi harga properti, baik perumahan komersial maupun rumah subsidi. Namun dampaknya diperkirakan akan lebih terasa pada sektor rumah komersial karena harga jualnya lebih fleksibel menyesuaikan biaya produksi.

Sementara itu, rumah subsidi menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Pasalnya, harga jual rumah subsidi masih ditetapkan pemerintah sehingga pengembang tidak leluasa menyesuaikan kenaikan biaya pembangunan.

“Kalau biaya material naik tetapi harga jual tetap, margin (laba) pengembang makin tertekan,” ucap Rindar.

CEO Luminor Hotel Banyuwangi dan pentolan Mahayasa Group ini menjelaskan, dampak pelemahan rupiah di Bumi Blambangan kemungkinan tidak terjadi secara instan.

Namun, jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, diikuti kenaikan harga material secara konsisten dan suku bunga kredit yang masih tinggi, Rindar menilai harga rumah komersial berpotensi ikut terdorong naik.

Di sisi lain, sektor rumah subsidi menghadapi tantangan yang lebih berat. Rindar menyebut, harga rumah subsidi sudah lebih dari dua tahun belum mengalami penyesuaian dari ketetapan pemerintah.

“Kondisi ini tidak hanya berdampak pada tekanan biaya bagi pengembang, tetapi juga berpotensi memperlambat pasokan rumah bagi masyarakat,” ungkapnya.

Meski demikian, pihak pengembang di Bumi Blambangan disebut tetap berkomitmen menjaga kualitas bangunan di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.

“Kami tetap berkomitmen untuk tidak mengurangi kualitas. Pengembang yang sehat tidak boleh mengorbankan kualitas struktur dan kelayakan bangunan. Strateginya adalah efisiensi, bukan degradasi,” tegasnya. (*)

 

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow