Bule Mengajar di Kotagede, Inovasi Wisata Berbasis Pengalaman dari Pemkot Yogyakarta
Melalui Dinas Pariwisata, Pemkot Yogyakarta meluncurkan program 'Bule Mengajar' yang dipadukan dengan paket wisata Jelajah Kawasan Kotagede.
YOGYAKARTA Pemerintah Kota Yogyakarta (Pemkot Yogyakarta) terus menghadirkan inovasi dalam pengembangan sektor pariwisata.
Melalui Dinas Pariwisata, Pemkot Yogyakarta meluncurkan program 'Bule Mengajar' yang dipadukan dengan paket wisata Jelajah Kawasan Kotagede.
Inovasi ini merupakan strategi untuk memperkuat pariwisata berbasis pengalaman sekaligus mengenalkan budaya lokal kepada dunia.
Program ini melibatkan mahasiswa asing yang sedang menempuh pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mereka diajak berinteraksi langsung dengan masyarakat sekaligus berbagi pengalaman budaya di kawasan bersejarah Kotagede.
Kegiatan Bule Mengajar Jelajah Kotagede diikuti mahasiswa internasional dari berbagai negara seperti Timor Leste, Solomon, Tanzania, Kenya, dan Pakistan.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan apresiasi atas partisipasi para mahasiswa asing tersebut dalam program yang menjadi salah satu quick wins Pemkot Yogyakarta di sektor pariwisata.
Bule Mengajar, Strategi Baru Promosi Wisata Yogyakarta
Menurut Hasto Wardoyo, program Bule Mengajar dirancang sebagai sarana berbagi pengalaman sekaligus memperkenalkan budaya Yogyakarta kepada masyarakat internasional.
“Bule Mengajar ini maksudnya teman-teman yang datang ke sini bisa memberikan best practice-nya, berbagi pengalaman tentang kedisiplinan dan kerja keras. Kami ingin program ini benar-benar terimplementasi di Yogyakarta,” kata Hasto, Minggu (15/3/2026).
Hasto berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang promosi wisata, tetapi juga memberi manfaat bagi dunia pendidikan di Kota Yogyakarta.
Ke depan, para mahasiswa asing diharapkan dapat berkunjung ke sekolah-sekolah untuk berbagi pengalaman, wawasan internasional, hingga budaya dari negara masing-masing.
“Tidak hanya berbagi informasi tentang budaya, tetapi juga kebiasaan disiplin dan cara belajar yang baik dari berbagai negara,” ujarnya.
Kotagede Menatap Destinasi Wisata Budaya Mendunia
Dalam kesempatan tersebut, Hasto juga berkesempatan menjelajahi kawasan Between Two Gates di Kampung Alun-alun, Purbayan, Kotagede.
Ia mengaku terkesan dengan keunikan kawasan tersebut yang masih mempertahankan arsitektur tradisional Jawa.
Di sepanjang lorong kawasan itu terdapat deretan rumah joglo dan pendopo khas Kotagede yang ditopang pilar kayu besar bernama bahu danyang.
Bangunan tradisional tersebut menjadi bukti kuatnya warisan budaya yang masih terjaga di kawasan bekas pusat Kerajaan Mataram Islam tersebut.
“Saya baru pertama kali datang ke kawasan Between Two Gates. Ternyata arsitekturnya luar biasa dan masih sangat terjaga,” ungkap Hasto.
Aktivasi Kampung Wisata untuk Wisatawan Mancanegara
Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Lucia Daning Krisnawati mengatakan program Bule Mengajar dikembangkan untuk mengaktivasi wisata di kawasan Kotagede, khususnya bagi segmen wisatawan mancanegara.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa asing tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga berperan sebagai duta promosi wisata informal yang akan menceritakan pengalaman mereka kepada keluarga dan teman di negara asal.
“Wisata dengan keberagaman seni dan budaya ini kami dukung dengan program Bule Mengajar agar mereka mendapatkan pengalaman yang berkesan,” kata Daning.
Ia berharap pengalaman tersebut akan menjadi promosi alami yang memperkenalkan potensi wisata Yogyakarta ke berbagai negara.
Saat ini Kota Yogyakarta memiliki 46 kampung wisata dan 45 kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang terus didorong untuk berkembang sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat.
“Harapannya program ini bisa membuka mata dunia bahwa kampung-kampung di Kota Yogyakarta memiliki potensi wisata yang luar biasa,” jelasnya.
Paket Wisata Jelajah Kotagede Mulai Diuji Coba
Ketua Kampung Wisata Purbayan Nugroho Nurcahyo menjelaskan bahwa kegiatan Bule Mengajar juga menjadi bagian dari uji coba paket wisata Jelajah Kawasan Kotagede.
Dalam paket wisata tersebut, peserta diajak mengunjungi beberapa titik menarik di Kotagede, mulai dari Pasar Kotagede, lorong-lorong kampung yang menyerupai labirin, hingga kawasan ikonik Between Two Gates.
Kotagede sendiri memiliki berbagai potensi wisata yang dapat dikembangkan, antara lain sentra kerajinan perak Kotagede, kuliner tradisional seperti roti Kembang Waru, museum Iqro AMM, dan situs sejarah peninggalan Kerajaan Mataram Islam.
“Potensi Kotagede sangat banyak, mulai dari kerajinan, kuliner, museum hingga situs sejarah. Semua itu kami kemas menjadi paket wisata Jelajah Kotagede,” kata Nugroho.
Ia menambahkan, kampung-kampung wisata di Kotagede siap menerima wisatawan domestik maupun mancanegara.
Salah satu peserta Bule Mengajar, Abubakar Sharif Faki dari Tanzania, mengaku sangat terkesan dengan pengalaman yang didapat selama mengikuti kegiatan tersebut.
Menurutnya, kegiatan ini memberikan kesempatan untuk memahami kehidupan masyarakat lokal sekaligus mempelajari bagaimana budaya tradisional dijaga hingga saat ini.
“Ini pengalaman yang sangat bagus. Kami belajar bagaimana masyarakat Kotagede hidup dan menjaga budaya mereka,” ujarnya.
Abubakar juga mengaku tertarik dengan sejarah panjang Kotagede yang masih terasa kuat hingga sekarang.
“Saya belajar tentang budaya mereka, pasar tradisional, sejarah Kotagede dari masa lalu hingga sekarang, serta bagaimana mereka melestarikan warisan budaya,” tutupnya.
Melalui program Bule Mengajar Jelajah Kotagede, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap dapat memperkuat citra kota sebagai destinasi wisata budaya kelas dunia.
Konsep wisata berbasis pengalaman dinilai mampu memberikan kesan mendalam bagi wisatawan, sekaligus menjadi promosi efektif yang menjangkau masyarakat internasional.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, kampung wisata, dan mahasiswa asing, Kotagede diharapkan semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya unggulan di Yogyakarta. (*)
Apa Reaksi Anda?