Dilirik Daerah Lain, Banyuwangi Sukses Angkat Budaya Jadi Kekuatan Ekonomi
Capaian kinerja di berbagai sektor membuat Banyuwangi kian dilirik daerah lain. Tak sedikit kepala daerah yang datang langsung untuk belajar, terutama dalam hal pengelolaan pariwisata berbasis budaya.
BANYUWANGI - Capaian kinerja di berbagai sektor membuat Banyuwangi kian dilirik daerah lain. Tak sedikit kepala daerah yang datang langsung untuk belajar, terutama dalam hal pengelolaan pariwisata berbasis budaya yang dinilai berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi.
Teranyar, Wali Kota Padang Panjang, Hendri Arnis, dan Bupati Malang, M. Sanusi, berkunjung ke Bumi Blambangan untuk berbagai pengalaman. Keduanya disambut langsung oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, bersama jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi di kantor bupati, Kamis (9/4/2026).
Wali Kota Padang Panjang, Hendri Arnis, mengungkapkan bahwa kunjungannya kali ini merupakan yang kedua setelah terakhir datang pada 2011. Dia mengaku takjub dengan perubahan signifikan yang terjadi di Banyuwangi.
“Saya pertama datang tahun 2011, sekarang 2026 perubahannya luar biasa. Kami ingin mempelajari apa saja yang mendorong kemajuan Banyuwangi,” kata Hendri.
Salah satu yang menarik perhatian Hendri adalah pesatnya perkembangan pariwisata Banyuwangi yang tetap berpijak pada kekuatan seni dan budaya lokal. Dia menilai, berbagai event yang digelar mampu mengangkat kearifan lokal menjadi daya tarik wisata yang kuat.
“Kami mengikuti perkembangan Banyuwangi lewat media sosial. Event seni budaya dan tradisinya dikemas dengan sangat baik,” ujarnya.
Hendri berharap, setelah kunjungan ini jajarannya bisa menjalin komunikasi lebih intens dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Banyuwangi untuk bertukar pengalaman.
Hal senada juga disampaikan Bupati Malang, M. Sanusi. Dia mengapresiasi langkah Banyuwangi dalam mengoptimalkan potensi daerah, termasuk dalam hal pembiayaan pembangunan.
“Kami juga ingin belajar berbagai alternatif pembiayaan yang dilakukan Banyuwangi untuk memajukan daerah,” ucapnya.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menjelaskan bahwa sebagai kabupaten terluas di Jawa Timur dengan jumlah penduduk mencapai 1,7 juta jiwa, Banyuwangi menghadapi tantangan besar, terutama dari sisi keterbatasan fiskal.
“Kondisi tersebut menuntut kami untuk terus berinovasi, mengubah tantangan menjadi peluang,” jelasnya.
Ipuk mengungkapkan, salah satu strategi yang diterapkan adalah menetapkan skala prioritas pembangunan dan menjadikan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi.
Namun, fokusnya tidak semata mendatangkan wisatawan, melainkan juga menggerakkan ekonomi warga dan membuka lapangan kerja.
Dijelaskan Ipuk, pengembangan pariwisata di Banyuwangi mengacu pada konsep 3A, yakni Aksesbilitas, Atraksi, dan Amenitas. Ketiganya dipastikan tersedia dan terjangkau.
“Kami bersyukur masyarakat Banyuwangi sangat bangga dengan budayanya. Jadi ide yang kami jalankan bisa selaras dengan warga,” tuturnya.
Menurut orang nomor wahid di jajaran Pemkab Banyuwangi itu, seni dan budaya lokal tidak ditinggalkan, justru diangkan dan dikemas menjadi magnet wisata. Melalui Banyuwangi Festival, berbagai tradisi yang telah hidup turun-temurun disajikan dengan sentuhan manajemen event modern.
“Tradisi yang sudah mengakar kami kemas lebih menarik. Banyak event juga berasal dari inisiatif warga, lalu kami kurasi agar lebih apik,” bebernya.
Hasilnya, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat tersebut mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Banyuwangi tercatat sebesar 5,65 persen, meningkat dari 4,68 persen pada 2024. Di saat yang sama, angka kemiskinan juga menurun dari 6,54 persen manjadi 6,13 persen.
Capaian ini menjadi bukti bahwa penguatan budaya lokal yang dikelola dengan baik tidak hanya menjaga identitas daerah, tetapi juga mampu menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan. (*)
Apa Reaksi Anda?