Cuaca Ekstrem dan Hidrometeorologi Diprediksi Sampai Akhir Maret 2026

Kondisi cuaca ekstrem diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Maret 2026. Kewaspadaan dan mitigasi terus diingatkan.

Maret 2, 2026 - 16:30
Cuaca Ekstrem dan Hidrometeorologi Diprediksi Sampai Akhir Maret 2026

MALANG Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang Purwoto menyampaikan, kondisi cuaca ekstrem diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Maret 2026. Kewaspadaan dan mitigasi terus diingatkan.

"Prakiraan resmi pihak BMKG menyebutkan, cuaca ekstrem diperkirakan terjadi sampai 31 Maret 2026. Tentu, berarti ada potensi bencana hidrometeorologi yang juga harus diwaspadai di wilayah Kabupaten Malang,," terang Purwoto, Senin (2/3/2026).

Beberapa tahun terakhir prakiraan cuaca ekstrem dengan potensi bencana hidrometeorologi kerap dikeluarkan pihak BMKG, dengan periode waktu perkiraan lebih lama setiap tahun.

Akibat cuaca ekstrem ini, tercatat paling kerap terjadi adalah kejadian bencana tanah longsor di beberapa wilayah rawan di Kabupaten Malang, juga banjir luapan sungai, angin kencang dan pohon tumbang yang kejadiannya lebih meluas di banyak wilayah. 

penanggulangan-dan-mitigasi-kebencanaan.jpg

Bahkan, di beberapa wilayah, kejadian atap bangunan fasilitas atau rumah penduduk banyak yang mengalami kerusakan, tak kuat menahan intensitas cuaca ekstrem yang terjadi dalam waktu lama.

"Maka, yang terus harus dilakukan adalah tidak hanya penanggulangan bencana, namun juga mitigasi dan kajian kebencanaan. Jangan sampai, semua akan sadar dan baru tergerak ketika sudah terjadi bencana," kata Purwoto.

Ia lalu menyebut, terjadinya kasus tsunami di Aceh pada 2004 silam. Juga, banjir bandang yang menimpa wilayah Aceh dan Sumatera Barat, pada akhir 2025 lalu.

Menurut Purwoto, upaya penanggulangan dan mitigasi yang bisa dilakukan instansi pemerintah berwenang yang tepat, akan bisa mengurangi tingkat risiko dampak yang muncul akibat bencana yang terjadi.

Bahkan, sebut Purwoto,  dengan mitigasi tepat dan berkelanjutan yang sudah dilakukan, akan mungkin jauh mengurangi nilai kerugian material maupun nonmateriil, dibandingkan ketika bencana sudah terjadi.

Sebelumnya, Kaprodi Sosiologi FISIP UMM, Rachmad Kristiono Dwi Susilo, M.A, PhD. Mengungkapkan, akibat bencana yang dialami, selain kerugian material, akan mengakibatkan korban terdampak mengalami masalah sosial seperti trauma psikologis. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow