Dari Selat Sunda ke Houston, Ketika Ingatan Perang Dunia II Menyatukan Tiga Benua

Peringatan USS Houston Day of Remembrance di Houston, Texas, menjadi pengingat kuat tentang kisah tragis kapal perang USS Houston yang tenggelam di Selat Sunda pada 1942.

Maret 12, 2026 - 16:00
Dari Selat Sunda ke Houston, Ketika Ingatan Perang Dunia II Menyatukan Tiga Benua

MALANG Langit Houston tampak kelabu pada Sabtu siang, 7 Maret 2026. Namun suasana yang terasa di Sam Houston Park justru hangat—bahkan mengharukan. Di taman bersejarah itu, orang-orang datang dari latar belakang berbeda: keluarga korban, keturunan penyintas, diplomat, veteran, hingga kadet militer. Mereka berkumpul bukan untuk perayaan, melainkan untuk menjaga sebuah ingatan yang telah melintasi lebih dari delapan dekade.

Alunan musik dari Community Band of Southeast Texas yang dipimpin Jacob McWherter mengisi udara sore. Nada-nada patriotik mengiringi USS Houston Day of Remembrance, sebuah memorial service yang menjadi bagian dari rangkaian Day of Remembrance Weekend yang diselenggarakan oleh USS Houston CA-30 Survivors’ Association & Next Generations.

Namun bagi banyak orang yang hadir, acara ini jauh lebih dari sekadar seremoni tahunan. Ia terasa seperti sebuah reuni besar lintas generasi—pertemuan antara masa lalu dan masa kini.

Sebagian peserta datang untuk bertemu kembali dengan teman lama yang hanya mereka jumpai setahun sekali. Sebagian lain baru pertama kali hadir, mencoba memahami sejarah yang diwariskan oleh keluarga mereka.

Di antara percakapan, pelukan, dan tatapan penuh kenangan, satu hal terasa jelas: mereka semua datang dengan satu tujuan yang sama—agar kisah ini tidak dilupakan.

Sebuah Lonceng dari Dasar Laut

Di tengah taman berdiri USS Houston Memorial, monumen karya Jeff Ryan yang sejak 1998 menjadi bagian penting dari lanskap Sam Houston Park. Di pusat monumen itu terdapat sebuah benda sederhana namun sarat makna: lonceng kuningan asli dari USS Houston (CA-30).

Lonceng itu pernah menggema di geladak kapal perang Amerika Serikat yang bertugas di Pasifik pada masa World War II. Kini, ia berdiri diam di atas pedestal granit yang memuat nama-nama awak kapal.

Benda itu diangkat dari bangkai kapal yang tenggelam di Selat Sunda, lebih dari delapan puluh tahun lalu. Di hadapan monumen itu, sejarah terasa sangat dekat.

Malam Terakhir di Selat Sunda

Kisah USS Houston selalu membawa orang kembali ke awal 1942—masa paling genting setelah Attack on Pearl Harbor mengguncang Amerika Serikat dan mengubah jalannya perang di Pasifik.

USS Houston, kapal penjelajah berat yang dikenal sebagai salah satu favorit Presiden Franklin D. Roosevelt, berada di garis depan pertempuran. Pada akhir Februari 1942, kapal itu bertempur bersama armada Sekutu—Belanda, Inggris, dan Australia—dalam Battle of the Java Sea. Pertempuran itu berakhir dengan kekalahan besar bagi Sekutu.

Namun Houston belum berhenti berlayar. Beberapa hari kemudian, kapal itu bersama HMAS Perth menghadapi konvoi invasi Jepang di Selat Sunda. Pertempuran yang terjadi pada malam 28 Februari hingga 1 Maret 1942 berlangsung dalam ketimpangan kekuatan yang luar biasa. Kedua kapal akhirnya tenggelam.

Ratusan pelaut gugur.

Sejak saat itu, Selat Sunda bukan hanya jalur pelayaran strategis di Asia Tenggara. Ia juga menjadi makam perang bagi para pelaut yang tidak pernah pulang.

Memori itulah yang setiap tahun dibawa kembali ke Houston.

Diplomasi yang Lahir dari Ingatan

Dalam memorial service tersebut, Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, menegaskan pentingnya menjaga situs sejarah tersebut.

“Menjadi tanggung jawab kita bersama, sebagai bangsa Amerika dan Indonesia, untuk melindungi dan menjaga makam perang bawah laut ini dengan penghormatan yang semestinya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa para pelaut yang gugur dalam pertempuran itu tidak hanya menjadi bagian dari sejarah satu negara.

“Mereka adalah pahlawan bukan hanya bagi bangsa Amerika, tetapi bagi semua orang yang menjunjung kebebasan dan keadilan.”

Ucapan itu terasa kuat karena di hadapan Indroyono berdiri perwakilan dari banyak negara yang memiliki hubungan sejarah dengan pertempuran tersebut. Delegasi Indonesia hadir bersama perwakilan dari Australia, United Kingdom, Netherlands, dan United States.

Kehadiran mereka menunjukkan sesuatu yang jarang terlihat dalam sejarah perang: bagaimana tragedi dapat berubah menjadi jembatan diplomasi lintas bangsa.

Ketika Sejarah Menjadi Sangat Personal

Di antara para tamu, perhatian banyak orang tertuju pada seorang perempuan berusia 98 tahun: Donna Flynn. Ia adalah istri dari almarhum David Flynn, salah satu penyintas USS Houston.

Dengan semangat yang masih kuat, Donna berkali-kali menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah Indonesia—khususnya TNI Angkatan Laut—yang selama ini menjaga lokasi bangkai kapal tersebut.

Namun momen paling menyentuh justru datang dari cerita kecilnya. Di tengah suasana yang penuh kenangan, Donna bercerita tentang masa mudanya sebagai penari hula. Ia bahkan memperagakan beberapa gerakan sederhana.

Taman yang sebelumnya khidmat seketika dipenuhi senyum. Seolah mengingatkan bahwa di balik cerita perang dan kehilangan, kehidupan selalu menemukan cara untuk terus berjalan.

Ingatan yang Menyeberangi Samudra

Jejak kisah USS Houston juga bisa ditemukan di kantor Consulate General of the Republic of Indonesia in Houston.

Di salah satu sudut ruangan, terdapat miniatur kapal USS Houston dan beberapa foto bersejarah. Benda-benda kecil itu mungkin terlihat sederhana. Namun di sanalah sejarah terasa paling personal.

Karena pada akhirnya, kisah USS Houston bukan sekadar tentang strategi militer, kapal perang, atau tanggal pertempuran. Ia adalah kisah tentang manusia. Tentang keluarga yang kehilangan, tentang bangsa-bangsa yang pernah bertempur, dan tentang generasi baru yang memilih untuk tetap mengingat.

Selat Sunda mungkin berada ribuan kilometer dari Houston. Namun selama 84 tahun terakhir, sebuah kapal perang telah menjembatani jarak itu—membawa ingatan dari dasar laut Indonesia hingga ke sebuah taman di Texas. Dan setiap tahun, orang-orang kembali datang ke sana.

Bukan untuk mengenang perang. Melainkan untuk memastikan bahwa mereka yang gugur tidak pernah dilupakan. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow