Dari Panggung Rock ke Baitullah, Kisah Didik ‘Seket’ Astakula Menunaikan Haji di Usia 50
Musisi rock Surabaya Didik ‘Seket’ Astakula berangkat haji di usia 50 tahun. Ia menjalani perjalanan spiritual sambil mendampingi ibundanya ke Tanah Suci.
SURABAYA - Tak ada yang kuasa menolak ketika seseorang mendapat panggilan untuk menjadi tamu di Baitullah. Banyak kisah haru terselip bagi setiap pribadi. Seperti yang dirasakan oleh seorang rocker sekaligus seniman asli Arek Suroboyo, Didik Subiantoro.
Didik yang lekat dengan panggilan dan nama panggung Seket Astakula ini juga merupakan vokalis grup band rock "Rekles".
Ia dikenal dengan penampilan panggungnya yang penuh energi. Dan di luar kegiatannya sebagai anggota sebuah band, Didik 'Seket' juga kerap tampil "solo", dalam setiap pertunjukannya banyak membawakan lagu-lagu bernuansa balada, cerita tentang kehidupan, alam yang bersahaja, di mana di dalamnya seolah ada doa serta pelajaran berharga bagi siapapun yang mendengarnya.
Lagu-lagunya antara lain seperti Gulo Larang, Thithik Edhang, Atase Ngono Ae, Jungkar Jungkir, dan lirik lagu khas logat Suroboyoan lainnya. Ia menulis sendiri liriknya berbekal pengalaman hidup menghadapi berbagai macam peristiwa.
Pada musim haji 1447 H/2026, Didik Seket mendapat undangan untuk datang ke rumah-Nya, tepat di usianya yang menginjak angka 50 tahun.
Didik Subiantoro bersama ibunya, Maryam tiba di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Kamis (23/4/2026).(Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)
Sebagaimana nama yang disematkan padanya oleh seorang kawan sepermainan, sebutan Seket yang dalam bahasa Jawa memiliki arti lima puluh itu justru menyimpan hikmah serta makna mendalam.
"Tahun ini usia saya lima puluh tahun, saya kelahiran 1976. Ternyata ada rahasia Illahi di tahun ini juga alhamdulilah saya mendapat panggilan berhaji. Dan nama Seket ini dikasih teman saya, beliau senior waktu kuliah di Kampus Unitomo, namanya Cak Dismantoko," kata Didik saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Kamis (23/4/2026).
Lagi-lagi ia terharu, bahkan seolah tak mampu berkata-kata selain ucapan syukur tanpa henti. Sebagai rocker, ia tak memungkiri apabila terkadang kala gemerlap hiburan kerap menjauhkan seseorang dari kehidupan religi. Namun, ia tak mau terlena dan tenggelam.
Di sela waktunya, ia memilih tinggal menemani ibunda sambil berkebun di Dusun Kemiri, Desa Pakukerto, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Di sana, ia menjalani kehidupan sederhana penuh makna demi rasa bakti kepada orang tua yang tinggal satu-satunya.
Jika ada panggilan 'ngamen', Didik 'Seket' baru berangkat ke Surabaya. Uniknya, ia tak pernah menarget angka. Semua mengalir, penuh keikhlasan. Dari sanalah, hatinya merasa tenang. Tanpa ada yang tahu, hari-harinya mungkin ia lukis sebagai perjalanan spiritual secara diam-diam.
"Alhamdulillah, rezeki selalu ada saja, tidak selalu berbentuk materi, tetapi juga kesehatan, hingga teman-teman yang memberikan doa serta dukungan," ucapnya.
Hingga kemudian, ia mendapat amanah untuk menemani sang ibunda ke Baitullah. Didik masuk daftar jemaah haji kloter 8 Embarkasi Surabaya yang berangkat ke Tanah Suci pada Jumat (23/4/2026) besok.
"Haji ini saya menjadi pendamping ibu saya," katanya.
Ada rasa bahagia, bahwa di antara kesunyian waktu dan kesabaran, hikmah menjalankan rukun Islam penyempurna ibadah itu datang secara luar biasa bagi hamba-Nya yang bertakwa.(*)
Apa Reaksi Anda?