Bukan Hanya ke Iran, Pemimpin Umat Katolik Sedunia Juga "Diserang" Trump
Tidak hanya kepada Iran, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump juga "menyerang" pemimpin Umat Katolik se Dunia, Paus Leo XV dengan cacian.
JAKARTA - Tidak hanya kepada Iran, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump juga "menyerang" pemimpin Umat Katolik sedunia, Paus Leo XV dengan cacian. Hla itu menyusul ungkapan Paus dalam doa malamnya di Basilika Santo Petrus di Vatikan pada Sabtu malam (11/4/2026) lalu.
Dalam doanya saat memimpin kebaktian doa malam di Basilika Santo Petrus di Vatikan, Sabtu, hari yang sama ketika AS dan Iran memulai negosiasi tatap muka di Islamabad, Pakistan selama gencatan senjata yang rapuh mengatakan, bahwa Tuhan "tidak mendengarkan doa orang-orang yang berperang, tetapi menolaknya". Dia juga merujuk pada sebuah bagian Perjanjian Lama dari Yesaya, dengan mengatakan bahwa "sekalipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan, tanganmu penuh dengan darah".
Trump melalui media sosialnya langsung menanggapinya dengan sinis dan penuh cacian terhadap pemimpin umat Katolik se Dunia itu.
"Saya tidak menginginkan seorang Paus menganggap mengerikan saat Amerika menyerang Venezuela, sebuah negara yang mengirimkan sejumlah besar narkoba ke Amerika Serikat. Saya tidak menginginkan seorang Paus mengkritik Presiden Amerika Serikat karena saya melakukan persis apa yang menjadi tujuan saya terpilih, DALAM KEMENANGAN TELAK," tulisnya, merujuk pada kemenangan pemilu 2024-nya.
Trump juga menyiratkan dalam unggahan tersebut bahwa Leo mendapatkan posisinya hanya "karena dia orang Amerika, dan mereka berpikir itu akan menjadi cara terbaik untuk berurusan dengan Presiden Donald J Trump".
"Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan," tulisnya menambahkan: "Leo harus memperbaiki perilakunya sebagai Paus, menggunakan akal sehat, berhenti menuruti keinginan Kiri Radikal, dan fokus menjadi Paus yang hebat, bukan seorang politisi. Hal itu sangat merugikannya, dan yang lebih penting, merugikan Gereja Katolik," tulisnya lagi.
Dalam komentarnya selanjutnya kepada wartawan, Trump mengatakan: "Saya rasa dia tidak melakukan pekerjaan yang baik. Saya kira dia menyukai kejahatan. Dia adalah orang yang sangat liberal," tuding Trump, dan ia menyarankan agar Paus "berhenti menuruti keinginan Kiri Radikal".
Sebelum gencatan senjata, Trump mengeluarkan ultimatum akan melakukan serangan besar-besaran terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur Iran lainnya dan “seluruh peradaban akan mati malam itu”. Paus Leo menggambarkan sentimen tersebut sebagai “benar-benar tidak dapat diterima”.
Namun, dalam unggahan media sosialnya pada Minggu malam, Trump justru melampaui perang di Iran dengan mengkritik Paus Leo.
Dalam penerbangan kembali ke Washington dari Florida, Minggu malam, Trump menggunakan unggahan panjang di media sosialnya dengan mengkritik Leo dengan tajam, kemudian melanjutkan kritikannya kepada wartawan di landasan pacu. "Saya bukan penggemar Paus Leo," tulisnya.
Komentar Trump muncul setelah Leo menyatakan pada akhir pekan bahwa "khayalan kemahakuasaan" sedang memicu perang AS-Israel di Iran . Meskipun bukan hal yang aneh bagi paus dan presiden untuk memiliki pandangan yang berbeda, namun sangat jarang seorang paus mengkritik pemimpin AS, dan tanggapan pedas Trump juga sama langkanya.
"Paus Leo LEMAH dalam menangani kejahatan, dan buruk untuk kebijakan luar negeri," tulis presiden dalam unggahannya.
Jatuhkan Donald Trump
Sementara itu mantan Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA), John Brennan, telah menambahkan namanya ke dalam seruan yang semakin meningkat agar presiden Trump dicopot karena dianggap tidak layak untuk jabatan tersebut.
Brennan, yang menjabat sebagai kepala badan intelijen selama masa kepresidenan Barack Obama, mengatakan kepada MS Now, Sabtu bahwa pernyataan Trump baru-baru ini yang penuh gejolak tentang menghancurkan peradaban Iran dan bahaya yang ditimbulkannya terhadap begitu banyak nyawa layak untuk dicopot dari Gedung Putih. "Orang ini jelas tidak waras," katanya.
Brennan menambahkan bahwa Trump terlalu menjadi beban bila dibiarkan saat menjadi panglima tertinggi, karena kekuatan militer yang sangat besar berada di tangannya, termasuk persenjataan nuklir AS.
Komentar mantan direktur CIA tersebut menempatkannya di garis depan perdebatan yang semakin memanas mengenai keputusan Trump untuk berperang dengan Iran dan ancamannya yang semakin menjadi-jadi untuk menimbulkan kehancuran massal di negara itu. Pada 7 April 2026 lalu Donald Trump mengeluarkan ancama bahwa "seluruh peradaban Iran akan dimatikan malam itu" jika Iran tidak mau memenuhi ultimatumnya, sebuah ancaman yang menurut Brennan mengisyaratkan pengerahan kemampuan nuklir.
Seiring meningkatnya retorika agresif dan penuh kata-kata kasar Trump , semakin banyak Demokrat yang menanggapi dengan menyerukan agar Amandemen ke-25 diberlakukan. Ketentuan ini, yang tercantum dalam konstitusi AS pada tahun 1967, memungkinkan wakil presiden dan mayoritas kabinet untuk memberhentikan presiden dengan alasan bahwa ia "tidak mampu menjalankan kekuasaan dan tugas jabatannya".
Menurut perhitungan terbaru dari NBC News , lebih dari 70 anggota Partai Demokrat di Kongres telah menyerukan agar amandemen tersebut diterapkan.
Hanya saja kemungkinan hal itu benar-benar terjadi hampir nol, mengingat kesetiaan yang teguh dari wakil presidennya, JD Vance dengan seluruh kabinetnya kepada Trump.
Tetapi kekhawatiran tentang bahasa Trump yang semakin provokatif dan ancaman distopia, kemungkinan akan tetap ada mengingat kegagalan pembicaraan damai antara AS dan Iran pada hari Sabtu serta kemungkinan permusuhan yang kembali terjadi.
Komentar Brennan menjadi sangat mencolok mengingat ia sedang dalam penyelidikan aktif oleh departemen kehakiman AS yang saat ini berada dibawah pemerintahan Trump dan itu bagian dari balas dendam Trump terhadap musuh-musuhnya di dalam negeri. Dibawah tekanan dari Gedung Putih, Departemen Kehakiman menempatkan Brennan dan mantan direktur FBI James Comey dalam penyelidikan kriminal pada bulan Juli lalu.
Dua bulan kemudian, Comey didakwa dengan dua tuduhan yang menuduhnya berbohong kepada Kongres selama kesaksian pada tahun 2020 terkait penyelidikan campur tangan Rusia dalam pemilihan umum. Namun seorang hakim telah membatalkan dakwaan tersebut.
Sedangkan penyelidikan terhadap Brennan masih berlangsung. Pada bulan Maret, ketua komite kehakiman DPR, sekutu Trump, Jim Jordan, mengklaim penyelidikan tersebut "semakin memanas". (*)
Apa Reaksi Anda?