Daker Madinah Pastikan Alur Transportasi Jemaah Tertib Sejak Kedatangan
Daker Madinah menyiapkan layanan transportasi terintegrasi bagi jemaah haji, mulai dari bandara hingga hotel, dengan sistem pengawalan dan distribusi terstruktur.
MADINAH - Layanan transportasi jemaah haji di Daerah Kerja (Daker) Madinah dirancang terintegrasi sejak kedatangan di bandara hingga penempatan di hotel, guna memastikan proses mobilisasi berjalan tertib dan terarah.
Kepala Seksi Transportasi Daker Madinah, Muslih, mengatakan sistem layanan tidak hanya berfokus pada pengangkutan, tetapi juga mencakup pengawalan alur kedatangan jemaah agar tidak terjadi kebingungan saat tiba di Madinah.
“Setiap bus sudah dilengkapi pemandu (mandub) dari pihak syarikah yang akan mengarahkan jemaah langsung ke hotel tujuan,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Setibanya di hotel, petugas melakukan pendataan melalui formulir cek kedatangan sebelum jemaah diarahkan ke akomodasi untuk proses pembagian kamar oleh ketua rombongan.
Dalam skema ini, distribusi barang jemaah juga diatur terpisah untuk mempercepat proses. Koper besar diangkut menggunakan truk kontainer langsung dari bandara ke hotel, sementara jemaah hanya membawa tas kabin di dalam bus.
Muslih menjelaskan, layanan transportasi di Madinah mencakup dua fase utama, yakni penjemputan dari bandara ke hotel serta pendorongan jemaah menuju Makkah setelah masa tinggal di Madinah.
Untuk mendukung operasional tersebut, Daker Madinah menggandeng 15 perusahaan transportasi dengan total sekitar 6.000 armada bus. Distribusi armada disesuaikan dengan kapasitas masing-masing perusahaan dan kebutuhan tiap kloter.
“Perhitungan dilakukan dengan asumsi satu bus diisi maksimal 42 jemaah. Jadi kebutuhan armada sudah disesuaikan dengan jumlah jemaah di setiap kloter,” katanya.
Ia memastikan, seluruh skema telah dirancang untuk meminimalkan potensi keterlambatan serta memastikan jemaah dapat berpindah lokasi dengan aman dan nyaman.
“Semua sudah dihitung dan disiapkan agar proses transportasi berjalan lancar,” ujarnya.
Namun demikian, ia menegaskan layanan transportasi yang disiapkan hanya mencakup mobilisasi utama. Adapun kegiatan di luar itu, seperti ziarah atau city tour di Madinah, berada di luar tanggung jawab seksi transportasi. (*)
Apa Reaksi Anda?