Dangdut, Takjil, dan Tawa di Kampoeng Ramadhan Trunojoyo 2026

Persatuan Artis Musik Dangdut Indonesia (PAMDI) Malang Raya turun langsung ke jalan. Belasan penyanyi dangdut dari Malang Raya ikut ambil bagian di Kampoeng Ramadhan Trunojoyo 2026.

Maret 5, 2026 - 00:00
Dangdut, Takjil, dan Tawa di Kampoeng Ramadhan Trunojoyo 2026

MALANG Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di Jalan Trunojoyo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, berubah menjadi panggung kecil yang penuh warna. Bukan sekadar pasar Ramadan biasa. Di depan area Kampoeng Ramadhan Trunojoyo 2026, deretan artis dangdut lokal tampak berdiri menyapa warga. 

Mikrofon kadang berpindah tangan. Tawa pecah. Kantong-kantong takjil dibagikan satu per satu kepada pengendara yang melintas.

Sore itu, Rabu (4/3/2026), organisasi Persatuan Artis Musik Dangdut Indonesia (PAMDI) Malang Raya turun langsung ke jalan. Belasan penyanyi dangdut dari Kota Malang, Kabupaten Malang, hingga Kota Batu ikut ambil bagian. 

Mereka bukan sedang tampil di panggung besar. Mereka memilih berdiri di pinggir jalan. Membagikan takjil kepada masyarakat yang melintas.

Ketua PAMDI Kota Malang, Rosa Amelia, mengatakan kegiatan ini akan berlangsung beberapa hari ke depan selama event Kampoeng Ramadhan Trunojoyo digelar.
“Sampai Sabtu depan, insyaallah kami terus bagi-bagi takjil di depan lokasi Kampoeng Ramadhan ini,” ujar Rosa di sela kegiatan.

Bagi Rosa dan rekan-rekannya, kegiatan ini bukan sekadar agenda sosial Ramadan. Ada misi lain yang ingin disampaikan kepada masyarakat: memperkenalkan kembali organisasi para insan dangdut tersebut.

Selama ini publik lebih mengenal nama PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia). Padahal organisasi itu telah berganti nama menjadi PAMDI, meski secara kepemimpinan tetap berada di bawah figur legenda dangdut nasional, Rhoma Irama.

“Masyarakat banyak yang belum tahu kalau PAMMI sekarang menjadi PAMDI. Kalau PAMMI semua orang sudah familiar. Karena itu kami hadir di sini, sekaligus mengenalkan bahwa PAMDI itu wadah para artis dangdut,” jelas Rosa.

Rosa sendiri bukan wajah baru di dunia hiburan Malang. Ia pernah dikenal sebagai anggota trio vokal Wong Telu, yang cukup populer di panggung-panggung lokal beberapa tahun lalu. Kini, melalui PAMDI, ia berupaya memperkuat eksistensi para penyanyi dangdut di Malang Raya.

Sejak hari pertama Kampoeng Ramadhan Trunojoyo dibuka pada 1 Maret 2026, para anggota PAMDI sudah rutin hadir di lokasi. Selain membagikan takjil, beberapa artis juga sempat menghibur pengunjung dengan nyanyian dangdut ringan di sekitar area bazar.

Tak jarang pengunjung yang sedang ngabuburit berhenti sejenak. Ada yang sekadar menyapa, ada pula yang meminta foto bersama para penyanyi.
Suasana terasa akrab. Dangdut yang biasanya identik dengan panggung hiburan besar, kali ini hadir lebih dekat dengan masyarakat.

Di sisi lain, keberadaan PAMDI juga menambah semarak kegiatan Kampoeng Ramadhan Trunojoyo 2026, yang tahun ini digelar untuk pertama kalinya di Lapangan eks Ruko Patimura.

Ketua Panitia Penyelenggara, Ir Jimmy Darwis Samirin, SH, mengatakan bazar Ramadan tersebut memang dirancang sebagai ruang pertemuan masyarakat. Tidak hanya untuk berbelanja, tetapi juga menikmati suasana Ramadan yang hangat.

“Pasar rakyat Ramadan ini baru pertama kali kami gelar di Trunojoyo. Kami ingin masyarakat Malang punya tempat baru untuk ngabuburit, menikmati kuliner, dan berbelanja kebutuhan Lebaran,” ujar Jimmy.

Area bazar dipenuhi deretan tenda kuliner, jajanan tradisional, serta berbagai produk kebutuhan Ramadan. Menjelang magrib, pengunjung biasanya mulai memadati lokasi. Aroma gorengan, sate, hingga minuman segar bercampur dengan suara pedagang yang menawarkan dagangan.

Di tengah keramaian itulah, para artis PAMDI berdiri di depan jalan, membagikan takjil dengan senyum.

Bagi sebagian pengendara yang kebetulan melintas, momen itu menjadi kejutan kecil menjelang berbuka puasa.

Kampoeng Ramadhan Trunojoyo sendiri direncanakan berlangsung hingga 29 Maret 2026. Kegiatan ini didukung oleh berbagai pihak, antara lain DMR Production, PAMDI Malang Raya, Malang Post, TIMES Indonesia, EventMalang, dan JTV Malang.

Jika tren kunjungan terus meningkat, bukan tidak mungkin kawasan Trunojoyo akan menjadi salah satu titik favorit ngabuburit baru di Kota Malang.

Dan sore itu, di tengah lalu lintas yang perlahan melambat, dangdut Malang Raya membuktikan satu hal sederhana: Ramadan bukan hanya tentang menunggu azan magrib, tetapi juga tentang berbagi. Dengan musik, dengan senyum, dan dengan sebungkus takjil. (*)

 

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow