Dampak Efisiensi, Dana Pengerukan Sungai di Pacitan Hanya Rp250 Juta Setahun

Anggaran pengerukan sedimentasi saluran air Kota Pacitan 2026 hanya Rp250 juta, jauh dari kebutuhan Rp500–700 juta. PUPR terpaksa fokus ke titik paling rawan banjir.

Maret 2, 2026 - 13:00
Dampak Efisiensi, Dana Pengerukan Sungai di Pacitan Hanya Rp250 Juta Setahun

PACITAN Anggaran pengerukan sedimentasi saluran air di wilayah Kota Pacitan tahun 2026 hanya Rp250 juta. Jumlah itu jauh dari kebutuhan ideal yang diperkirakan mencapai Rp500–700 juta per tahun. Dampaknya, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pacitan harus memilih titik-titik paling rawan untuk ditangani lebih dulu.

Kepala Bidang Penyehatan Lingkungan dan Air Minum (PLAM) PUPR Pacitan, Tony Setyo Nugroho, menjelaskan pemangkasan anggaran terjadi karena kebijakan efisiensi.

“Idealnya memang tiap tahun Rp500 sampai Rp700 juta. Tapi karena ada efisiensi, anggarannya dipangkas,” ujar Tony, Senin (2/3/2026).

Dengan dana terbatas, pihaknya tak bisa mengeruk seluruh saluran yang mengalami sedimentasi. Prioritas diberikan pada lokasi yang berpotensi tersumbat dan memicu genangan saat hujan deras.

Untuk tahun ini, pengerukan dijadwalkan dua tahap. Januari–Februari difokuskan di perangkap sampah Belimbing, Kali Kunir, Desa Sumberharjo, saluran depan Kantor Kecamatan Pacitan hingga arah perempatan Penceng. Kemudian Mei–Juni menyasar kawasan Cuwik ke arah barat sampai belakang Kantor Kejaksaan Negeri.

Tony menambahkan, saluran di Bengkal, Tanjungsari ke arah selatan sudah dikeruk beberapa waktu lalu. Sementara kawasan Cuwik menunggu musim kemarau agar alat berat bisa masuk ke dalam saluran.

“Cuwik nunggu kemarau, supaya alatnya bisa masuk,” katanya.

Ia juga menegaskan, pengerukan sedimentasi tidak dilakukan setiap tahun di titik yang sama. Jika satu lokasi dikeruk pada 2026, maka pengerukan berikutnya bisa dilakukan tiga tahun kemudian.

“Kalau pengangkatan gulma dan rumput itu tiap tahun. Tapi kalau sedimen, tidak setiap tahun,” jelasnya.

Pantauan di lapangan, saluran dari Bengkal ke arah utara hingga Widoro masih terlihat belum tersentuh pengerukan. Tony tak menampik hal itu.

“Itu belum, karena terkendala biaya,” ungkapnya.

Kondisi sedimentasi ini sebelumnya sempat memicu banjir kota pada 22 November 2025. Saat itu, hujan deras membuat material tanah terbawa arus dan menutup sejumlah saluran serta parit. Air pun tak bisa mengalir normal dan akhirnya meluap ke jalan-jalan utama.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan, Radite Suryo Anggoro, menjelaskan hujan berintensitas tinggi memicu perpindahan material tanah dalam jumlah besar. Sedimen tersebut menyumbat titik-titik rawan di pusat kota.

Beberapa lokasi yang paling sering terdampak antara lain kawasan sekitar Kantor Kelurahan Pucangsewu, depan kantor Telkom dan PLN, depan Asrama Polisi, sekitar Perpustakaan Daerah lama, serta depan Kantor Kelurahan Pacitan.

Wilayah-wilayah itu memang sudah lama dikenal sebagai langganan genangan. Bahkan pada 2018, air sempat masuk hingga area Pendopo Kabupaten Pacitan. Meski pengerukan sudah beberapa kali dilakukan, luapan air masih saja terjadi ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

Dengan keterbatasan anggaran tahun ini, PUPR berharap pengerukan yang dilakukan tetap mampu menekan risiko banjir, setidaknya di titik-titik yang paling rawan. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow