Di Balik Lorong Gang Langgar, Warga Samarinda Resah Peredaran Narkoba Terang-terangan
Kesaksian seorang warga mengungkap dugaan loket narkoba terang-terangan di Gang Langgar Samarinda, yang meresahkan dan mengancam masa depan generasi muda kota itu.
SAMARINDA - Malam di sebuah sudut kota Samarinda biasanya dipenuhi suara kendaraan yang lalu-lalang dan aktivitas warga yang perlahan mereda. Namun di balik lorong sempit bernama Gang Langgar, keresahan lain tumbuh diam-diam di tengah masyarakat.
Bukan soal kriminalitas jalanan biasa, melainkan dugaan aktivitas peredaran narkoba yang disebut berlangsung secara terbuka dan telah lama meresahkan warga sekitar.
Joni, bukan nama sebenarnya, menjadi salah satu warga yang akhirnya memilih bersuara. Kegelisahannya ia tumpahkan melalui unggahan di sebuah grup Facebook pada Kamis (14/5/ 2026) malam. Dalam tulisannya, pria kelahiran Samarinda itu mempertanyakan mengapa lokasi transaksi narkoba di kota tersebut seolah dapat beroperasi bebas.
“Kenapa loket-loket narkoba di Samarinda dibiarkan buka sebebas-bebasnya. Ini sangat mengkhawatirkan masa depan anak-anak Samarinda,” tulisnya.
Ia juga meminta aparat menutup seluruh lokasi transaksi narkoba demi menyelamatkan generasi muda di kota itu.
Bagi Joni, keresahan itu bukan muncul dari cerita orang lain. Ia mengaku pernah melihat langsung aktivitas transaksi yang terjadi di kawasan Gang Langgar.
Saat ditemui TIMES Indonesia pada Minggu (17/5/2026), Joni menceritakan bagaimana lokasi tersebut dijaga oleh sejumlah orang yang diduga bertugas mengawasi keluar masuk pembeli.
“Di depan gang itu sudah ada penjaganya, dua sampai tiga orang. Penjaganya itu disebut sniper. Nanti pembeli diarahkan masuk ke dalam, sekitar 300 meter,” katanya.
Menurutnya, transaksi dilakukan tanpa upaya menutupi aktivitas. Barang yang diduga narkotika jenis sabu bahkan disebut dipajang dalam paket-paket kecil di atas meja.
“Sudah terang-terangan banget. Barangnya ditata di meja, sudah seperti orang jual nasi kuning,” ujarnya lirih.
Cerita Joni bermula dari rasa curiga terhadap salah satu pekerjanya. Sebagai pemborong proyek, ia melihat perubahan perilaku anak buahnya yang diduga kecanduan narkoba.
Pendapatan harian yang seharusnya cukup untuk kebutuhan hidup justru habis tanpa sisa berarti.
“Gajinya sehari Rp150 ribu, terima tiap minggu. Dalam seminggu hampir enggak ada sisa, paling tinggal Rp80 ribu saja. Ternyata buat beli itu. Kan miris ya,” tuturnya.
Rasa penasaran membuat Joni akhirnya mengikuti pekerjanya tersebut hingga ke lokasi yang disebut sebagai tempat transaksi narkoba di Gang Langgar. Di sanalah ia mengaku melihat langsung aktivitas yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang-orang.
“Saya geram dan kasihan. Jadi saya interogasilah dia, terus dia tunjukin ke sana. Akhirnya saya lihat sendiri barang-barang itu ditaruh di meja,” katanya.
Bagi Joni, persoalan narkoba bukan sekadar pelanggaran hukum. Ia melihat dampaknya nyata terhadap kehidupan masyarakat kecil, terutama para pekerja muda yang perlahan kehilangan masa depan akibat ketergantungan.
Kondisi itulah yang membuatnya berani berbicara, meski menyadari risiko yang mungkin muncul.
“Samarinda ini tempat kelahiran saya. Saya tidak mau melihat orang terjerumus. Seharusnya kan bandar-bandar yang menjual itu ditiadakan,” ujarnya.
Ia pun mengaku bersyukur jika kawasan Gang Langgar kini mulai mendapat perhatian dan penindakan dari aparat penegak hukum.
Di tengah geliat pembangunan dan pertumbuhan kota, cerita dari Gang Langgar menjadi pengingat bahwa ancaman narkoba masih menjadi persoalan serius yang hidup di tengah masyarakat. Bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga tentang bagaimana sebuah kota menjaga masa depan generasi mudanya dari lingkaran gelap narkotika. (*)
Apa Reaksi Anda?