Dokter UMM Soroti Menu Program MBG yang Dinilai Belum Seimbang

Program Makan Bergizi Gratis mendapat sorotan dari akademisi UMM yang menilai sejumlah menu belum memenuhi prinsip gizi seimbang dan perlu pengawasan ahli gizi secara ketat.

Maret 8, 2026 - 15:00
Dokter UMM Soroti Menu Program MBG yang Dinilai Belum Seimbang

MALANG Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah terus mendapat sorotan dari kalangan tenaga kesehatan. Sejumlah temuan di lapangan menunjukkan menu yang disajikan dinilai belum sepenuhnya memenuhi prinsip gizi seimbang.

Dokter sekaligus akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. dr. Febri Endra Budi S., M.Kes., FISPH., FISCM, menyampaikan bahwa makanan bergizi seimbang harus mengandung unsur karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam porsi yang cukup.

“Kalau dulu kita mengenal istilah 4 sehat 5 sempurna, yakni terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur mayur, buah, dan susu,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat (7/3/2026).

Ia menjelaskan, kebutuhan gizi dasar idealnya terdiri dari sekitar 40 persen karbohidrat, 40 persen protein, dan sisanya lemak. Dalam konteks program MBG, menurutnya, yang perlu diperhatikan secara serius adalah jumlah kalori dalam setiap menu yang disajikan kepada siswa.

Dokter Febri menambahkan bahwa kebutuhan kalori harian anak rata-rata sekitar 1.500 kalori. Karena itu, perhitungan nilai kalori dalam menu MBG harus dilakukan secara tepat.

Selain komposisi gizi, pemilihan bahan baku makanan juga dinilai penting. Hal ini mengingat sasaran program adalah siswa sekolah yang menjalani aktivitas belajar hingga sore hari. Pemilihan bahan pangan yang kurang tepat berpotensi menimbulkan rasa kantuk setelah makan.

“Kadang anak-anak setelah makan MBG justru mengantuk. Bahan pangan yang bisa memicu rasa kantuk sebaiknya dikurangi,” imbuhnya.

Ia juga menyoroti menu MBG selama Ramadan yang banyak beredar di media sosial. Sejumlah unggahan menunjukkan menu yang diterima siswa didominasi roti, abon, keripik, hingga makanan ringan.

Menurutnya, hal tersebut tidak menjadi masalah selama kandungan gizi dan kalorinya dihitung secara presisi oleh pihak dapur penyedia makanan. Namun ia mengingatkan bahwa beberapa produk seperti abon kerap memiliki kandungan daging yang sangat sedikit karena lebih banyak menggunakan bahan pengisi.

Dokter Febri juga mengingatkan agar penggunaan ultra processed food (UPF) atau makanan olahan berlebih tidak terlalu sering dimasukkan dalam menu MBG.

“Contohnya roti, harus diperhatikan jenis pengembang yang digunakan serta tanggal kedaluwarsanya. Jangan sampai ada roti berjamur yang disuguhkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran ahli gizi dalam pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, setiap menu yang akan disajikan perlu melalui proses monitoring dan evaluasi untuk memastikan keamanan pangan hingga sampai ke tangan siswa.

Ia juga menyarankan pemerintah menempatkan ahli gizi di setiap satuan penyedia makanan sebagai pengawas kualitas yang independen. Monitoring dan evaluasi, kata dia, harus dilakukan secara ketat dan transparan agar tujuan meningkatkan kualitas generasi muda dapat tercapai.

“Monitoring dan evaluasi harus dilaksanakan secara ketat supaya anggaran yang dikeluarkan tidak sia-sia dan cita-cita mencetak generasi unggul bangsa dapat tercapai,” ucapnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow