Dari Literasi hingga Arsip Digital, Disperpusip Kota Batu Siapkan Lompatan 2026
Di tengah dorongan percepatan visi Mbatu Sae, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batu (Disperpusip) memilih tak sekadar berjalan, tetapi berlari. Tahun 2026 dipatok sebagai momentum pembenahan seri
BATU Di tengah dorongan percepatan visi Mbatu Sae, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batu (Disperpusip) memilih tak sekadar berjalan, tetapi berlari. Tahun 2026 dipatok sebagai momentum pembenahan serius literasi dan kearsipan, dari ruang baca hingga arsip digital keluarga.
Kepala Disperpusip Kota Batu, Abdul Rais menegaskan arah kebijakan lembaganya difokuskan pada penguatan masyarakat berdaya dan berkarakter berbasis budaya, sejalan dengan visi pembangunan menuju Generasi Indonesia Emas 2045.
Salah satu perhatian utama adalah Tingkat Kegemaran Membaca (TKM). Pada 2025, TKM Kota Batu tercatat 56,71 dan berada di peringkat ke-29 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Kunjungan ke Perpustakaan Daerah, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), dan perpustakaan desa pun dinilai belum optimal.
"Padahal, dari sisi potensi, fasilitas perpustakaan relatif memadai. SDM dinilai memiliki motivasi baik, dan inovasi layanan digital bahkan masuk kategori terbaik tingkat provinsi. Status Batu sebagai kota agropolitan dan wisata juga dinilai strategis untuk pengembangan literasi berbasis budaya dan pariwisata," katanya, Rabu (25/2/2026).
Namun, sejumlah kendala masih mengemuka, mulai dari akses parkir dan keberadaan PKL di sekitar perpustakaan, jam layanan yang belum sepenuhnya adaptif, hingga pendampingan pengisian kuesioner TKM yang belum maksimal.
"Untuk itu kami menyiapkan langkah konkret renovasi ringan ruang baca agar lebih nyaman, penguatan informasi layanan secara luring dan daring, serta perluasan kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti Universitas Brawijaya, Universitas Terbuka, dan Universitas Negeri Malang," bebernya.
Pihaknya juga merancang pembentukan Tim Terpadu Peningkatan IPLM dan TKM tingkat kota, serta menggencarkan kampanye literasi melalui media sosial dan pameran. Di sektor kearsipan, capaian Kota Batu cukup membanggakan dengan predikat terbaik kedua nasional dalam pengelolaan arsip. Implementasi aplikasi persuratan digital Srikandi berjalan baik, termasuk pemusnahan arsip sesuai jadwal retensi.
"Meski begitu, tantangan muncul dari keterbatasan daya tampung depo arsip dan belum optimalnya digitalisasi. Penambahan fasilitas, perluasan ruang, pengadaan lift barang, hingga pembangunan musala di area depo arsip masuk dalam rencana 2026," ucapnya.
Kemudian, digitalisasi arsip akan diprioritaskan, termasuk penelusuran arsip bersejarah dan kearifan lokal. Program La Iki Siip pun bakal diperkuat, audit kearsipan rutin dilaksanakan, serta peran unit kearsipan di masing-masing OPD ditingkatkan.
"Kami juga membuka rencana digitalisasi arsip milik masyarakat dan layanan konsultasi penyimpanan arsip keluarga. Pameran kearsipan hingga pembentukan Tim Sadar Tertib Arsip tingkat Kota Batu akan digelar sebagai bagian dari edukasi publik," terangnya.(*)
Apa Reaksi Anda?